Pilgub Jakarta, Mayoritas Minoritas Sudah Selesai!

[sc name="adsensepostbottom"]

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Anies Baswedan melaju pada putaran kedua, sehingga masalah minoritas dan mayoritas bukan lagi menjadi persoalan.

Dalam diskusi bertajuk “Dialektika ICMI”, di Gedung Euro Management, Jakarta, pekan lalu, pengamat politik dari Indo Barometer, Muhammad Qodari mengaku kagum dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang bersikap terpuji dalam menanggapi kekalahan Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 putaran pertama, yang digelar Rabu 15 Februari lalu.

“Ahok, yang ditelepon Agus. Saya anggap adalah tanda keberadaan demokrasi. Kalau Anda kalah, Anda tidak harus menunggu hasil resmi. Satu sikap kesatria yang menunjukkan Agus siap menang dan siap kalah,” ujar Qodari.

Qodari menilai, bahwa Agus ini cerdas karena sebagai kesatria TNI terlihat tidak menguasa panggung depat paslon Pilgub DKI Jakarta. Ketika bunyi bel berdering sebagai tanda waktu sudah habis dalam pemaparan program ataupun menjawab pertanyaan paslon lawan lainnya. Dengan tenang, Agus dapat mengatur nada bicara dengan baik tanpa canggung.

”Bisa dibayangkan Agus itu dari TNI. Dalam debat harus menjabarkan program-program Jakarta. Kalau seperti kita pasti akan canggung, tapi Agus sangat menguasai. Saya acungkan jempol untuk performen mas Agus. Tapi sayangnya,  lawan mas Agus itu kelas berat yaitu Ahok-Anies,” ungkap Qodari.

Qodari mengatakan, pada putaran kedua dalam Pilgub DKI Jakarta akan memberi angin baru bagi peta politik di Indonesia. Ia mengganggap masalah minoritas dan mayoritas bukan lagi menjadi persoalan dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.

”Pilgub DKI Jakarta menunjukkan masalah mayoritas minoritas sudah selesai. Karena masing-masing pasangan yang lolos ke putaran kedua mewakili etnik minoritas. Satu keturunan Tinghoa, satu Arab. Jadi ini panggung paling strategis untuk memperlihatkan itu semua,” tukas Qodari.