Serempaknya puasa di tahun 2015 ini, adalah momentum persatuan umat Muslim dalam upaya penyatuan kalender hijriyah.

Wakil Ketua Umum MUI, KH. Ma’ruf Amin mengatakan keserempakan puasa Ramadhan tahun ini harus menjadi momentum pembentukan kalender Hijriyah bagi umat Muslim Indonesia. Diharapkan hal ini agar keserempakan berpuasa bisa dirasakan pada tahun-tahun berikutnya. “Puasa serempak di tahun ini adalah momen kekompkan umat Islam,” kata Ma’ruf, di Jakarta, Rabu (17/6).
Ia menegaskan, bahwa dalam lima hingga tujuh tahun ke depan akan terjadi kekompakan penetapan awal Ramadhan dan Syawal (Idul Fitri). Rentan waktu itu, merupakan kesempatan yang baik bagi umat Muslim untuk berdiskusi merumuskan kalender Hijriyah bersama.
Seluruh elemen Muslim harus bisa mencari jalan keluar atas perbedaan awal Ramadhan dan Syawal, seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya yang tak berujung pada persamaan. “Alhamdulilah Allah SWT memberikan waktu lima tahun, masa sih tidak bisa mencari titik temu,” ujarnya.
- CIMB Niaga Syariah Luncurkan Program Jumat Baik, Perkuat Komitmen Melangkah Sesuai Kaidah
- Bank Muamalat Catat Pertumbuhan Volume Transaksi Ziswaf 24,75% via Muamalat DIN
- BSI Fest Ramadan 2026 Digelar di 9 Kota Besar, Tawarkan Diskon Umroh
- Prudential Syariah Luncurkan PRUHeritage Syariah Essential Plan USD, Nilai Proteksi Meningkat hingga 150%
Menurutnya, saat ini penetapan Ramadhan dan Syawal terbagi dua, yakni metode wujudul hilal dan omkanur rukyat. “Seluruh elemen Muslim bersemangat mencari titik temu, tapi saya harapkan tidak ada unsur pemaksaan,” tukasnya.
Ia pun menegaskan, bahwa keserempakan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri di sejumlah negara yang terjadi karena adanya intervensi pemerintah. Cuma sayangnya di Indonesia hal itu tidak berlaku. Ma’ruf berharap keserempakan ini bukan lewat pemaskaan, tapi kerelaaan. Sehingga umat Muslim tidak saling membenci, tapi justru saling menyayangi atas menyamaan perbedaan itu.
Sementara itu, menurut Sekretaris Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’ti, kalender hijriyah bersama penting untuk menghindari perselisihan penetapan awal Ramadhan, Syawal dan 10 Dzulhijah. Menurutnya kalender hijrijah bisa memperkuat persatuan umat Islam. Untuk mendukung persatuan umat Islam, tegas Abdul, perlu adanya kalender hijriyah yang disepakati oleh seluruh ormas Islam di Indonesia.
Oleh karena itu, lanjutnya, penetapan Ramadhan harus menggunakan kecanggihan teknologi dan melibatkan pakar astronomi (ilmu perbintangan).”Sebab jabatan struktural keagamaan bukan jaminan seseorang mampu mengobservasi ilmu perbintangan,” tukasnya.
Mu’ti juga berpendapat bahwa sidang itsbat tidak terlalu diperlukan. Lantaran, setiap ormas Islam sudah memiliki kalender Hijriyah masing-masing. Anggota ormas juga cenderung mengikuti keputusan organisasinya. Namun demikian, tegasnya, dalam rangka ukhuwah Islamiyah tidak ada salahnya sidang itsbat dilaksanakan.
Sekretaris Dewan Hisab dan Rukyat PP Persatuan Islam Syarif Ahmad Hakim mendukung upaya penyatuan kalender hijriyah. Namun demikian, menurutnya, penyatuan kalender hijriyah harus dimulai dengan mengubah kriteria penentuan bulan baru sesuai kaidah ilmiah. “Kami setuju, tapi kriterianya harus ditingkatkan sesuai dengan kajian ilmiah,” ujarnya.
Senada dengan Syarif Ahmad Hakim, Ketua Wanita Syarikat Islam, Elly Zanibar Madji juga setuju upaya penyatuan kalender hijriyah. Menurutnya, kalender hijriyah itu akan memperkuat persatuan umat Islam Indonesia tidak terpecah-pecah lagi. Sehingga diharapkan semua rintangan akan bisa diatasi bersama tanpa kebencian. “Alhamdulilah puasa tahun ini sudah bareng, insya Allah lebaran juga kita akan serempak,” ujarnya.

