Gubernur Bank Indonesia – Agus D.W. Martowardojo saat memberikan sambutannya pada Peluncuran Buku Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2013, serta diskusi bertemakan “ Reformasi Struktural Untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan” pada minggu pertama April 2014 mengungkapkan, bahwa dibalik berbagai dinamika dan tantangan ekonomi yang terjadi pada tahun 2013 yang baru lalu, BI melihat ada beberapa pelajaran penting yang mengemuka. Pelajaran itu terkait dengan kebijakan yang perlu ditempuh guna menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Pelajaran pertama berhubungan dengan pentingnya menjaga disiplin dan komitmen kebijakan makroekonomi, baik fiskal maupun moneter, dalam mengarahkan ekonomi ke arah pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Dalam aspek ini, kebijakan moneter yang pre-emptive dan kuat (bold) yang ditempuh Bank Indonesia pada tahun 2013 telah memberikan jangkar pada terkendalinya ekspektasi inflasi dan juga mengarahkan neraca transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat. Demikian pula halnya dengan kebijakan fiskal yang tetap konsisten menjaga kesinambungannya, telah dapat mengelola perekonomian menjadi tetap terkendali dan mendukung upaya penguatan ketahanan neraca pembayaran Indonesia,” demikian papar Agus.
Lalu lanjut Agus, pelajaran kedua ialah strategisnya integrasi dan interaksi kebijakan dalam merespon tantangan yang semakin kompleks. Respon kebijakan tidak dapat lagi hanya mengandalkan satu instrumen, tetapi perluditopang dan diperkuat juga oleh instrumen lain. Integrasi dalam konteks interaksi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal juga perlu terus diperkuat sehingga efektivitas kebijakan menjadi semakin optimal. Selain itu, integrasi kebijakan juga ditujukan untuk tidak hanya merespons isu jangka pendek dan siklikal, tetapi juga perlu diarahkan untuk mengatasi permasalahan jangka menengah dan struktural.
Agus menambahkan, untuk pelajaran ketiga ialah pentingnya ketahanan sistem keuangan dalam menopang tetap terkendalinya penyesuaian ekonomi (economic adjustment). Kita patut bersyukur di tengah kuatnya tekanan terhadap ekonomi domestik, stabilitas sistem keuangan di Indonesia pada tahun 2013 tetap terjaga.
“Respon kebijakan pre-emptive dan kuat yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah, secara umum telah mengarahkan perekonomian kita kembali stabil dan mulai menuju ke arah yang lebih seimbang,” tegas Agus.
Agus melanjutkan, pada triwulan IV-2013 defisit transaksi berjalan mulai menurun ke level yang lebih sehat dan ditopang stabilitas ekonomi yang kembali terkendali. Meskipun respon kebijakan moneter yang ditempuh cukup kuat (bold), namun dengan langkah yang terukur (measured pace) sehingga perekonomian nasional terhindar dari terjadinya hard landing. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 dapat dipertahankan pada tingkat 5,8%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi peer countries.
“Dalam pandangan kami, selain kondisi makro yang mulai stabil dan berimbang, struktur mikro pasar keuangan juga mulai memperlihatkan arah yang terus membaik, terutama di pasar valuta asing. Likuiditas valas lebih lancar mengalir di pasar antar bank dan harga (kurs) yang terbentuk lebih sehat,” tandas Agus.
Perbaikan kondisi makro-ekonomi dan mikro-pasar ini, memperkuat kembali kepercayaan investor global. Ini tercermin dari besarnya aliran modal portofolio yang masuk dalam tiga bulan pertama 2014, mencapai Rp 54 triliun dan rupiah yang menguat 7,0%. Dalam terbitan pada 22 Februari lalu, majalah the economist pun memandang Indonesia sudah pantas keluar dari the fragile five ; “the combination of higher rates and a cheaper currency nurtured a rebalancing. Indonesia no longer looks so fragile”.
“Dengan pencapaian itu, kami optimis pertumbuhan ekonomi 2014 akan dapat terjaga pada kisaran 5,5%-5,9% disertai sumber pertumbuhan yang lebih seimbang. Di sisi lain, inflasi diprakirakan akan dapat terkendali pada kisaran targetnya 4,5%±1% dan defisit transaksi berjalan diprakirakan dapat turun dibawah 3,0% terhadap PDB,” ujar Agus optimistis.
Agus lalu menambahkan, pencapaian dan proyeksi perekonomian yang membaik tentu tidak lantas membuat kita berpuas diri. Dibalik capaian positif tersebut, kita perlu segera melakukan berbagai langkah perbaikan untuk menghadapi tantangan ke depan.
Menurut Agus, langkah perbaikan tersebut terkait dengan pelajaran terakhir yang mengemuka pada tahun 2013. Pelajaran keempat berhubungan dengan pentingnya reformasi struktural yang dapat meningkatkan kapabilitas industri kita, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih kuat, namun tanpa dibarengi kenaikan defisit transaksi berjalan dan peningkatan tekanan inflasi. Kami memperkirakan prospek perekonomian dalam jangka menengah dapat lebih tinggi bila berbagai kendala struktural yang mengganggu peningkatan kapabilitas industri dapat segera diatasi.
“Kami melihat tiga tantangan struktural yang perlu segera mendapat prioritas. Pertama, kondisi sektor riil yang masih memerlukan peningkatan daya saing dan kehandalan dari sisi produksi. Kedua, berbagai modal dasar pembangunan seperti infrastruktur konektivitas fisik dan digital, sumber daya manusia dan kapasitas penyerapan teknologi, serta iklim usaha dan kelembagaan yang masih perlu terus diperkuat. Terakhir, terkait pembiayaan pembangunan, yang belum optimal sebagai dampak dari pasar keuangan domestik yang belum dalam,” papar Agus lagi.
Agus menambahkan, dalam kaitan dengan tantangan ini, kami berpandangan implementasi kebijakan reformasi struktural perlu difokuskan pada tiga pilar utama yakni (a) penguatan daya saing sektor industri, (b) kemandirian ekonomi domestik dan (c) sumber pembiayaan pembangunan yang berkesinambungan, baik yang bersumber dari eksternal maupun domestik. Tentunya, penguatan ketiga pilar tersebut perlu didukung oleh kebijakan mewujudkan ketahanan energi dan pangan serta penguatan modal-modal dasar pembangunan.
Lebih lanjut Gubernur BI, dengan tetap memperkuat disiplin kebijakan fiskal dan moneter, langkah percepatan reformasi struktural dapat dibagi menjadi tiga bidang. Pertama, peningkatan daya saing dan kemandirian ekonomi melalui penguatan struktur produksi dan integrasi ke dalam rantai nilai global (global value chain). Kedua, peningkatan ruang fiskal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi pengelolaan subsidi energi. Dan ketiga, penguatan pembiayaan pembangunan melalui pendalaman pasar keuangan (financial deepening) dan penciptaan iklim yang kondusif untuk mendorong arus modal dalam bentuk FDI. Namun, dalam pandangan kami, aliran masuk FDI tersebut perlu diarahkan pada sektor-sektor yang berbasis ekspor sehingga tidak menumbulkan tekanan pada neraca transaksi berjalan.
“Kami berpandangan ketiga bidang kebijakan tersebut sangat mendesak untuk kita lakukan. Indonesia sebagai Negara berpenghasilan menengah, tidak lagi dapat mengandalkan pada upah buruh murah dan kegiatan ekonomi ekstraktif semata. Sebaliknya, perekonomian kita harus bergerak menuju kepada perekonomian mandiri yang ditopang oleh ekosistem inovasi berbasis industri. Dalam kaitan ini, perhatian yang lebih kuat dari berbagai pihak sangat diharapkan, sehingga kebijakan yang dihasilkan tidak terjebak pada kepentingan jangka pendek, tetapi melihat pada kepentingan bangsa secara jangka panjang,” jelas Agus.
Terakhir Agus mengungkapkan, pihaknya di Bank Indonesia, bertekad untuk secara konsisten mendukung reformasi struktural ini. “Kami melihat tidak ada pilihan lain bagi Indonesia untuk menjalankan hal itu agar dapat terhindar dari risiko jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap),” demikian Agus D.W. Martowardojo.

