Industri asuransi syariah global dinilai masih berada di bawah bayang-bayang industri perbankan syariah.

Dilansir dari Gulf Times, Jumat (15/1), pasar utama industri asuransi syariah global tetap berada di negara-negara Dewan Kerjasama Teluk dan negara mayoritas muslim di Asia Tenggara. Negara-negara di Teluk telah menjadi lahan suur bagi perusahaan asuransi syariah, dengan pertumbuhan dobel digit dalam satu dekade terakhir. Pada 2014, kontribusi bruto asuransi syariah di Teluk mencapai lebih dari 8,9 miliar dolar AS.
Sementara, Asia Tenggara menjadi pasar kedua terbesar asuransi syariah global. Dalam laporan yang disusun Malaysia International Islamic Financial Centre (MIFC), pangsa pasarnya mencapai 30 persen dengan kontribusi bruto diperkirakan sebesar 4,2 miliar dolar AS. Lebih dari 90 persen pasar asuransi syariah berada di Malaysia dan Indonesia. Baca: Mengenal Reasuransi Syariah
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Pasar potensial asuransi syariah global lainnya berada di Afrika dan Eropa. Di benua Afrika terutama di negara-negara Afrika Utara seperti Sudan, Kenya dan Nigeria. Sementara, di Eropa pasarnya berada negara dengan populasi Muslim terbesar seperti di Inggris, Prancis dan Jerman.
Kendati pasar asuransi syariah global punya potensi untuk berkembang, MIFC menilai masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Diantaranya rendahnya penetrasi asuransi syariah, minimnya sumber daya manusia, kapabilitas teknologi yang tak memadai, tak efektifnya tata kelola, dan kurangnya inovasi model bisnis untuk menangkap pasar baru.
[bctt tweet=”Di Eropa pasar #AsuransiSyariah ada di Inggris, Prancis, dan Jerman”]

