Omah Ketan MySharing

Omah Ketan: Andalkan Ketan dari Resep ‘Warisan’

[sc name="adsensepostbottom"]

Ada ketan durian di omah ketan. Duriannya asli dari Palembang. Setelah makan, coba wedang ronde atau jahe. Ketan modern mengevolusi kekayaan tradisi kuliner Nusantara berbasis beras.

Omah Ketan MySharingNongkrong di kedai dengan ditemani roti bakar dan secangkir roti mungkin sudah biasa bagi Anda. Tapi bagaimana dengan semangkuk ketan bubuk dan wedang ronde? Anda boleh jadi penasaran. Seperti apa rasanya?

Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, kudapan ringan seperti ketan memang tak banyak dijumpai. Bahkan boleh dikata bisa dihitung dengan jari. Kuliner tempat nongkrong banyak didominasi menu-menu cepat saji, atau kudapan-kudapan ringan yang sudah lazim dijumpai.

Sementara kudapan ketan? Di Jakarta, Anda bisa menemukan makanan ringan ini di Jalan Buaran Raya. Menu yang ada di Kedai ‘Mbok ‘Ne An Cu ini memang terasa spesial, karena mungkin masih satu-satunya yang ada di kawasan Jakarta Timur. Lokasinya cukup strategis yakni di depan Carrefour Buaran, mengambil lokasi halaman bengkel yang disulap menjadi tempat makan dan nongkrong di malam hari.

Tampilan kedai cukup menarik meskipun berdindingkan terpal dan dinding bengkel. Terdapat dua gerobak yang memisahkan pembuatan wedang ronde dan segala jenis minuman serta gerobak yang khusus untuk meracik ketan yang dinamakan gerobak Susu Tante (Susu Ketan Enak). Tempat makannya sendiri terdiri dari meja dan kursi serta lesehan yang bisa menampung hingga 100 pengunjung.

Ketan disajikan lebih variatif dengan beragam topping mulai dari yang manis berkuah hingga gurih bisa Anda pilih sehingga tampilannya lebih modern. Unsur tradisional dan unik juga terlihat dari penyajian di atas wajan surabi beralaskan daun pisang.

Bagaimana dengan Surabaya? Kini, kedai serupa bisa Anda jumpai di Jl Penjaringan Sari. Meski tempatnya tidak besar, lokasinya cukup strategis yakni ada di perempatan MERR sehingga ramai oleh lalulalang kendaraan yang melintas. Nama kedainya bukan Mbok ‘Ne An Cu, tapi ‘Omah Ketan’. Ternyata kedua kedai ini masih satu keluarga inti. Mbok ‘Ne An Cu dikelola oleh Alpha Rama Putra dan istrinya, Resti Purwita Putri. Alpha adalah putra dari pemilik kedai Omah Ketan, Prasodjo.

“Mbok Ne Ancu sebetulnya punya arti, kepanjangannya sebetulnya Mbok Ne Anak Cucu (Ibu, Anak dan Cucu), sementara Omah Ketan artinya rumah ketan,” papar Pemilik Omah Ketan, Prasodjo

Prasodjo mengaku dirinya sebetulnya tidak memiliki back ground bisnis kuliner. Sehari-hari, bapak enam anak ini sibuk mengelola showroom mobil. “Omah Ketan sebetulnya mencarikan kesibukan untuk istri saya,” ungkapnya.

Resep ‘Warisan’

Pilihan untuk membuka kedai ketan di Surabaya tentu saja melalui berbagai pertimbangan matang. Yang pasti, Prasodjo termotivasi setelah melihat kesuksesan sang anak lewat Kedai Ketan Buaran di Jakarta. Dia ingin ‘memindahkan’ kesuksesan serupa di kota Pahlawan ini.

“Saya yakin kedai ketan di Surabaya belum banyak. Boleh dikata menu ini langka. Pembelinya pun merujuk pada segmen tertentu yakni orang-orang yang sudah paruh baya,” kata Prasodjo. Dia kemudian menceritakan seorang pria paruh baya yang masuk ke kedainya.

Si pengunjung ini langsung menelepon seseorang bahwa dia sudah menemukan tempat kudapan yang dia angankan selama ini. “Ya tempat seperti ini yang saya cari, menu spesialnya ketan,” kata Prasodjo menirukan si pengunjung tadi.

Perhitungan Prasodjo memang tak salah. Meski baru buka awal tahun ini, pembeli di kedainya terus mengalir. “Setiap hari rata-rata sekitar 50 bon. Saya ngitungnya per bon bukan orang. Satu bon bisa dua orang yang beli, tapi juga bisa lebih dari empat orang. Seperti pengunjung di seberang sana, satu keluarga enam orang,” katanya sambil menunjuk meja di seberangnya yang terdiri dari satu keluarga.

“Selain itu, selama Ramadhan ini kami ada stand kuliner di tempat lain yang menyedot 100 bon lebih per harinya,” ujarnya.

Di kedai Omah Ketan ini, pengunjung mendapatkan banyak pilihan menu. Yang pasti bahan utamanya ketan dengan varian topping. Ada ketan keju kuah susu, ketan abon, ketan bubuk kedelai (ketan original), ketan durian, ketan ayam pedas, ketan pisang cokelat keju. Ada juga menu lain yang sudah umum, seperti roti bakar, pisang bakar keju cokelat.

“ Di antara menu tersebut menu andalan Omah Ketan adalah ketan ayam pedas, karena itu inovasi murni kedai kami. Namun yang paling banyak digemari adalah ketan durian dan ketan original,” jelas Prasodjo.

Pria yang juga gemar dengan kudapan ketan ini mengisahkan resep dari menu-menu ketan tersebut berasal dari ibunya. “Ibu saya yang menurunkan resep tersebut, kami tinggal mempraktikan saja,” paparnya.

Kalau ketan durian, pihaknya berani menjamin duriannya asli bukan essen. “Kami dikirim langsung dari Palembang sudah dikuliti tinggal dagingnya saja,” katanya. Sementara untuk ketan original, pengunjung banyak menyukai toppingnya. Rasa bubuk kedelainya pas, tidak terlalu manis.

Apalagi Omah Ketan tidak pelit dalam menabur toppingnya. Tampaknya, kedai ini ingin memanjakan pengunjung agar benar-benar puas ketika meninggalkan tempat tersebut.

Untuk minuman, selain wedang ronde, ada wedang jahe, oka tea (teh kayu manis), susu jahe gula merah, susu cokelat jahe, thai tea, kopi jahe susu, dan aneka minuman dingin. Harga yang ditawarkan pada menu tersebut relatif terjangkau, berada di kisaran Rp 7.000-Rp14 ribu.

Kompetitor
Omah Ketan MySharingMeski kedai serupa di Surabaya tidak banyak, bukan berarti Omah Ketan ‘nyaman’ bermain sendiri. Bagi Prasodjo, pesaing di bisnis kuliner sesungguhnya bukan menghadapi kedai yang sama-sama menjual ‘ketan’ sebagai menu unggulan, tapi justru menghadapi bisnis kuliner lain yang menyediakan menu sangat variatif. Di samping itu, munculnya kuliner-kuliner yang tengah tren di kota ‘Rujak Cingur’ ini juga merupakan lawan tangguh tersendiri.

“Dim Sum misalnya, saat ini banyak sekali penggemarnya. Nah, kuliner-kuliner yang tren semacam itu justru sangat kuat untuk disaingi,” imbuhnya.

Meski bisnis ‘ketan’ miliki keluarga mereka mulai berkibar, Prasodjo mengaku hingga kini belum berpikir untuk mewaralabakan kedai ketan milik keluarga. Memang bisnis yang diwaralabakan biasanya lebih cepat berkembang, namun mereka punya pemikiran selama bisa mengatasi maka hal itu akan ditangani oleh mereka sendiri.

Kalaupun memberi ruang pada orang luar untuk masuk, itu pun konsepnya bukan franchise melainkan ‘kemitraan’.

Prasodjo memang tak sekadar berbisnis. Dia berharap sambil mendapatkan keuntungan materi, dia dan keluarganya dapat melanggengkan menu ‘warisan’ sang ibu, kudapan ketan yang tak lekang dimakan zaman!