Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dan Bupati Pacitan saat meresmikan Posdaya di Kabupaten Pacitan. foto: Yayasan Damandiri

Pacitan Dimata Haryono Suyono

[sc name="adsensepostbottom"]

Sebagai putra Pacitan, Prof Dr Haryono Suyono merasa bangga dan menyambut gembira perayaan ulang tahun kota Pacitan yang ke 270 pada Kamis 19 Februari 2015 mendatang.

Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dan Bupati Pacitan saat meresmikan Posdaya di Kabupaten Pacitan. foto: Yayasan Damandiri
Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono dan Bupati Pacitan saat meresmikan Posdaya di Kabupaten Pacitan. foto: Yayasan Damandiri

Mantan Menteri Koordinator Kesejahtraan Rakyat (Menko Kesra) Prof Dr Haryono Suyono mengungkapkan, peringatan ulang tahun Pacitan tahun ini agak berbeda dibandingkan di masa lalu. Kini, masyarakatnya mulai merasakan bahwa kabupaten kecil yang biasanya agak sukar dilihat di peta ini sekarang makin terkenal. Karena selama sepuluh tahun terakhir mempunyai anak daerah yang berhasil menjadi Presiden Repubrik Indonesia, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Bahkan sebelumnya ada sederetan putra Pacitan yang sukses menjadi menteri, anggota DPR dan tidak terhitung banyak yang menjadi eselon I seperti dirjen atau dirut Perum Bulog. Ada juga yang menjadi ulama atau pemimpin informal kalangan masyarakat luas. Bahkan ada juga yang menjadi pedagang, yang biasanya mereka sangatlah tahan banting.

Putra-putri Pacitan telah menyumbangkan inovasi untuk membangun kota kelahirannya dan negeri ini. Mereka sering tidak mau tinggal di tempat kelahirannya. Mereka merantau antar kabupaten, antar provinsi dan tidak sedikit yang ke luar negeri berjuang merubah nasibnya. “Saya bangga menjadi putra Pacitan yang bisa menorehkan prestasi dan mengharumkan nama Pacitan,” kata Haryono.

Haryono pun menyampaikan, selain dirinya, banyak putra-putri Pacitan yang sanggup mengembangkan inovasi dan sering tidak mau tinggal di tempat kelahirannya. Mereka merantau antar kabupaten, antar provinsi dan tidak sedikit yang ke luar negeri berjuang merubah nasibnya.

Haryono pun menceritakan keindahan alam tanah kelahirannya. Menurutnya, Pacitan mempunyai alam yang asri, gunung, lembah dan pantai serta daratan perkotaan yang mungil padat penduduk. Selain panorama pegunungannya yang indah, banyak peninggalan dari jaman revolusi yakni ada ribuan gua yang membuat Pacitan dikenal sebagai kabupaten ”Seribu Gua”.

Pantai Pacitan juga panjang dan selalu dihiasi dengan deruan ombak yang menggelegar memecah diri dipantai berpasir putih. ”Boleh dikata masih perawan, karena tidak banyak yang memanfaatkannya untuk turis atau kegiatan lain. Kecuali para nelayan melaut dengan cara tradisional yang tidak merusak lingkungan,” ujar mantan Kepala BKKBN ini.

Menurutnya, karena pantainya jarang dijamah oleh nelayan dengan peralatan modern, maka di Pacitan bisa didapatkan beraneka jenis ikan, di antaranya ikan layur, udang dan lobster yang biasanya dijadikan sajian mahal.

Di Pacitan, santapan seperti itu bisa diperoleh dengan harga murah, sehingga seseorang yang melancong ke kota ini bisa menikmati makan hasil laut dan membayangkan dirinya serorang milioner dengan modal seadanya. ”Apalagi Pacitan sekarang telah membudidayakan udang dengan sistem Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) dengan frequensi panen yang teratur,” tukas Haryono.

Ia menegaskan, kota Pacitan ingin membudidayakan tradisi, sehingga sejak lama setiap hari jadinya seperti pada Kamis mendatang akan digelar barisan tradisional berjalan layaknya prajurit jaman kuno dari halaman DPRD kearah pendobo Kabupaten Pacitan.

Pasukan ini dilepas oleh pejabat dan diterima oleh bupati serta seluruh jajaran dalam upacara sakral sebagai pertanda peringatan Hari Ulang Tahun kabupaten Pacitan. Rakyat yang datang dari desa, pegunungan dan pantai pun berjajar sepanjang pinggir jalan meramaikan Ultah Pacitan.

Pacitan Sukses Kembangkan Posdaya

Sejak Drs H Indartato MM, menjabat bupati Pacitan. Menurut Haryono, Pacitan telah mengembangkan tidak kurang dari 2030 Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di seluruh desa dan kecamatan. Melalui Posdaya secara tahap demi tahap, keluarga prasejahtera diberdayakan mengurangi kebodohan dan kemiskinan. Keluarga yang belum tentu miskin, tetapi dengan mudah jatuh miskin itu diberikan pengertian untuk hidup gotong-royong, memelihara kesehatan dan berusaha menyekolahkan anak-anaknya. “Sejarah membuktikan bahwa dengan anak-anak sekolah, ada yang menjadi menteri dan presiden,” ujarnya.

Keluarga miskin ini, lanjutnya, diajak bekerja cerdas dan keras. Ada yang dilatih mengolah ikan, menanam rumput laut, membuat tambak udang, membangun jamban keluarga atau berani mengambil kredit lunak untuk mengolah bahan baku yang melimpah di desanya menjadi bahan olahan laku jual dan menguntungkan.

Haryono menuturkan, pada ulang tahun Pacitan kali ini, anak muda bersama mantan pegawai negeri yang bergabung dalam Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) mengajak semua rakyat Pacitan untuk menggelar Senam Posdaya Indonesia berbasis Senam Tera. Senam ini dipandu oleh instruktur dari Senam Tera Indonesia (STI). “Senam Posdaya Indonesia ini akan diikuti oleh ribuan peserta baik anak muda, lansia dan keluarga. Senan ini juga akan mencatat rekor Muri untuk tahun 2015. Dirgahayu Ulang Tahun Pacitan semakin sejahtera dan ceria,” pungkas Haryono.