Agar hasil wakaf produktif optimal, maka diperlukan sinergi dari sejumlah pihak.

“Katakan aset tanah itu harus dikembangkan dengan pendekatan bisnis, maka yang ingin mengembangkan tanah harus punya kompetensi di bisnis properti kalau di perkotaan, kalau perkebunan butuh kompetensi perkebunan. Begitu pula jika di wilayah pertambangan,” ujarnya.
Pada kesempatan terpisah, Staf Ahli Menteri Bappenas Pungky Suwadi menuturkan, agar di masa mendatang potensi yang ada bisa dioptimalkan, maka para pemangku kepentingan harus bekerja lebih keras. Ia menekankan terutama pihak swasta untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam menjalankan proyek dan program pembangunan berkelanjutan.
- CIMB Niaga Business Summit 2026 Usung Vision Made Possible Dukung Perusahaan Indonesia Tumbuh Berkelanjutan
- Prudential Syariah Luncurkan Asuransi Jiwa PRUCare 360 Syariah
- Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak Signifikan, Tembus Rp1,9 Triliun
- BSI Perkuat Ekosistem Wakaf Produktif, Dorong Potensi Rp180 Triliun Jadi Kekuatan Ekonomi Umat
“Contohnya ada gedung di Jalan Gatot Subroto yang dibangun di atas tanah wakaf. Pengembang mencoba mengelola lahannya dan valuenya jadi naik 10 kali lipat. Jadi jika pemerintah bekerja sama pula dengan BWI dengan lebih profesional dan membuat target seperti itu, maka kita akan lihat cara tepat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” papar Pungky.
[bctt tweet=”Ada gedung di Jalan Gatot Subroto yang dibangun di atas tanah wakaf loh” username=”my_sharing”]
Berdasar data konsolidasi Kementerian Agama pada 2014, terdapat 4,1 miliar meter persegi tanah wakaf di Indonesia. Jika harga tanah wakaf tersebut Rp 500 ribu per meter persegi, maka nilai tanah wakaf di Indonesia mencapai Rp 2.050 triliun. Lebih dari 90 persen peruntukan tanah wakaf tersebut adalah pendidikan, pemakaman, dan masjid.

