Melambatnya ekonomi Indonesia mengakibatkan omzet UMKM menurun 40 persen. Ini lampu kuning menuju krisis, pemerintahpun harus kerja keras membangun fondasi UMKM lebih kuat.

“Ekonomi melambat omzet UMKM turun 40 persen. Ini pekerjaan rumah kami untuk memperkokoh pelaku UMKM dalam negeri,” kata Agus kepada MySharing, di Kemenkop dan UKM di Jakarta, Senin (31/8).
Menurutnya, UMKM adalah fondasi ekonomi nasional yang harus dijaga pertumbuhannya. Jika fondasi ini gayang, maka tak bisa dihadap ekonomi Indonesia secara keseluruhan bisa ambruk. Seperti saat nilai tukar rupiah merangkak turun hingga Rp 14 ribu perdolar. “Ini dampak memburuk, pelaku UMKM mengeluh omzet turun. Biaya produksi meningkat, penyaluran pinjaman menurun, dan daya beli konsumen juga berkurang atau menurun,” ujarnya.
- CIMB Niaga Syariah Perluas Akses Layanan Perbankan Syariah di Bogor, Resmikan Digital Branch
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
Sekali pun daya saing menurun, kata Agus, namun ini tetap tantangan yang harus dihadapi pelaku UMKM. “Omzet menurun, daya saing menurun. Ini sebenarnya lampu kuning menuju krisis, meski belum terasa mendalam. Pemerintah harus kerja keras membangun fondasi UMKM lebih kuat,” tegasnya.
Menurut Agus, potensi daya saing yang paling besar ada di sektor UMKM yang mencapai 98 persen, sedangkan sisanya dipegang oleh pelaku usaha besar. Oleh karena itu, sektor UMKM harus diperkuat, guna menahan laju ekonomi yang melambat.
Lebih lanjut ia menegaskan, bahwa jangka pendek solusi masalah UMKM yang omzetnya menurun saat ini lantaran dampak ekonomi melambat adalah dengan membangun koperasi. “Kalau belum bisa menembus market dengan cara sendiri-sendiri, mari gabung di koperasi. Pelaku UMKM bisa menjual produknya lewat koperasi,” pungkasnya

