Gaya hidup sehat dan ramah lingkungan, mengayomi nilai nilai kekeluarga dan juga spiritualitas, serta keseimbangan antara kehidupan dengan pekerjaan, beberapa elemen hidup tersebut, saat ini menjadi tren kehidupan sosial di berbagai dunia. Tren kehidupan sosial yang berlaku di berbagai belahan dunia tersebut, saat ini coba diakomodir oleh para pebisnis dari berbagai Negara, agar bisnis mereka bisa terus eksis dan mendapatkan tempat di masyarakat, serta tidak punah dimakan jaman. Namun demikian, tren baru kehidupan sosial masyarakat dunia di atas, ternyata sudah diadobsi secara alamiah oleh pariwisata syariah, suatu bisnis yang saat ini mulai marak diperkenalkan kepada khalayak masyarakat luas di tanah air.

“Tren masyarakat dunia di era sekarang mengarah pada pola healthy lifestyle, environmental friendly, family values, spirituality, dan work life balance. Semua itu in line dengan konsep ‘Rahmatan lil ‘alamin. Sehingga pariwisata syariah dengan konsepnya yang mengusung ‘yang halal dan baik’, sangat cocok dengan global tren tersebut. Apalagi tren kaum muda Muslim di dunia pada saat ini lebih terbuka terhadap terknologi, dan perkembangan lifestyle, namun juga masih tetap berpegang pada aturan agama, ” demikian papar Riyanto pada mysharing akhir pekan lalu di Jakarta.
Meskipun berprospek bagus, dan sudah sesuai dengan tren masyarakat global, namun Riyanto mengakui, untuk bisa memajukan bisnis pariwisata syariah ditanah air, perlu mengedepankan dua paradigma, yaitu mengakomodir dengan baik tren masyarakat dunia di atas didalam menyosialisasikan pariwisata syariah, selain itu juga, kita harus mengikuti perkembangan ekonomi dunia.
Intinya menurut Riyanto, didalam mengembangkan pariwisata syariah di berbagai daerah di tanah air, kita harus bisa mengapilikasikan komponen-komponen pariwisata syariah yang sesuai dengan tren masyarakat dunia pada saat ini yang mengusung kehidupan yang sehat, ramah lingkungan, nilai-nilai kekeluargaan, dan juga kehidupan serta pekerjaan yang seimbang. Selain itu, kita juga harus jeli didalam melihat peluang dalam pertumbuhan ekonomi dunia, antara lain, dengan memanfaatkan potensi ekonomi warga Muslim dunia yang memang cukup pesat perkembangannya dalam beberapa tahun terakhir ini
“Melihat demografi masyarakat dunia saat ini, sekitar 56% warga Muslim berada dalam masa produktif. Dan mereka telah mengubah kebiasaan dari muslim tradisional, menjadi muslim yang lebih modern yang mau mengakomodir teknologi terbaru, juga mengikuti gaya hidup yang menjadi tren, namun demikian masih berpegang pada aturan agama,” jelas Riyanto lagi.
Riyanto menambahkan, saat ini potensi ekonomi Muslim dunia cukup besar, karena GDP Negara-negara Islam yang tergabung dalam organisasi OKI tercatat hingga USD 9,6 triliun, atau masih sedikit di bawah pendapatan Amerika Serikat USD 16 triliun, dan di atas Cina yang hanya USD 8,5 triliun. “Pertumbuhan ekonomi Negara-negara OKI itu juga jauh lebih tinggi yaitu 6,3 persen dibanding negara lain yang hanya 5,3 persen,” ujar Riyanto.
Sehingga dengan kondisi tersebut, menurut Riyanto, perkembangan pariwisata syariah baik di ranah global maupun di tanah air untuk masa ke depannya diperkirakan akan semakin bagus dan bertumbuh dengan semakin pesat. Dan Indonesia diharapkan bisa jeli mengambil peluang tersebut, sehingga industri pariwisata syariah di tanah air bisa menjadi salah satu kiblat pariwisata syariah dunia, khususnya untuk Negara-negara di kawasan benua Asia. Demikian Riyanto Sofyan. *

