
Inflasi, nilai suku bunga yang lebih tinggi, serta depresiasi rupiah yang substansial di kuartal keempat tampaknya telah mempengaruhi estimasi investor Indonesia terhadap kemungkinan pengeluaran masa pensiun mereka, yang kini diperkirakan akan mencapai 61 persen dari pendapatan saat ini. Sentimen investor terhadap penempatan investasi di saham pun meningkat.
Director of Business Development Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut Andanawarih, mengatakan sentimen investor terhadap saham melonjak 14 poin di kuartal empat 2013. “Faktor pendukung saham dan reksadana ini karena kondisi pasar mulai stabil dan membaik,” kata Putut dalam pemaparan Manulife Investor Sentiment Index kuartal 4 2013, Selasa (11/2). Selain itu, investasi di properti juga masih dianggap menarik karena dinilai memberi return aset yang baik karena harganya terus naik.
Namun, yang perlu diperhatikan adalah masih populernya penyimpanan dana tunai sebagai bentuk investasi. Chief of Employee Benefits Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Nur Hasan Kurniawan, mengatakan rata-rata jumlah dana pensiun di Indonesia sebesar Rp 255,4 juta. Kendati secara kasat mata jumlahnya terlihat besar, jumlah tersebut hanya mencukupi sembilan tahun masa pensiun. Berdasar Manulife Investor Sentiment Index, responden mengatakan bahwa mereka harus bergantung pada tabungan masa pensiun selama 16 tahun, berdasar perkiraan pensiun di usia 61 tahun dan harapan hidup sampai 77 tahun. Namun berdasar asumsi pengeluaran selama pensiun, estimasi tabungan mereka hanya akan mencukupi rata-rata sampai 9 tahun, sehingga ada kesenjangan 7 tahun.
“Dari mana mencukupi kebutuhan pensiun? 73 persen responden bilang akan menambah deposito, 56 persen berpikir untuk mencari pekerjaan tambahan, 19 persen investasi di properti, 19 persen akan mencari cara untuk memenuhi kebutuhan,” kata Nur. Dalam survei MISI ini terungkap bahwa 75 persen responden masih berpikir untuk terus bekerja selama masa pensiun.
Dari segi prioritas tabungan pun, lanjut Nur, perencanaan masa pensiun menempati urutan ketiga setelah membayar pendidikan anak-anak dan memulai bisnis sendiri. “Yang saya petik dari temuan ini adalah selain kurangnya perencanaan masa pensiun secara umum, orang Indonesia merasa pilihan investasi yang tersedia masih kurang, karena itu mereka mengatasinya dengan cara mereka sendiri yaitu dengan menginvestasikan pada pendidikan anak-anak dan bisnis mereka sendiri,” jelas Nur

