Bank Dunia mengemukakan perekonomian di Asia Timur dan Pasifik akan melambat di tahun ini. Namun kawasan tersebut akan kembali menemukan momentum pertumbuhannya pada tahun depan seiring dengan pulihnya perekonomian negara-negara berpendapatan tinggi.

Laporan Bank Dunia memaparkan perekonomian di Asia Timur akan tumbuh 6,9 persen di tahun ini dan tahun depan, turun dari pencapaian tahun lalu yang sebesar 7,2 persen. Perekonomian di Cina juga masih melambat dengan perkiraan 7,4 persen di tahun ini dan 7,2 persen pada 2015. Secara keseluruhan pertumbuhan di Asia Timur, kecuali Cina, diperkirakan sebesar 4,8 persen tahun ini. Namun, di tahun depan perekonomian diperkirakan bisa mencapai 5,3 persen di saat ekspor mulai meningkat dan reformasi ekonomi domestik mulai terjadi di sejumlah negara-negara besar di Asia Tenggara.
“Asia Timur dan Pasifik punya potensi pertumbuhan tinggi dan cepat dibanding kawasan berkembang lainnya, jika pemangku kebijakan membuat agenda reformasi yang ambisius, seperti menghilangkan hambatan pada investasi domestik, meningkatkan daya saing ekspor dan mengatur belanja publik secara rasional,” kata Wakil Presiden Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik, Axel van Trotsenburg, Senin (6/10).
Cina, Malaysia, Vietnam dan Kamboja berada dalam posisi baik untuk meningkatkan ekspor mereka, karena telah memiliki integrasi mendalam pada rantai perekonomian global regional. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Malaysia sebesar 5,7 persen karena meningkatnya ekspor di semester pertama 2014. Sementara, Kamboja yang disokong oleh ekspor garmen diproyeksikan tumbuh 7,2 persen di tahun ini.
Hal yang berbeda terungkap pada proyeksi pertumbuhan Indonesia yang diperkirakan sebesar 5,2 persen, turun dari pencapaian tahun lalu yang sebesar 5,8 persen. Melambatnya perekonomian Indonesia tersebut disebabkan menurunnya harga komoditas, belanja pemerintah yang lebih rendah dari perkiraan, dan ekspansi kredit yang lambat. Baca Juga: 68 Juta Masyarakat Indonesia di Pinggir Jurang Kemiskinan
Kondisi finansial global dapat menjadi sangat ketat, dan ketegangan geopolitik internasional serta regional mampu mempengaruhi berbagai prospek yang ada. Seperti misalnya, perlambatan pertumbuhan di Cina bisa berdampak besar terhadap produsen komoditas, seperti eksportir logam di Mongolia dan eksportir batu bara di Indonesia
“Cara terbaik bagi negara-negara di kawasan ini untuk menangani risiko adalah dengan mengatasi kerentanan yang disebabkan oleh kebijakan keuangan dan fiskal yang lalu, dan melengkapinya dengan reformasi struktural untuk meningkatkan daya saing ekspor,” kata Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Sudhir Shetty.
Laporan Bank Dunia pun mengajukan rekomendasi kebijakan untuk berbagai negara guna menangani berbagai risiko yang ada dan mengupayakan pertumbuhan yang berkelanjutan. Misalnya, untuk Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand, melalui tindakan yang dapat meningkatkan pendapatan dan mengurangi subsidi yang kurang tepat sasaran, maka akan membantu menciptakan ruang untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan investasi, pengentasan kemiskinan, serta secara bertahap memperkuat ketahanan fiskal.

