(Kika): Nugie, Matha Tillar, Sinta Nuriyah Wahid, dan Nining W. Permana, dalam konferensi pres Tupperware SheCAN! Award 2015, di Jakarta, Rabu (2/12). foto: MySharing.

Pesan Gus Dur, Sinta Harus Mandiri

[sc name="adsensepostbottom"]

Sinta Nuriyah Wahid, istri mediang mantan Presiden Aburrahman Wahid berbagi kisah sebuah pesan suaminya agar dia menjadi perempuan mandiri. Sinta juga berharap perempuan Indonesia menjadi perempuan mandiri yang berkarya di segala bidang.

(Kika): Nugie, Matha Tillar, Sinta Nuriyah Wahid, dan Nining W. Permana, dalam konferensi pres Tupperware SheCAN! Award 2015, di Jakarta, Rabu (2/12). foto: MySharing.
(Kika): Nugie, Matha Tillar, Sinta Nuriyah Wahid, dan Nining W. Permana, dalam konferensi pres Tupperware SheCAN! Award 2015, di Jakarta, Rabu (2/12). foto: MySharing.

”Gus Dur bilang jangan terlalu ketergantungan sama saya, kamu harus mandiri. Karena kita tidak pernah tahu besok akan terjadi sesuatu,” kata Sinta dalam konferensi pers Tupperware SheCAN! Award 2015, di Jakarta, Rabu (2/12).

Menurutnya, pesan Gus Dur itu tidak lain mengingatkan dirinya untuk mempersiapkan segala sesuatunya mengurus diri sendiri dan membesarkan anak-anak sampai besar hingga menjadi orang berguna tanpa bantuan suami, apabila suatu hari terjadi sesuatu pada Gus Dur.

Pada kesempatan ini, tegas Sinta, dirinya juga ingin menyampaikan kepada perempuan Indonesia. Yakni menjadi perempuan mandiri dan mempersiapkan segala sesuatu untuk masa depan dan generasi mendatang tanpa terlalu menggangtungkan diri pada suami.

Menurut Sinta, perempuan pada dasarnya pintar karena mereka adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya dan sebagai orang yang mengajarkan segala macam hal kepada buah hatinya.

”Sayangnya, perempuan Indonesia masih dianggap dan menganggap dirinya bodoh. Pandangan ini lahir karena hasil pembentukan budaya yang salah dan masih terjadi hingga kini. Ironis  dan itu harus dibetulkan,” tukas Sinta.

Oleh karena itu, Sinta bertekad mendirikan yayasan Pun Amal Hayati yang berbasis pesantren untuk menegakkan keadilan bagi perempuan. Menurutnya, pesantren jadi basis berkarya dalam segala bidang.  Karena di pesantren banyak terjadi subordinasi dan marjinalisasi terhadap perempuan. ”Saya terus berupaya memperdayakan kaum perempuan mengangkat harkat dan membentuk kemandirian mereka,” pungkasnya.