Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai perbedaan perayaan Idul Adha adalah hal wajar dan umat Muslim harus legowo. Apalagi perbedaan itu sudah ada fatwa hisab-nya.

Menanggapi perbedaan tersebut, Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin menilai perbedaan waktu perayaan dua hari besar umat Islam yaitu Idul Fitri dan Idul Adha adalah hal yang wajar.
Karena menurutnya, hingga saat ini umat Islam di Indonesia belum mempunyai kalender bersama. Selain itu, setiap ormas Islam seperti Nahdalatul Ulama (NU), Muhammadiyah maupun ormas Islam lainnya mempunyai cara yang berbeda dalam menentukan waktu perayaan hari besar tersebut.
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
- Prudential Syariah Luncurkan PRUHeritage Syariah Essential Plan USD, Nilai Proteksi Meningkat hingga 150%
Ketua Umum MUI KH. Ma’ruf Amin mengharapkan agar masyarakat menghargai ketidaksamaan perayaan Idul Adha antara pemerintah dengan ormas Islam dalam hal ini Muhammadiyah.
“MUI sudah sepakat dan mencari kesamaan, tapi kalau itu misalnya tidak sama. Ya kita sudah punya komitmen saling pengertian dan legowo. Apalagi dalam sidang isbat telah ditetapkan Idul Adha pada 24 September 2015. Ya harus lebih legowo dan toleransi,” kata Ma’ruf. Baca: Persatukan Kalender Hijriyah Tidak Boleh Ada Ego Kelompok.
Sementara itu, anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Khuzaenah T Yanggo mengungkapkan, penentuan 1 Dzulhijjah yang jatuh pada tanggal 15 September sudah berdasarkan Fatwa MUI.
Ia menjelaskan, berdasarkan fatwa Mui No. 2 Tahun 2004 bahwa awal Ramadhan , awal Syawal dan awal Dzulhijjah mengikuti proses hisab dan rukyat yang dilakukan pemerintah. Dari hasil hisab yang dilakukan hari ini, semuanya tidak ada yang melihat hilal. ”Dari hasil rukyat yang dilakukan dan saya ikuti. Tidak ada sama sekali yang melihat hilal. Artinya itu sudah jelas,” kata Khuzaenah.
Terkait soal perbedaan dengan Arab Saudi, dia menegaskan bahwa Indonesia hanya melihat kapan 1 Dzulhijjah itu datang. ”Kalau perbedaan dengan Arab Saudi, kita ini kan nggak lihat Arafah-nya. Tanggal 23 itu kan wukuf Arafah-nya. Kita itu melihat kapan 1 Dzulhijjah,” imbuhnya. Baca: Pemerintah Tetapkan Idul Adha pada 24 September 2015.
Seperti dikutip dari lama safa.ps, Senin (14/9), Majelis Qadha (Dewan Pengadilan) Tertinggi Arab Saudi mengumumkan, bahwa besok Selasa (15/9) merupakan hari pertama bulan Dzulhijjah, dengan demikian maka Idul Adha akan jatuh pada tanggal 24 September 2015.
Pemerintah Arab Saudi mengatakan, tidak dapat melihat hilal pada Ahad sore kemarin (13/9). Dengan demikian hitungan tanggal di bulan Dzul Qa’dah digenapkan dan tanggal 1 Dzulhijjah 1436 Hijriyah dimulai pada Selasa (15/9).
Dengan pengumuman resmi pemerintah Arab Saudi, maka wukuf di Arafah akan dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah 1436 Hijriyah, bertepatan pada Rabu 23 September 2015 dan perayaan Idul Adha pada esok harinya Kamis 24 September.

