kampungkrupuk

Potret Kampung Unggulan Surabaya: Kampung Kerupuk, Tetap Kriuk Tanpa Pengawet

[sc name="adsensepostbottom"]

Memasuki ‘Kampung Kerupuk’ yang menjadi salah satu kampung unggulan Surabaya, kita mungkin akan menangkap kesan daerah itu tak lebih hanya kampung pesisir biasa yang sebagian besar warganya hidup dari mata pencaharian menangkap ikan.

kampungkrupukJangan membayangkan Anda akan menangkap deretan rumah yang ‘menghiasi’ halaman teras rumahnya dengan beragam kemasan kerupuk produksi mereka. Sebaliknya, pemandangan kampung kerupuk tak jauh berbeda dengan kampung-kampung lainnya. Tak lebih hanya dereten rumah.

Tak berbeda dengan ‘Kampung Kue’, geliat kampung pemroduksi kerupuk hanya terlihat pada pagi hari. Itu pun bukan kesibukan seperti ‘pasar’ pada umumnya. Hanya distributor dari berbagai kota di sekitar wilayah Surabaya yang datang. Sementara produksi kerupuknya sendiri dimulai sore hari.

“Sore seperti sekarang, kami baru menggoreng,” kata Li’anah, salah seorang penjual kerupuk di kampung ini.

Li’anah yang juga sebagai Ketua Kampung Kerupuk mengungkapkan sebetulnya keahlian membuat kerupuk di kampung itu merupakan ‘warisan’ turun temurun dari orangtua mereka. Namun, kampung yang terletak di Jalan Gunung Anyar Tambak RT2 RW1 itu resmi menyandang predikat Kampung Kerupuk, salah satu kampung unggulan kota Pahlawan sejak 2010, yakni sejak menjadi usaha binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya.

Sekadar gambaran, Kampung Unggulan Kerupuk mengelola berbagai hasil perikanan menjadi olahan kerupuk yang rasanya tidak kalah dengan kerupuk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan skala usaha yang sudah mapan.

Kerupuk Ikan Payus, Kerupuk Udang dan Kerupuk Kerang merupakan andalan yang ditawarkan dan tentu saja produk kerupuk yang dihasilkan sudah mendapat jaminan sertifikasi halal, tanpa mengandung bahan pengawet maupun bahan berbahaya lainnya dan berbagai kelayakan usaha lainnya sehingga ada jaminan mutu dari produk kerupuk yang dihasilkan.

“Kami jamin, kerupuk kami tidak mengandung borax atau bahan pengawet,” kata wanita ini memastikan.

Keunggulan Kampung Kerupuk terletak pada rasanya yang unik, khas ikan laut. Selain itu harganya juga terjangkau, mulai dari Rp 6 ribu sampai dengan Rp 25 ribu. Jenis kerupuk yang dihasilkan di antaranya: kerupuk udang, kerupuk ikan payus, kerupuk kerang, dan jenis kerupuk lainnya sesuai pesanan.

Banyak Mendapat Kunjungan
Tak berbeda dengan Kampung Kue, kampung unggulan yang satu ini juga memancing minat pihak luar yang ingin melihat dari dekat proses produksi beragam kerupuk di wilayah ini. Li’anah mengatakan, kampung kerupuk sering mendapat kunjungan dari berbagai lembaga khususnya perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Dosen-dosen dari PTN atau PTS yang datang ke kampung ini banyak yang menanyakan mengenai proses produksi hingga seperti apa pemasarannya.

“Bahkan beberapa waktu lalu kami mendapat kunjungan tamu dari China dan Thailand. Mereka ingin melihat proses produksi dari dekat. Setelah tahu rasanya, pulangnya mereka memborong kerupuk kami,” kata wanita yang memiliki usaha dengan bendera Pamorbaya (Pantai Timur Surabaya) ini dengan bangga.

Kurang Peminat
Pada awal ditasbihkan sebagai Kampung Kerupuk, pemroduksi kerupuk yang bergabung dalam perkumpulan ini hanya 4 orang. Namun kini meningkat menjadi 10 orang. Kok lamban peningkatannya? Apakah tidak ada pengaruh signifikan yang dirasakan anggotanya sejak bergabung dengan Disperindag, sehingga warga yang lain ogah bergabung?

Lianah mengakui bahwa bila dilihat dari jumlah anggota perkumpulan yang mencapai 10 orang sejak dicanangkan sebagai Kampung Kerupuk pada 2010 silam, tentu saja perkembangan itu tidak dapat disebut menggembirakan.

Namun Lianah tak sependapat bila dikatakan keengganan para pemroduksi kerupuk untuk bergabung dalam perkumpulan ini karena ada rasa ketidakpercayaan terhadap Disperindag. Liana juga menepis perkumpulan ini tidak membawa manfaat.

“Sebaliknya, pengaruh secara ekonomi besar. Dulu sebelum bergabung, pendapatan saya dari
produksi kerupuk per bulannya tak pernah lebih dari Rp 1 juta. Tapi, setelah mendapat binaan dari Disperindag, pendapatan saya bisa mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Bahkan menjelang Lebaran seperti sekarang bisa mengalami peningkatan penghasilan sampai Rp 3 juta,” kata ibu dua anak ini.

Lantas, kenapa peminat perkumpulan ini kecil? Lianah menduga warga di kampungnya ogah terlibat dengan berbagai kegiatan pelatihan atau pameran yang sering diadakan oleh Disperindag. Padahal, lewat kegiatan-kegiatan semacam inilah para anggotanya bisa belajar banyak untuk mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana memproduksi kerupuk yang higienis, lezat, hingga ke teknik pemasaran agar produk mereka bisa dikenal lebih luas.

Lianah memberi contoh dirinya sendiri. Selain penghasilannya kini lebih besar, pemasaran kerupuknya juga lebih luas. Tak terbatas di wilayah Surabaya, tapi juga beberapa kota di sekitar Surabaya dan Madura.

Bantuan Koperasi
Meski diakui modal juga menjadi salah satu alasan untuk mengembangkan usaha kerupuk mereka, Lianah mengatakan hal itu bukan menjadi kendala utama. Hal itu tak lepas dari keberadaan koperasi perkumpulan.

“Saat ini koperasi mampu memberi pinjaman kepada kami sebesar Rp 5 juta per orang dengan jasa 1,5 persen,” ungkapnya.

Bagi Lianah, ada yang lebih penting selain modal yang dinilai menjadi ‘penghambat’ berkembangnya usaha mereka. Apa itu? “Pemasaran,” ungkapnya.

Karena itu, kata Lianah, pihaknya mengharapkan Pemerintah tak sekadar memberi bantuan dalam bentuk pembinaan atau pelatihan kepada para anggota Kampung Kerupuk.

“Kami berharap Pemerintah mau turun tangan ikut membantu kami khususnya dalam pemasaran produk kami,” tandasnya.
Sebab, pemasaran produk untuk UKM yang tergolong ‘pemain’ baru seperti mereka jelas membutuhkan biaya besar. Dengan modal terbatas, mereka hanya bisa menjangkau kota-kota terdekat di wilayah Surabaya. Padahal, keinginan anggota adalah produksi mereka bisa meluas ke
wilayah lain. Paling tidak, kota-kota di seluruh Jawa Timur bisa mengenal produk mereka.

“Tanpa bantuan dari Pemerintah, sangat sulit bagi kami untuk memasarkan kerupuk kami di wilayah Jawa Timur,” imbuhnya. (bersambung)