Walau pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat, namun produk domestik bruto Indonesia diproyeksikan akan tumbuh hingga 5,9 persen pada 2016. Untuk mencapai proyeksi tersebut, reformasi menjadi kuncinya.

Di sisi lain, ia menambahkan bahwa untuk ukuran Indonesia dengan rata-rata PDB tumbuh lima persen, angkanya dinilai masih kecil. Gurria memaparkan pertumbuhan Indonesia harus lebih besar ke depannya, tidak hanya dari segi kuantitas tapi juga lebih berkualitas. Oleh karena itu, masih ada tantangan yang harus dihadapi.
Agar pertumbuhan PDB Indonesia tercapai sesuai proyeksi, maka Indonesia harus melakukan reformasi. “Pertumbuhan ekonomi mulai melambat akhir-akhir ini, karena itu percepatan reformasi diperlukan untuk menjamin pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat Indonesia,” ujar Gurria.
- BCA Syariah dan Istiqlal Halal Center Serahkan Sertifikat Halal untuk 49 UMKM
- CIMB Niaga Raih Tiga Penghargaan Bergengsi di Asian Banking & Finance Awards 2026
- Bank Mega Syariah Rayakan Harpelnas 2026 Berikan Layanan Medical Check-Up Gratis untuk Nasabah
- Bank Muamalat Indonesia Menutup Rangkaian Kegiatan HUT RI ke-81 dengan Meriah
Melalui percepatan reformasi, menurutnya, pertumbuhan Indonesia akan lebih baik dan cepat. “Meningkatkan sistem pendidikan yang berkualitas dan infrastruktur menjadi penting untuk mencapai kesuksesan di masa depan,” tukas Gurria. Selain itu, tidak hanya industri manufaktur maupun infrastruktur, menurut Gurria, sektor jasa juga perlu diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan PDB Indonesia.
Ia memaparkan dalam OECD Economic Survey on Indonesia, posisi fiskal Indonesia yang cukup kuat, ditandai dengan rendahnya defisit dan utang, membuka kesempatan untuk meningkatkan pendapatan negara yang dapat digunakan untuk mengembangkan pendidikan, infrastruktur dan memperluas sistem jaminan sosial. Kuncinya adalah pada reformasi. “Reformasi, reformasi, reformasi. Itu harus menjadi state of mind dan way of life bahkan mereformasi reformasi karena situasi kondisi terus berubah, sehingga harus bisa beradaptasi. Jadi reformasi tak pernah berhenti,” ujar Gurria.
Mengomentari dorongan reformasi di berbagai sektor, Menteri Keuangan RI, Bambang PS Brodjonegoro, mengatakan pihaknya kini juga sedang melakukan berbagai langkah untuk melakukan reformasi di berbagai bidang. “Di sektor manufaktur itu perlu di-capitalize jadi reindustrilisasi, sementara di sektor infrastruktur pun tidak hanya berasal dari budget pemerintah. Untuk mendukung pengembangan infrastruktur, kami juga mengundang sektor swasta untuk ikut serta, apakah itu full pembiayaan dari mereka maupun dalam bentuk public private partnership,” jelas Bambang.
Di sisi lain, tambah Bambang, pihaknya juga mendukung perdagangan bebas sepanjang sesuai dengan tujuan utama pemerintah, yaitu tidak menjadi negara yang hanya bergantung pada ekspor komoditas. “Kami tidak ingin hanya bergantung pada ekspor komoditas mentah, karena itu kami fokus pada ekspor barang yang sudah diproses,” kata Bambang.

