Pada hakikatnya internet merupakan mimbar bebas yang telah mengubah cara hidup dan sudut pandang terhadap nilai-nilai agama. Oleh karena itu, perlu sikap arif dalam mencari informasi keagamaan di internet.

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan untuk menyebarkan informasi damai, para aktivis media sosial harus mengubah cara pandang, dari melawan tindakan radikal melalui informasi ke pendekatan merangkul mereka dengan informasi yang baik dan benar.
“Internet bisa menjadi berkah, tetapi berisiko pula menjadi bencana. Sebab itu, kita yang mewarisi kearifan luhur dari guru dan orang tua sangatlah penting dalam menghadapi radikalisme di dunia maya,” kata Lukman dalam sambutan dalam workshop bertajuk “Pitch for Peace” yang diselenggarakan The Wahid Institute dan Google Indonesia di Hotel Fairmont Jakarta, Selasa (1/9).
Lukman menjelaskan, pada hakikatnya, internet merupakan mimbar bebas,sehingga kita harus cermat melihat wajah agama di dalam media dalam jaringan ( daring). Menurutnya, dulu nilai-nilai hidup bermasyarakat dan beragama diturunkan melalui orangtu dan guru. Mereka bisa memilih dan memilah topik-topik sesuai dengan usia dan daya tangkap anak. Disamping itu, terjadi pula diskusi dalam hal mendalami konteks topik yang disampaikan.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Kini, tegas Lukman, melalui internet kita bisa mengakses berbagai informasi tentang agama. Akan tetapi rujukan bahkan otoritas sumber informasi tersebut tidak diketahui. Lebih penting lagi, ruang untuk diskusi dan berdiskursus menjadi langka. “Agama bebas diproduksi dan dikonsumsi tanpa ada medium untuk menyaring dan menjelaskan konteks daripada konsep-konsep tersebut,” tukas Lukman.
Lebih lanjut Lukman menuturkan, bahwa Data Asosiasi Penyelenggaraan Jasa Internet Indonesia tahun 2014 menyebutkan terdapat 88 juta pengguna internet, 40 juta diantaranya pengguna aktif. Menurutnya, internet sangat siginifikan dalam perolehan informasi dan pembentukan peradaban modern.
Karena itu, tegas Lukman, diperlukan penyamaan persepsi yaitu kebutuhan atas informasi yang menjelaskan dan menyejukkan di internet. Caranya dengan mengajak para pembuat konten internet untuk menyebarkan pesan-pesan yang bersifat persatuan bukan diskriminatif. “Pada dasarnya, kita tidak dituntut untuk menyeragamkan semua. Yang harus kita lakukan adalah menyikapi keberagamaan dengan kearifan,” kata Lukman.
Lukman pun menegaskan, bahwa google juga harus mempunyai kebijakan terkait konten-konten keras dan tidak mendidik dalam medin pencariannya. “Kebaikan atau kebajikan Google sangat membantu kita dalam mencari sesuatu, tetapi mestinya hal ini diimbangi dengan kebijakan yang serius terkait konten-konten radikal dengan tidak menampilkan konten tersebut di urutan paling atas, misalnya,” tandas Lukman.

