Pengembangan Wakaf Butuh Sinergi Kompetensi

[sc name="adsensepostbottom"]

Agar hasil wakaf produktif optimal, maka diperlukan sinergi dari sejumlah pihak.

ekonomiwakaf1-300x225Dalam mengelola aset wakaf diperlukan keterampilan agar hasil wakaf maksimal. Nazhir pun didorong untuk bekerja sama dengan pihak-pihak yang memiliki kompetensi. Ketua Divisi Pengelolaan dan Pemberdayaan Wakaf Badan Wakaf Indonesia (BWI) Jurist E Robbyantoro menuturkan, dalam pengelolaan wakaf produktif diperlukan sinergi antarkompetensi.

“Katakan aset tanah itu harus dikembangkan dengan pendekatan bisnis, maka yang ingin mengembangkan tanah harus punya kompetensi di bisnis properti kalau di perkotaan, kalau perkebunan butuh kompetensi perkebunan. Begitu pula jika di wilayah pertambangan,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, Staf Ahli Menteri Bappenas Pungky Suwadi menuturkan, agar di masa mendatang potensi yang ada bisa dioptimalkan, maka para pemangku kepentingan harus bekerja lebih keras. Ia menekankan terutama pihak swasta untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam menjalankan proyek dan program pembangunan berkelanjutan.

“Contohnya ada gedung di Jalan Gatot Subroto yang dibangun di atas tanah wakaf. Pengembang mencoba mengelola lahannya dan valuenya jadi naik 10 kali lipat. Jadi jika pemerintah bekerja sama pula dengan BWI dengan lebih profesional dan membuat target seperti itu, maka kita akan lihat cara tepat untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” papar Pungky.

[bctt tweet=”Ada gedung di Jalan Gatot Subroto yang dibangun di atas tanah wakaf loh” username=”my_sharing”]

Berdasar data konsolidasi Kementerian Agama pada 2014, terdapat 4,1 miliar meter persegi tanah wakaf di Indonesia. Jika harga tanah wakaf tersebut Rp 500 ribu per meter persegi, maka nilai tanah wakaf di Indonesia mencapai Rp 2.050 triliun. Lebih dari 90 persen peruntukan tanah wakaf tersebut adalah pendidikan, pemakaman, dan masjid.