Wisata Syariah Indonesia sudah diutamakan sebagai sektor unggulan, dan semua program akan mengarah ke sana, sehingga tidak kalah dengan negara lain.

Riyanto, menilai bahwa sektor pariwisata Indonesia masih lemah pada infrastruktur wisata termasuk kemudahan visa, teknologi serta kebersihan dan keamanan.Namun demikian, tegasnya, sekarang pariwisata syariah Indonesia sudah diutamakan sebagai sektor strategis unggulan dan semua program akan mengarah ke sana. “Sektor ini akan berkembang, dan semua harus mendukung,” kata Riyanto kepada MySharing, di Jakarta belum lama ini.
Apalagi, Indonesia menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) bisa tercapai dalam lima tahun ini. Riyanto berharap, kunjungan lima hingga enam juta wisatawan Muslim dalam tiga tahun juga bisa tercapai.”Jangan konotasikan wisata syariah hanya kuburan dan masjid. Wisata syariah atau wisata halal adalah wisata biasa dengan kemudahan akses ibadah, makanan halal dan bersuci,” tegasnya
Riyanto mengungkapkan, pada 2012 wisatawan yang mencari pariwisata syariah mencapai nilai 137 juta dolar AS, dibandingkan pariwisata ke China dengan nilai 89 dolar AS.Untuk mengembangkan pariwisata syariah Indonesia, ada usulan opitmalisasi pariwisata dengan sistem Great di tiga pintu utama masuknya wisatawan mancanegara, yaitu Batam, Bali dan Jakarta. “Great Jakarta juga memasukkan Bogor, Bandung, Kepulauan Seribu, Anyer,dan wilayah lainnya. Begitu pula Bali ke Mataram dan sekitarnya,” tukasnya.
Menurutnya, potensi wisatawan Muslim lebih besar dari wisatawan China yang targetnya dua juta dan sekarang sudah mencapai 900 ribu. Sementara, potensi wisatawan Muslim sampai 1,7 juta orang yang 180 ribunya per tahun dari Timur Tengah.
Riyanto menilai bahwa sistem industri memimpin dan pemerintah mendukung adalah sudah tepat. Begitu pula dengan menjalani sertifikasi halal lebih mudah dan murah dari sertifikasi ISO. Menurutnya, kalau industri sudah melakukan ini, maka wisatawan mancanegara Muslim yang datang ke Indonesia bisa meningkat. “Wisatawan yang datang membawa keluarga dengan pengeluaran bisa mencapai 2.500 dolar AS. Sekarang ini, rata-rata wisatawan Timur Tengah menghabiskan 600 dolar AS perkapita perhari,” pungkasnya.

