
(http://www.asiapulppaper.com)
Asia Pulp and Paper Group (APP) mengumumkan rencana mengkonservasi satu juta hektar hutan di Indonesia. Tetapi rencana konservasi hutan APP belum jelas lokasinya, maupun waktu, dan anggarannya.
Managing Director Sustainability APP, Aida Greenbury mengatakan, setelah menerapkan kebijakan konservasi hutan sejak 2012, kunci sukses menghentikan deforestasi di Indonesia adalah lewat pendekatan tingkat lanskap terhadap restorasi dan konservasi hutan. Demikian diumumkan di sebuah hotel mewah di Jakarta, Senin 28 April 2014.
Satu juta hektar lanskap yang direncanakan adalah total dari sejumlah lokasi konsesi hutan tanaman industri APP yang berada di Bukit Tigapuluh (Jambi), Senepis (Riau), Giam Siak Kecil (Riau), Kampar Peninsula (Riau), Kerumutan (Riau), Muba Berbak Sembilang (Jambi dan Sumatera Selatan), Ogan Komering Ilir (Sumatera Selatan), Kubu Raya (Kalimantan Barat), dan Kutai (Kalimantan Timur). Luas itu hampir sama dengan total area hutan tanaman industri (HTI) yang menjadi sumber serat kayu perusahaan pada 2013.
Aida mengatakan, komitmen itu baru akan dikembangkan menjadi rencana yang terperinci dan dengan jangka waktu yang jelas pada beberapa bulan ke depan. APP berencana membentuk Rencana Pengelolaan Hutan Lestari Yang Terintegrasi, dengan menggandeng ahli nilai konservasi tinggi, ahli stok karbon tinggi, ahli social, dan tim pengelolaan lahan gambut.
Beberapa hal yang mencuat dari sesi diskusi, adalah ketidakjelasan pada berapa anggaran yang disiapkan APP, berapa persen yang berada di dalam lokasi konsesi, dan berapa persen yang di luar areal konsesi. APP malah akan membuat sebuah trust fund yang akan menggalang dana tambahan untuk kerbehasilan programnya. APP telah membentuk Solutions Working Group (SWG), yang terdiri dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat internasional dan nasional sebagai wadah pemandu.
GM Production The Forest Trust, salah satu lembaga anggota SWG, Arief Perkasa mengatakan, total wilayah konsesi APP dan pemasoknya sekarang ini sebesar 2,6 juta gross yang sudah dibuka, dan tengah dikaji lanskapnya untuk kepentingan konservasi itu. Menurut Arief, pendekatan lanskap adalah yang paling realistis untuk melakukan konservasi, mengingat kondisi hutan yang semakin terfragmentasi untuk berbagai kepentingan, padahal sesungguhnya ekosistem hutan itu saling pengaruh mempengaruhi. TFT adalah mitra APP untuk melakukan kajian tersebut.
Forest Commodities Market Transformation Program Leader, WWF –Indonesia, Aditya Bayunanda, meminta agar luas satu juta tersebut berada di luar dari lokasi 10% areal konservasi yang sudah menjadi tanggung jawab mutlak perusahaan pemilik masing-masing konsesi, sesuai peraturan menteri kehutanan. Sementara meski bergabung dalam SWG, Aditya menolak WWF disebut sebagai mitra atau konsultan dari APP.

