Pembukaan Muktamar Muhammadiyah dimeriahkan pesta budaya.

Pesta Budaya di Pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke 47

[sc name="adsensepostbottom"]

Pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke 47 dan Satu Abad Aisyiah di Stadiun Karebosi, Makassar, Senin (3/8) tampak meriah dengan kemasan pesta budaya kontemporer.

Pembukaan Muktamar Muhammadiyah dimeriahkan pesta budaya.
Pembukaan Muktamar Muhammadiyah dimeriahkan pesta budaya.

Kemasan budaya ini mencerminkan keinginan para elit organisasi berlambang matahari itu untuk memadukan nuansa intelektual, kebudayaan dan religiusitas. Pesta budaya itu disuguhkan di hadapan Presiden Joko Widodo dan 2300 peserta muktamar dari seluruh Indonesia.

Menurut Seksi Pembukaan Muktamar Muhammadiyah ke 47, Andi Baetal Muqaddas, pembukaan bernuasa pesat budaya ini menunjukkan bahwa Makassar Sulawesi Selatan sebagai provinsi yang multi etnis, terdiri dari Makassar, Mandar, Toraja, dan Bugis, yang warganya hidup rukun dan harmonis.

Pesta budaya ini dihadirikan oleh setiap etnis yang berantusias menyambut peserta muktamar Muhamaddiyah dari seluruh Indonesia. Karena faktor keterbatasan tempat, kata Baeqal, kehadiran mereka direpresentasikan dalam seni Tari Empat Etnis karya kareografer Andi Musliyati, yaitu dosen pendidikan Seni Universitas Muhmamduiyah Makassar).

Penari terdiri dari 620 orang. Adapun tarian yang dipersembahkan yaitu Tari Ganrang Bulo, Paraga, dan Paduppa. Suguhan lainnya, obade “Angin Mamiri” dan marching band oleh 500 santri/mahasiswa Pesantren Ummul Mukminin Makasar, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Surakarta.

Pada Muktamar Muhammadiyah ini, kata Baetal, pihaknya ingin mengenalkan budaya dan tradisi permainan yang berbeda dalam setiap etnis di Sulawesi Selatan. Ini juga menunjukkan pada dunia bahwa beda etnis bisa hidup rukun. ”Misi lainnya, kami mengislamisasi tarian etnis, misalnya penari perempuan aslinya tak berjilbab, dalam pembukaan muktamar mereka berjilbab,” ujarnya.