Potensi Keuangan Syariah di Afrika

[sc name="adsensepostbottom"]

Fundamental ekonomi yang kuat dapat mendorong benua Afrika menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi dunia. Sayang, infrastrukturnya sangat minim. Di sinilah keuangan syariah dapat membantu.

mifcafriacover

Afrika saat ini bukan lagi dalam gambaran yang umum pada era 80-an, busung lapar. Kini, dengan prediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2014 (versi Bank Pembangunan Afrika), Afrika digadang-gadang akan menjadi pendorong penting pertumbuhan ekonomi global.

Meskipun begitu, minimnya infrastruktur masih menjadi kendala pertumbuhan tersebut. Khususnya dalam mendorong produktifitas ekonomi. Menurut Konsorsium Infrastruktur untuk Afrika, benua ini menghadapi kekurangan keuangan untuk membangun infrastruktur setidaknya hingga USD 48 Miliar per tahun. Dalam hal inilah, industri keuangan syariah memiliki kesempatan besar untuk mendukung pembangunan infrastruktur Afrika melalui penyediaan dananya. Mengingat juga berlebihnya dana keuangan syariah di dua hub keuangan syariah dunia, Gulf Cooperation Country (GCC) dan Malaysia. Begitu pandangan Malaysia Islamic Finance Center (MIFC) dalam MIFC Insights Reports: Islamic Finance Drives New Development in Africa yang dirilis pada 15 Mei 2014.

Menurut laporan yang diterima MySharing melalui surat elektronik tersebut, industri keuangan syariah Afrika mengomposisi sekitar 2.4% dari total nilai ekonomi perbankan syariah global (2013), 0,6% dari total penerbitan sukuk (Kuartal I/2014), dan 2,8% dari total reksadana syariah (2013).

Meskipun begitu, MIFC menilai masa depan keuangan syariah di Afrika masihlah cerah. Beberapa negara Afrika terlihat melakukan perubahan regulasi yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan keuangan syariah di negaranya. Selama Kuartal I/ 2014, beberapa negara Afrika yang melakukan perubahan itu adalah Mauritania, Morocco, Senegal, South Africa, dan Libya.

Menurut Outlook Ekonomi Afrika 2014 dari Bank Pembangunan Afrika, Pertumbuhan ekonomi benua tersebut didorong oleh fundamental ekonominya yang menguat. Pada 2013, pertumbuhan ekonomi tumbuh rata-rata 4.8%. Pertumbuhan ini banyak didukung oleh harga komoditas yang meningkat di tengah membaiknya ekonomi global. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan benua ini pada 2012 yang cukup tinggi, sebesar 6,6%, pertumbuhan 2013 malah merefleksikan fundamental yang solid mengingat, pertumbuha di 2012 yang tinggi banyak didorong oleh tingginya produksi minyak bumi Libya. Jika faktor Libya dikesampingkan, pertumbuhan ekonomi Africa akan berkisar di 4.2%. Oleh karena itu, Bank Pembangunan Afrika memroyeksi, pertumbuhan ekonomi benua hitam pada 2014 akan menyentuh angka moderat, 5.3%. Pertumbuhan yang banyak didukung oleh permintaan domestik baik di sektor konsumsi maupun di sektor investasi, baik yang dilakukan oleh pemerintahnya atau swasta.

Jika dilihat tren perdagangan antara benua Afrika dan GCC, bertumbuh cukup cepat pada periode 2000-2010. Menurut Gulf Research Centre, Nilai ekspor GCC ke Afrika naik rata-rata 14.7% per tahun. Impor oleh Afrika dari GCC naik rata-rata 27.5% per tahun. Berdasarkan statistik dari UNCTAD’s Special Report on Global Investment Trends Monitor (Maret 2013), nilai perdagangan dua wilayah hampir mencapai USD 35 Miliar. Investor dari GCC juga telah menanamkan dananya ke sektor bisnis di Afrika.

Hal yang sama juga terjadi antara Afrika dan Malaysia. Menurut UNCTAD, Foreign Direct Investment (FDI) Malaysia ke Afika bernilai USD3,5 Miliar pada 2011. Menempatkan Malaysia sebagai negara ketiga terbesar yang berinvestasi di Afrika setelag Perancis dan Amerika Serikat (AS). Saat ini, investasi Malaysia di Afrika menyentuh sektor-sektor seperti telekomunikasi, keuangan dan perbankan, infrastruktur dan properti, manufaktur, pembangkit listrik, dan lain-lain.

Menurut World Bank: Factsheet – Infrastructure in Sub Saharan Africa, minimnya infrastuktur di Afrika telah menurunkan produktivitas industri hingga hampir mencapai 40%. Konsorsium Infrastruktur Afrika mengestimasi, pemerintahan-pemerintahan Afrika merogoh kocek setidaknya USD45 Miliar per tahun untuk pembangunan infrastruktur. Sementara, total biaya yang diperlukan untuk membangun infrastruktur di Afrika mencapai sekitar USD93 Miliar per tahun. Berarti ada celah kekurangan sekitar USD48 miliar per tahun.

Di antara banyak sektornya, defisit infrastruktur Afrika terbesar ada di sektor ketenagalistrikan, yaitu pembangkit listrik yang menyumbang hampir 40% dari total biaya infrastruktur dibutuhkan di benua ini. Sebagai contoh, 48 negara Afrika Sub-Sahara dengan populasi sekitar45 juta orang membutuhkan tenaga listrik yang hampir sebanyak Spanyol.

sukuk afrikaInstrumen sukuk, dinilai oleh MIFC dalam laporan ini dapat menjadi instrumen yang pas untuk pasar Afrika. Afrika dapat memanfaatkan kecanggihan struktur sukuk yang sudah dipraktikkan di GCC dan Malaysia. Beberapa tipe kontrak untuk sukuk dapat dipraktikkan, semisal Ijarah, Murabahah, dan Musyarakah. Sukuk telah terbukti andal membantu proyek-proyek infrastruktur. Antara 2001 dan 2013, senilai total USD 84,3 Miliar sukuk berbasis proyek infrastruktur telah diterbitkan oleh 10 negara berbeda.

Sukuk juga berkembang di Afrika. Perkembangan terakhir, negara-negara Afrika tengah mempersiapkan keranga peraturan yang lebih kondusif untuk sukuk. Pada akhir Kuartal I/ 2014, total penerbitan sukuk di Afrika bernilai USD 1,7 Miliar atau sekitar 0.6% dari total nilai sukuk global. Sudan menempati negara penerbit sukuk terbanyak di Afrika dengan komposisi 60,4%, diikuti oleh Mauritius, Nigeria, dan Gambia. Pada 2014, sukuk global dari benua ini yang tengah bersiap untuk diluncurkan berasal dari Tunisia, Maroko, Afrika Selatan, Senegal, Mesir, dan Mauritania.

Download MIFC Insights Reports: Islamic Finance Drives New Development in Africa dengan mengisi formulir di bawah ini:

[contact-form-7 id=”3489″ title=”Download Laporan Keuangan Syariah di Afrika”]