Forum Lingkar Pena (FLP) adalah salah satu fenomena dalam perkembangan literasi di Indonesia. Didirikan pada 1997 oleh Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Muthmainnah serta beberapa temannya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia saat mereka bertemu di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Universitas Indonesia. Pertemuan membahas tentang minat membaca dan menulis di kalangan para remaja Indonesia dan kesadaran betapa efektifnya menyampaikan gagasan melalui tulisan. Akhirnya peserta rapat bersepakat membentuk organisasi penulis pada 22 Februari 1997 bernama Forum Lingkar Pena yang saat itu sebagai badan otonom Yayasan Prima. Saat Helvy Tiana Rosa terpilih sebagai Ketua Umum, anggotanya tak lebih dari 30 orang. Selanjutnya, pada 1998, berdiri FLP Wilayah Kalimantan Timur yang berpusat di Bontang serta cabangnya di Samarinda, Balikpapan, Tenggarong dan Sangata, dan pada tahun 1999 banyak permintaan dari daerah untuk membentuk kepengurusan FLP di tiap propinsi. Setelah kepengurusan Helvy Tiana Rosa (1997-2005), FLP Pusat dipimpin oleh M. Irfan Hidayatullah (2005-2009), Setiawati Intan Savitri (2009-2013), dan Sinta Yudisia (2013-2017).
Dalam waktu yang relatif singkat, FLP memiliki cabang di hampir 30 propinsi dan di mancanegara dan telah beranggotakan sekitar 5000 orang dengan hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 500 diantaranya menulis secara aktif di berbagai media dan 500 orang ini berusaha membina 4500 anggota FLP lainnya untuk menjadi penulis pula. Hingga 2011 (14 tahun kelahirannya), diperkirakan anggota FLP di seluruh dunia, telah mencapai 10.000 anggota, karena tiap wilayah senantiasa mengadakan perekrutan calon penulis baru yang intensif
Visi dan Misi FLP adalah “menjadi sebuah organisasi yang memberikan pencerahan melalui tulisan.” (Pasal 4 AD/ART FLP tentang “Visi dan Misi FLP”). Dalam AD/ART dijelaskan bahwa FLP sebagai sebuah wadah kepenulisan berperan untuk mencerahkan masyarakat dengan tulisan. Sedangkan, misi FLP dalam keputusan yang dihasilkan pada Musyawarah Nasional (Munas) I di Jogja, adalah: (1) Meningkatkan mutu dan produktivitas karya anggota sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat; (2) Membangun jaringan penulis yang menghasilkan karya-karya berkualitas dan mencerdaskan; (3) Meningkatkan budaya membaca dan menulis di kalangan masyarakat, dan (4) Memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi penulis
Yanuardi Syukur sendiri dalam Forum Lingkar Pena (FLP), ia pernah menjabat sebagai Koordinator Divisi Penulisan dan Penerbitan FLP Makassar (2003), Ketua FLP Sulawesi Selatan (2004-2006), Ketua FLP Malut (2007-2013), Koordinator Fundraising FLP Pusat (2008) dan Divisi Advokasi dan Divisi Karya FLP Pusat (2013-2017).
- “D-8 Halal Expo Indonesia 2026”, Tegaskan Komitmen Indonesia dalam Mendorong Ekonomi Halal
- BSI Catat Penjualan Emas Tembus 2 Ton, Nasabah Nikmati Kenaikan Harga
- Musim Dingin di Palestina, BMM Kirim Relawan Untuk Distribusi Bantuan Kemanusiaan
- CIMB Niaga Luncurkan CIMB Private Wealth, Standar Baru Pengelolaan Kekayaan Nasabah HNWI
Pria yang kesehariannya sebagai Dosen Antropologi Universitas Khairun Ternate saat ini juga sedang menempuh pendidikan Doktoral di Univesitas Indonesia Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Mengenai pengalaman organisasi, Yanuardi Syukur sudah begitu banyak bergelut dalam berbagai organisasi baik organisasi semasa mahasiswa hingga kini, semasa mahasiswa beliau pernah aktif sebagai sebagai Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Komisariat Unhas (2003), Koordinator Departemen Kastrat KAMMI Sulsel (2003-2004).
Beliau juga telah mendapat berbagai penghargaan diantaranya Pena Award (Buku “Terapi Kejujuran”) dari FLP di Bali tahun 2013, Penulis Produktif, Lepkhair Universitas Khairun Ternate tahun 2013, Nominator Penulis Terpuji FLP tahun 2013 di Bali dan lainnya.
Bersamaan dengan acara Talkshow dan Diskusi Buku “Hidup Damai di Negeri Multikultur” yang diselenggarakan oleh universitas paramadina pada hari ini beliau memberikan pelatihan menulis produktif di ruang A1-10 pada pukul 09.30-12.00.
Beliau menuturkan Setiap manusia pasti pernah merasakan kebosanan dalam beraktivitas. Salah satunya adalah bosan menulis. Awalnya, menulis terasa sangat indah, menguntungkan, serta membahagiakan. Akan tetapi, seriring berjalannya waktu, di waktu yang lain, menulis menjadi aktivitas yang membosankan.
Secara pribadi, saya sering mengalami hal seperti itu. Bukan satu kali saya mengalaminya, laptop sudah dibuka, internet sudah tersambung, tetapi tidak ada satupun paragraf yang ditulis. Walhasil, tulisan yang direncanakan tak kunjung jadi. dikarenakan aktifitas seharusnya menulis tergantikan menjadi bermain facebook dan menonton Youtube.
di saat rasa bosan menulis datang, beliau berkata sebagai penulis beliau memiliki trik untuk melepaskan diri dari rasa bosan saya. Inilah beberapa hal yang saya lakukan untuk menepis kebosanan.
1. Pertama, berjalan-jalan ke tempat yang baru.
Salah satu contohnya Saat ini sebenarnya saya sedang bosan menulis, tetapi ketika berjalan-jalan ke UI Depok, saya menyempatkan berkunjung ke salah satu perpustakaan yang belum pernah saya masuki. Warna kursinya yang begitu terang, AC yang cukup dingin, dan bersih membuat saya sedikit terbantu untuk mulai menulis kembali.
Jadi, trik berjalan-jalan ke tempat baru ini, bagi saya memiliki daya magis yang dapat membangkitkan semangat.
Namun trik tersebut tidak akan berjalan dengan lancar apabila di aplikasikan untuk penulis puisi, Mereka memerlukan keheningan tertentu, atau perlu alam terbuka untuk menerawang apa yang ada di balik awan tersebut, kemudian menuliskannya dalam bebait puisi. Atau, penulis cerpen, novel, dan seterusnya mungkin juga punya cara-cara yang berbeda dalam mengatasi rasa bosan dalam menulis.
2. Berkompromi dengan diri sendiri
Setiap diri kita pasti memiliki banyak rencana dalam satu hari. Bisa berbentuk pekerjaan kantor, tugas kuliah, atau tugas-tugas lainnya yang begitu menguras tenaga. Banyak yang tidak sempat menulis alasannya seperti itu: “terlalu sibuk”, “pulang terlalu malam”, “tidak ada waktu” dan seterusnya. Padahal, jika mau diseriusi, tiap kita pasti bisa menulis bahkan saat kita sedang tidak mood.
Ketika sedang banyak urusan dan saya ingin menulis, maka yang perlu saya lakukan adalah menunda sementara pekerjaan lain yang bisa ditunda, untuk memulai tulisan tentang apa saja yang saya senangi. Jika kita menulis sesuatu yang kita senangi, biasanya segalanya akan berjalan lebih cepat dan lebih lancar mengalir.
Tidak ada beban. Tidak ada rasa berat. Semuanya terasa menyenangkan.
3. Mencoba melihat sesuatu dengan tidak mainstream.
Banyak motivator memotivasi kita agar dalam menulis kita jangan menulis yang biasa-biasa saja. Kita pun diminta menangkap hal-hal unik dari sebuah peristiwa yang tampak sepele tapi bisa dijabarkan secara elegan.
Yang paling mudah adalah kata ‘pintu’. Ketika melihat pintu, umumnya orang berpikir bahwa pintu itu bentuknya persegi panjang, tempat masuk/keluar, ada gagangnya, dst. Di sela-sela diskusi informal di Benteng Fort Rotterdam, Makassar beberapa waktu lalu, beberapa orang menjawab seperti itu. Pintu dilihat sebagai benda yang sangat biasa.
Padahal, pintu bisa ditafsirkan lebih dalam lagi. Pintu bisa diartikan gerbang, sebuah gerbang menuju keabadian. Siapa yang ingin menuju surga, maka ia harus rela memasuki sebuah pintu yang bernama kematian. Kendati kematian adalah tema yang sangat berat untuk dibahas, akan tetapi kematian adalah pintu yang sesungguhnya sebelum memasuki dunia kubur.
Ketika kita bosan, cobalah kita melihat dunia ini dengan kacamata yang berbeda. Lihatlah orang-orang yang tidak berdaya di pinggir jalan, peminta-minta, orang yang kakinya rusak, orang yang memiliki kecacatan dalam tubuhnya. Kita melihat itu dengan kacamata kesyukuran. Ah, walaupun saya banyak beban, tapi saya yakin Allah pasti punya rencana untuk saya.
Lihatlah segalanya dengan pendekatan positif, dengan tidak menghakimi orang lain, tidak menyebarkan berita bohong, hoax, dan mendekati manusia dengan rasa kasih dan rasa sayang.
Soal menulis adalah soal kemanusiaan. Kita tidak akan bisa menulis dengan baik jika tak ada rasa kemanusiaan. Tulisan yang baik adalah yang menjaga, merawat, dan memperbaiki, bukan melalaikan, menghancurkan, dan merusak.
Mari kita coba menulis, terus menulis. Lawan kebosanan dengan pergi berjalan-jalan, menguasai diri sendiri, dan lihatlah sesuatu dengan kacamata yang berbeda. Untuk dapat menjadi seorang penulis yang produktif dan memberikan manfaat kepada khalayak orang banyak disekitar kita baik itu motivasi yang terbangun disaat mereka membaca tulisan kita, terungkapkan keinginan mencapai cita-cita mereka disaat setelah membaca tulisan para tokoh nasional yang memiliki cita cita membangun negeri kita dalam hal ini saya dapat mencontohkan karya tulis beliau yaitu Anies Baswedan Mendidik Indonesia.
Buku ini adalah tentang biografi Anies Baswedan sebagai intelektual muda yang diakui dunia. Penulis mengajak kita untuk memahami lebih dalam bagaimana sosok seorang Anies Baswedan dan pemikiran-pemikirannya. Gaya tulisan yang padat dan berisi membuat kita mudah memahami isi buku tersebut. Tak lupa juga penulis memasukkan tulisan-tulisan Anies yang telah banyak dimuat di media massa yang membuat para pembaca seolah dekat dan sedang berbincang dengan tokoh tersebut.
Salah satu isi buku yang membuat saya tertarik adalah ketika dijelaskan tentang pemerintah Indonesia yang terus mengupayakan pendidikan menjadi lebih baik namun kenyataannya guru belum disejahterakan. Pemerintah juga lupa kalau keluarga adalah kunci dari suksesnya pendidikan Indonesia. Untuk itu, orangtua dan keluarga-lah yang sepatutnya mendapatkan pendidikan karakter.
semoga sedikit ilmu yang saya peroleh ini dari pelatihan mas Yanuardi Syukur ini dapat memberikan manfaat kepada rekan – rekan pembaca my sharing sekian dari saya wassalamualaikum wr wb.


