Pakar teknologi internet, John Mc Affe, menyebutkan, bahwa perang cyber antara Barat dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) akan lebih dahsyat daripada perang nuklir.

Menurutnya, senjata konvensional seperti peluru dan bom tidak akan ada gunanya dalam konflik di masa depan. ”Mereka (ISIS) jauh lebih pintar dalam ilmu dunia maya dari yang kita nilai sebelumnya,” kata kandidat calon presiden (Capres) Amerika Serikat (AS), seperti dilansir dari Russia Today, Jumat (18/12).
Mc Affe menuturkan, kultus pembunuhan memiliki akses ke aplikasi smartphone yang disebut Amaq. Aplikasi itu memfasilitasi terorisme melalui serangan ”denial-of-service” di internet. Dia pun percaya bahwa aplikasi ini mencoba untuk menurunkan root server internet pekan lalu. Menurutnya, serangan besar-besaran ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan dilihat.
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
“Kami mempersiapkan diri, karena perang berkutnya bukan peran dengan bom, kapal perang dan pesawat tempur. Ini akan menjadi perang cyber, lebih dahsyat daripada perang nuklir,” ungkap Mc Affe. Dia juga memperingatkan bahwa ISIS dapat memenangkan perang cyber, karena Barat sangat tidak siap untuk konflik online.

