Pusat Kajian Strategis Baznas akan memudahkan koordinasi dengan Bappenas dan lembaga lainnya di Indonesia.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro meresmikan Pusat Kajian Strategis Baznas (Badan Amil Zakat Nasional).
”Pusat Kajian Strategis Baznas ini akan memberi nilai tambah dan memudahkan koordinasi dengan Bappenas dengan lembaga lainnya di Indonesia,” kata Bambang dalam sambutannya di acara seminar nasional Baznas di Museum Kebangkitan Nasiona, Jakarta, Senin (8/8), seperti dilansir dari Antara.
Menurut Bambang, pusat kajian tersebut penting karena dapat mendorong penguatan pengumpulan zakat. Saat ini, Indonesia adalah negara dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, tapi zakat belum dihimpun secara maksimal.
- KNEKS dan Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala bekerja sama Mengembangkan Hilirisasi Bahan Baku Halal berbasis Minyak Nilam
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Jumlah Transaksi Top Up Kartu Uang Elektronik Hingga 180,52%
- Asosiasi DPLK dan DPLK Syariah Muamalat Inisiasi Sinergi Ekosistem Syariah bagi Sektor Informal
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
Berdasarkan hasil riset Baznas dan IPB, potensi zakat Indonesia, termasuk infaq mencapai Rp 217 triliun. Akan tetapi, zakat yang terhimpun baru 1,2 persen dari potensi yang ada atau sekitar Rp 3 triliun.
Untuk itulah, Bambang menuturkan, bahwa zakat hingga saat ini belum terekplorasi dengan baik. Pendirian pusat kajian zakat oleh Baznas bertujuan agar berkontribusi dalam meningkatkan pengumpulan zakat. Zakat juga diharapkan dapat menyatu dan bersinergi dengan sistem keuangan di Indoensia.
Indonesia, lanjut dia, memiliki sistem pajak yang sudah mapan sementara di beberapa negara Muslim sudah menerapkan zakat sebagai pengganti pajak. Kebijakan Indonesia saat ini, adalah adanya pembayaran zakat yang mengurangi pajak. Kendati begitu, pengumpulan zakat belakangan belum maksimal
”Zakat memiliki peran dalam mengentaskan kemiksinan dan menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat yang kaitannya dengan kesejahteran dan kesenjangan sosial,” pungkasnya.
[bctt tweet=”Potensi zakat Indonesia, termasuk infaq mencapai Rp 217 T” username=”my_sharing”]

