Sekalipun kenaikan BBM dan BI Rate berdampak pada terpuruknya properti di Indonesia. Namun, perbankan syariah masih unggul dalam pemasaran apartemen sekunder.

Namun demikian lanjutnya,dengan berbagai intensif serta kebutuhan yang ada, penjualan apartemen tidak terpengaruh dampak BBM. Khususnya apartemen di pasar sekunder masih menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan pasar primer. “ Dalam pemasaran apartemen sekunder, perbankan syariah masih unggul dibandingkan perbankan konvensional,” kata Adiwarman.
Sebaliknya, kata adiwarman, bank konvensional lebih unggul dalam pemasaran apartemen primer karena memiliki kerjasama dengan development (pengembang), sehingga pembiayaannya tidak berisiko. Sedangkan bank syariah tidak memiliki kerjasama dengan pengembang, sehingga sulit dalam pemasarkan produk ini. “Sangat berisiko kalau bank syariah memasarkan apartemen primer karena pembiayaanya terlalu tinggi,” ujarnya.
Kendati begitu, tambahnya, jumlah pasokan apartemen kelas menengah di pasar primer memperlihatkan pertumbuhan yang cukup bagus, khususnya di daerah penyangga seperti Bekasi dan Serpong.
Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, kenaikan BBM yang dibarengi naikknya BI Rate akan memperlambat properti turun tajam, yang terindikasi dari telah terjadinya penurunan lebih dari 69 persen pada kuartal III 2014 dibandingkan kuartal III 2013. IPW juga memperkirakan bahwa dengan perkiraan setiap kenaikan 1 persen suku bunga menurunkan daya beli 4-5 persen.”Multiplier effect dari BBM diperkirakan penurunan daya beli minimal 40 persen,” kata Ali. Baca juga: Harga BBM Dongkrak Inflasi Hingga 7,5%
Kondisi ini, tegasnya, akan memberikan efek mulai awal tahun depan sehingga pada tahun 2015 diperkirakan akan menjadi titik terendah pasar properti. Pengembang disarankan dapat lebih waspada melakukan ekspansi baik itu untuk segmen kelas menengah atau atas. Terpenting lagi insentif metode pembayaran yang diberlakukan oleh pengembang cukup efektif dalam memacu penjualan.

