Ekonomi Syariah Malaysia
INCEIF, salah lembaga penghasil sumber daya manusia (SDM) syariah Malaysia. SDM menjadi salah satu faktor kuat keberhasilan Malaysia di keuangan syariah. Foto: Ibrahim Aji

Rahasia di Balik Keberhasilan Ekonomi Syariah Malaysia

[sc name="adsensepostbottom"]
Ekonomi Syariah Malaysia
INCEIF, salah lembaga penghasil sumber daya manusia (SDM) syariah Malaysia. SDM menjadi salah satu faktor kuat keberhasilan Malaysia di keuangan syariah. Foto: Ibrahim Aji

Penelitian  Thomson  Reuters  bersama  dengan  Islamic  Development  Bank (IDB)  setahun  silam  menyatakan  bahwa  diukur  dari  total  aset  keuangan syariahnya,  Malaysia  adalah  negara  dengan  sektor  keuangan  syariah termaju di dunia dengan market share dari perbankan syariah sebesar 23 persen,  disusul  Bahrain  dan  Iran  di  urutan  kedua  dan ketiga,  sedangkan Indonesia sendiri  sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di  dunia berada di urutan keempat dengan market share perbankan syariah sebesar4,69  persen.  Menganalisa  keberhasilan  Malaysia  sebagai penyokong aset perbankan  syariah  global  terbesar  di  dunia  tidak  lepas  dari  sejarah bagaimana para pendiri  bangsa negeri Jiran tersebut membangun fondasi perekonomian negaranya dari faktor berikut ini.

Perpaduan Istilah Ekonomi Umum dengan Prinsip Ekonomi Islam

Kebijakan sistem ekonomi syariah di Malaysia meminimalisir penggunaan istilah perbankan syariah yang terlalu terkesan Arab. Perbankan syariah di Malaysia tetap menggunakan istilah ekonomi umum yang di  belakangnya ditambahkan  huruf  I,  misalnya  Insurance-I,  sehingga pendekatan  ini bisa diterima oleh masyarakat yang non-Muslim.

Kesuksesan Program Dasar Ekonomi Baru (DEB) sebagai Landasan Perekonomian Bangsa

DEB sejalan  dengan 5  komponen kunci  kemajuan  perekonomian syariah. Masih menurut Thomson Reuters dan IDB yang mengatakan 5 pilar tersebut yaitu  perkembangan  kuantitatif,  program  pemerintah, kepedulian  sosial, pengetahuan,  serta  kesadaran  masyarakat.  DEB adalah buah  pemikiran Malaysia  yang  memadukan  keplurasismean  bangsanya untuk  menuju pemerataan dan keselarasan ekonomi  tanpa melihat perbedaan dari  segi eksosbud.  Keberpihakan  pemerintah  Malaysia terhadap  ekonomi  makro rakyatnya  lewat  masa  program  20  tahun  DEB merupakan  cikal  bakal perkembangan  ekonomi  syariah di  Malaysia  yang dana  perbankannya didukung oleh pemerintah.

Malaysia  sama  seperti Indonesia,  pernah  merasakan  pahit getirnya penjajahan  semasa  lampau oleh  invasi ‘saudara  tua’ yang memporak-porandakan  perekonomian bangsa.  Tidak  sampai  situ  saja, mereka  juga pernah ‘dikangkangi’ oleh imperialisme  barat  berkat kedatangan  Britania Raya  ke  tanah  Melayu pasca  perang  dunia  kedua. Tak  dipungkiri  juga gelombang pengiriman mahasiswa dalam skala besar berguru ilmu dengan Indonesia  pernah terjadi  dua  dekade  setelah  para pendiri  bangsa mencetuskan  NKRI, menyimpulkan  sistem  pendidikan Indonesia  pernah berjaya dari Malaysia. Sejalan dengan momentum itu, di  negara Malaysia sendiri ketika itu tengah terjadi revolusi sosioekonomi yang dikenal dengan program Dasar Ekonomi  Baru  (DEB)  yang  menjadi  cikal  bakal  penopang keberhasilan ekonomi Malaysia, pun ketika dilanda badai krisis moneter satu setengah dekade silam.

Kini ekonomi syariah di Indonesia tengah bergeliat lewat suara-suara yang digalakkan  oleh  pemerintah.  Bukan mustahil  untuk mempercepat  laju pertumbuhan  ekonomi  syariah sebagai  kekuatan  ekonomi  yang berasal dari  masyarakat,  semua tergantung dari  pendekatan pemerintah,  terlebih lagi kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 yang sudah di depan mata.