kampung bordir surabaya

Potret Kampung Unggulan Surabaya: Kampung Bordir, Jumlah Anggotanya ‘Kikir’

[sc name="adsensepostbottom"]

Tak mau kalah dengan kota Tasikmalaya yang terkenal sebagai sentra bordir, di Surabaya meski baru pada tahap rintisan, juga sudah ada kawasan dengan sebutan Kampung Bordir. Kampung bordir termasuk salah satu dari 10 kampung unggulan binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindah) Pemkot Surabaya.

kampung bordir surabayaTercatat mulai ditasbihkan sebagai Kampung Bordir sejak tahun 2010, sesungguhnya geliat perajin bordir di kampung yang terletak di Jalan Kedung Baruk, Kelurahan Kedung Baruk Kecamatan Rungkut Surabaya ini mulai ada sejak 2002. Adalah Lilik Zulfiyah, wanita yang punya keuletan di bidang yang satu ini.

Tak mudah bagi kampung ini untuk meraih predikat Kampung Bordir. Buktinya, ketika salah satu syarat yang ditentukan Disperindag, yakni minimal harus ada 10 perajin di satu kampung yang ada di satu kelurahan yang hidup dari mata pencaharian bordir, kampung ini tidak mampu memenuhi syarat tersebut. “Bagaimana tidak, jumlah perajin nya pun cuma empat,” kata Lilik yang menjadi Ketua Perkumpulan Kampung Bordir Kedung Baruk Surabaya.

Tak patah arang, Llilik pun berjuang agar syarat satu kelurahan itu bisa diperluas ‘zona’nya menjadi satu kecamatan. Boleh jadi karena minimnya jumlah perajin bordir, Disperindag pun menyetujui. Predikat Kampung Unggulan Bordir akhirnya didapat.

Sejak menyandang kampung unggulan sekitar empat tahun silam, hingga kini jumlah anggotanya baru 8 orang. Mengapa sepi peminat? “Ya itu tadi, jumlah perajin bordir tidak sama dengan pembuat kue atau kerupuk di kampung unggulan lain. Peminat kerajinan bordir betul-betul sedikit,” kata wanita kelahiran 7 November 1979 ini.

Faktor yang menjadi penyebab seretnya peminat karena keterampilan bordir memang lebih ‘njelimet’, butuh ketelatenan dan ketelitian. Selama membordir gerakan tubuh relative tidak dinamis, alias diam di tempat dengan kepala yang terus menunduk melihat untaian benang, sehingga lebih mudah menimbulkan perasaan jenuh.

Sebetulnya, kata Lilik, dengan dijadikannya kawasan Kedung Baruk menjadi salah satu kampung unggulan, ada dampak positif yang dirasakan khususnya dari aspek ekonomi. Sebagai gambaran, sebelum dirangkul oleh Disperindag, dirinya setiap bulan memiliki pendapatan dari jahitan bordir tidak pernah lebih dari Rp 2 juta. Namun, setelah menjadi kampung ‘pilihan’, hal itu mendongkrak pendapatan.

“Yah, setidaknya ada tambahan sekitar Rp 1 juta, menjadi Rp 3 juta per bulan,” ungkap wanita berkacamata ini. Selain melayani jasa bordir untuk kebaya, busana maupun nama/identitas, Lilik dan perajin bordir yang lain juga menghasilkan produk yang ada sentuhan bordir sebagai hiasannya, seperti mukena, jilbab, taplak meja atau tempat tisu.

“Khusus untuk saya, spesialisasinya adalah membuat mukena berhias bordir,” imbuhnya. Pada bulan Ramadan seperti sekarang, tak berbeda jauh dengan bisnis makanan, perajin bordir juga mendapat limpahan berkah. “Kalau menjelang Lebaran, biasanya pesanan mukena banyak. Kalau pada hari-hari biasa minim pesanan atau bahkan tidak ada sama sekali, maka di bulan seperti ini saya terima pesanan mukena sampai 20 pcs dengan harga kisaran Rp 160 ribu-Rp 225 ribu,” paparnya.

Di hari-hari biasa, Lilik dan anggota perkumpulan yang lain memang lebih fokus untuk menerima jahitan. Hanya, mereka harus menyiapkan produk-produk mulai dari mukena, kebaya, tempat tisu dan produk bordiran lainnya untuk kebutuhan pameran. Karena, setiap kali Disperindag mengadakan pameran, kampung-kampung unggulan harus berperan serta secara aktif. Untuk tahun ini saja, dari Januari hingga Juni, kampung bordir sudah ikut pameran tiga kali.

Produk-produk yang ditampilkan dalam pameran biasanya sudah disiapkan jauh hari sebelumnya. Mereka berusaha menyisihkan waktu luang untuk membuat produk-produk khusus untuk kebutuhan pameran. “Kalau dibuat menjelang Pameran, kami tidak punya waktu. Selain itu kami juga kepepet modal,” ungkap Lilik.

Belum Ada Koperasi
Berbeda dengan Kampung Kue dan Kampung Kerupuk yang dalam perjalanannya sudah ditopang oleh koperasi perkumpulan, maka untuk kampung bordir hingga kini belum memiliki koperasi.

“Dengan jumlah hanya delapan orang sulit bagi kami untuk membuat koperasi. Apalagi kami ini benar-benar berangkat dari nol. Berbeda dengan kampung kue dan kampung kerupuk yang usahanya sudah lebih dulu jalan. Kalau kami dari jumlah anggota yang ada saja tidak semuanya aktif,” jelasnya.

Praktis, dengan keterbatasan dana yang mereka miliki saat ini, mereka tidak mampu bergerak leluasa untuk menghasilkan produk pameran lebih banyak. Waktu mereka sudah dihabiskan untuk menerima jasa jahitan.

Padahal, untuk mengembangkan usaha bordir , kata Lilik, setidaknya dibutuhkan modal Rp 10 juta per orang. Sementara dari Disperindag, baru dalam bentuk bantuan dua mesin jahit bordir per tahun yang diberikan kepada anggotanya secara bergilir. Di samping itu juga ada pelatihan serta pembinaan.
Studi Banding

Untuk mengembangkan wawasan ketrampilan bordir, Disperindag juga mengajak anggota perkumpulan kampung bordir melakukan studi banding ke kota lain yang terkenal dengan produk bordirnya. Untuk tahun ini, kata Lilik, dia baru saja pulang dari studi banding ke Tasikmalaya.

Sekadar gambaran, Tasikmalaya merupakan salah satu daerah sentra industri hiasan bordir dan merupakan produk unggulan. Kain Bordir Tasik adalah serapan dari kebudayaan China. Namun berkat tangan terampil dan ulet, maka terciptalah Kerudung, Kebaya, Mukena, Tunik, Selendang, Blus, Rok, Sprei, Sarung Bantal, Taplak Meja, Baju Gamis, Baju Koko, Kopiah Haji, hingga busana sehari-hari dihiasi dengan bordir yang menarik.

Sentra industri bordir Tasikmalaya tersebar di 24 Desa / Kelurahan, 12 Kecamatan di Kota Tasikmalaya dan sisanya di Kabupaten Tasikmalaya. Ke-12 Kecamatan itu adalah Kecamatan Kawalu, Cibeureum, Cipedes, Cikalong, Cikatomas, Cipatujah, Karangnunggal, Leuwisari, Manonjaya, Salopa, Sodonghilir, dan Sukaraja.