Pemerintah Siapkan Tenaga Kerja Dari Para Santri

[sc name="adsensepostbottom"]

Pemerintah Kementerian Agama dengan Badan Koodinasi Penanaman Modal (BKPM) menandatangani nota kesepahaman kerjasama pada bidang sektor industri untuk memfasilitasi ketersediaan tenaga terampil dari kalangan pesantren dan lembaga pendidikan Islam di bawah naungan Kemenag.

santriKerjasama dilakukan untuk memenuhi kebutuhan industri seiring masuknya investasi di Indonesia khususnya di wilayah Gresik. Kesepakatan ini tertuang dalam nota kesepahaman kerjasama Kemenag dengan BKPM yang dilakukan di Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bunga, Gresik, Jawa Timur, Minggu (23/8). Penandatangan nota kesepahaman ini langsung disaksikan Menteri Perekonomian Darmin Nasution.

Dalam sambutannya, Menag menyampaikan sangat bersyukur adanya kerjasama ini, setidaknya akan terbangun keselerasan dengan pembangunan industri. Dengan demikian, lanjut Menag, peningkatan kapasitas lulusan madrasah bisa meningkat dan selaras dengan tuntutan industri, apalagi memasuki Masyarakat Ekonomi Asia (MEA).

“Kerjasama ini wujud upaya bersama atas terbangunnya pendidikan agama Islam oleh madrasah dan Pondok Pesantren dan kebutuhan dunia industri, ini juga agar terjadi peningkatan kapasitas ponpes selaras dengan peruntukan kebutuhan industri yang tidak terelakkan apalagi memasuki MEA,” terang Menag seperti diinformasikan pada laman kemenag.go.id.

Dikatakan Menag, kerjasama ini juga menjadi upaya agar kesalahpahaman yang selama ini terjadi di beberapa tempat bahwa industrialisasi bisa mengancam, dunia pesanstren memahami ini untuk kebutuhan hakekat bersama. “Oleh karenanya, Kemenag membuka pintu sebesar-besarnya dalam dunia kerja. Bahkan, ini dapat menyerap tenaga kerja yang punya pemahaman agama baik,” ujarnya.

Selain itu, disampaikan Menag, bahwa penandatanganan MoU ini sesungguhnya bagian dari proses perwujudan nawacita, setidaknya ada 2 poin yang ingin dilaksanakan. Pertama, upaya untuk meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan, bagaimana peningkatan produktifitas dan daya saing terus dikembangkan. Kedua, revolusi mental, kerjasama ini ada keselarasan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia industri, harapannya terjadi revolusi mental secara umum. “Ini kerjasama semua pihak”, tandas Menag.

Ketua BKPM, Frenky Sibarani menyampaikan bahwa investasi yang masuk adalah untuk rakyat Indonesia. Frenky juga melihat sudah banyak program yang dihasilkan Ponpes di bawah binaan Kemenag, semisal sudah banyak menghasilkan tenaga kerja yang luar biasa. Seperti halnya alumni Ponpes Qomaruddin, lulusannya bisa menjangkau luar negeri.

“Kami juga mendapatkan informasi bahwa Ponpes juga menyediakan SMK mini, lulusannya siap masuk di era industri”, ujar Frenky. Dengan demikian, BKPM tidak merasa ragu bahwa kerjasama BKPM dan Kemenag ini akan memberi kemanfaatan bagi rakyat Indonesia khususnya bagi santri pondok pesantren.

Terkait dengan kerjasama ini, Menteri Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan bahwa kerjasama ini kiranya berjalan dengan lancar. Bagi Darmin, MoU ini tidak terlalu susah, namun pelaksanaannya yang susah. Sebab, negara semakin lama menyadari, kerjasama dengan negara lain terkait pemenuhan tenaga kerja di negara tujuan, namun dengan tenaga kerja Indonesia yang tidak terampil maka bisa tersisih negara lain.

Tapi di pihak lain, tenaga terampil Indonesia bisa bekerja di luar negeri semisal di Malaysia, Sigapura dan negara tujuan lainnya jika memenuhi persyaratan khususnya melalui pendidikan dan pelatihan.“Rakyat adalah bagian dari pembangunan,” ujar Darmin.

Pada waktu yang sama, pimpinan ponpes Qomaruddin M Nawawi Sholeh akan terus bertekad membina siswa yang berakhlakul karimah dan tentunya dibutuhkan masyarakat. Bukan saja siswa atau santri yang pintar, tapi benar, berakhlakul karimah, istiqomah, terampil dan mampu menciptakan kreasi-kreasi baru.“Perkembangan sain, teknologi, industri membutuhkan kemampuan yang tinggi, namun dibutuhkan juga ilmu agama, iman, dan penguasaan teknologi,” katanya.