Ormas Islam Berkontribusi Bangun Civil Society

[sc name="adsensepostbottom"]

Keberadaan ormas-ormas Islam dan laskarnya dapat memberikan kontribusi positif dalam pembangunan civil society atau masyarakat madani. Jika satu sama lain saling berkordinasi.

(Ki-ka) Pimpinan FPI, Sabri Lubis, Peneliti Islam dari AS Ronald Lukens Bull dan Korsatlak Banser Ansor Ifa Isnaeni. foto:MySharing.
(Ki-ka) Pimpinan FPI, Sabri Lubis, Peneliti Islam dari AS Ronald Lukens Bull dan Korsatlak Banser Ansor Ifa Isnaeni. foto:MySharing.

Demikian butir yang terungkap pada diskusi yang bertajuk “Nilai Positif Laskar-Laskar Ormas Islam” yang digelar Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Kementerian Agama dengan MUI Pusat di kantor MUI di Jalan Proklamasi No. 51 Menteng Jakarta, Kamis sore (25/6).

Diskusi diawali sambutan Ketua Komisi Dakwah MUI Cholil Nafis. Dalam sambutannya, Cholil mengatakan pada kesempatan ini kita akan mengisi tradisi komisi dakwah dalam mengupas fenomena persoalan laksar-laskar Islam yang ada di ormas Islam . Yang kita kenal menonjol di Nadhatul Ulama (NU) adalah Banser Ansor dan di Front Pembela Islam (FBI) adalah Laskar FPI.

Menurutnya, kita bisa melihat dari aspek positif dan negatifnya seperti apa laskar-laskar ormas Islam ini. Kalau kita lihat laksar-laskar itu tentu dari askad sebenarnya adalah tentaranya.”Dia menjaga, melindungi dan memperhatikan ulama. Yang biasanya serangan-serangan yang bersifat fisik yang sangat terasa. Tapi, di sisi lain, biasanya menjadi tameng pada saat melakukan nabi munkar,” kata Cholil. Jadi, lanjutnya, kalau ada pembagian tugas, kyai-kyai yang melakukan anmar maruf, tapi di sisi lain ketika perlu kekuatan maka menggunakan laskar itu sebagai nabi munkarnya.

Pada diskusi ini, Kemenang dan MUI mengundang peneliti Islam yang telah melakukan penelitian di Indonesia selama 23 tahun, yaitu Ronald Lukens Bull dari University of North Florida USA, Komandan Banser Ansor NU Ifa Isnaeni dan Pimpinan FPI) Sabri Lubis dan Ifa Isnaeni, Korsatlak Banser Ansor. Diskusi ini juga dihadiri oleh Kepala Puslit Pendidikan Agama dan Keagamaan  Hamdar Arroiyah dan ditutup oleh Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag Abd. Rahman Mas’ud.

Di satu sisi, kata Cholil, kita ingin mendengarkan orang yang melihat Indonesia khusus ormas Islam dari presfektif luar. Tapi di sisi lain, kami ingin mendengar dari FPI dan NU, bagaimana yang mereka rasakan dari dalam negari sendiri. “Tapi sekali lagi, ini bukan pertandingan. Ini silaturahim, ditempat ini bisa sambil tersenyum nanti kita berakhir dengan buka bersama,” ujarnya.

Jad, tegas Cholil, jangan sampai dikesankan bahwa ini saling menonjolkan, tidak. Di sinilah penting persepsi di dua kutub itu bersatu karena sama-sama tujuannya untuk kemaslahatan umat. Ini penting untuk perjuangan bersama.

Pada kesempatan ini, Ronald pun menuturkan, Islam di Indonesia menarik perhatian banyak pihak. Misalnya ada beberapa waktu lalu ada peristiwa penyelamatan gereja dari ancaman bom oleh teroris, yang berakibat seorang anggota Ansor NU meninggal dunia. “Ada anggota Ansor jadi korban, karena menyelamatkan gereja dari ledakan bom. Banyak yang terheran-heran kok ini bisa terjadi, inilah Indonesia,” ujar antropolog yang menulis buku Islamic Higher Education in Indonesia.

Ia menilai keberadaan ormas-ormas Islam dan laskarnya dapat memberikan kontribusi positif dalam pembangunan civil society jika satu sama lain saling koordinasi dan memperhatikan rambu-rambu relasinya dengan peran negara.

Sementara Sabri Lubis dari FPI mengungkapkan bahwa setiap aksi FPI telah memenuhi SOP FPI. Namun sempat dipertanyakan peserta kenapa aksi FPI sering terkesan mengandung kekerasan.

Menjawab pertanyaan itu, Sabri mengatakan FPI tidak bertanggungjawab atas tindakan anggota FPI yang di luar SOP. “Kami mau ibadah dengan tenang,” ujarnya. Sabri pun menambahkan pihaknya, ada kalanya harus tegas dan ini bagian terakhir, sifatnya darurat. Karena aparat kepolisian yang sudah diminta untuk bertindak tidak mengubris laporan masyarakat yang sudah resah akan masalah sosial, seperti pelacuran, premanisme dan narkoba.

Sabri juga mengungkapkan, FPI pun punya kepedulian terhadap bangsa, seperti mengatasi bencana tsunami dan gempa bumi.  “Kami selalu ambil bagian dalam berbagai hal, terjun ke lokasi bencana, menolong korban. Tapi aksi kami ini tidak disorot media, tapi Allah SWT maha melihat,” ucapnya.

Sementara itu, Ifa Isnaeni, Korsatlak Banser Ansor, mengatakan bahwa adanya banyak laskar dari ormas yang berbeda-beda tidak mungkin disatukan dalan wadah yang sama karena memiliki perbedaan misi, yang terpenting menurutnya ada dialog dan silaturrahmi agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Isnaeni juga mengharap Ronald dalam meneliti kegiatan Banser tahun 1965-1967 dilakukan dengan referensi yang akurat dan obyektif agar tidak menimbulkan pemahaman yang salah terhadap aktivitas banser kala itu. “Karena banser bukanlah pembunuh PKI, ketika tahun 1965 itu. Jadi Ronald harus meneliti secara akurat dan obyektif,” pungkasnya.