Indonesianis asal Amerika Serikat (AS), Prof. Ronald Lukens-Bull menyebut Indonesia memiliki identitas keberislaman yaitu sebagai “A Peacefull Jihad.”

Penilaian ini, dia dasarkan pada peristiwa menarik yang pernah terjadi di Indonesia yang dianggapnya sebagai sesuatu yang aneh, bahkan dianggap aneh juga oleh rekan-rekannya di Amerika.
“Saya ceritakan kepada teman-teman non Muslim di Amerika, mereka kaget kok bisa laskar Islam menjaga gereja. Bahkan umat Islam di Pakistan dan India juga kaget setelah saya ceritakan,” kata Ronald saat menjadi pembicara pada acara bedah Buku Keagamaan yang diselenggarakan oleh Puslitbang Kementerian Agama di aula MUI Pusat Jakarta, Kamis pekan lalu.
Karya Ronald yang berjudul “A Peaceful Jihad:Negotiating Identity and Modernity in Muslim Java,” menjadi buku yang dibedah dalam acara tersebut. Adapun peristiwa yang dimaksud Ronald adalah kejadian di Mojokerto pada 24 Desember 2000. Saat itu, seorang relawan Banser Nahdatul Ulama (NU) yang bernama Riyanto meninggal dunia saat melakukan pengamanan sebuah gereja.
- KB Bank Syariah Gelar Aksi CSR Serentak, Perkuat Kontribusi Sosial se-Indonesia
- Sambut Idulfitri 1447 H, Bank Muamalat Optimalkan Layanan Kantor Cabang dan Digital
- Royco dan Masjid Istiqlal Berbagi Kelezatan untuk Hangatkan Momen Kebersamaan di Ramadhan
- BSI Fasilitasi UMKM Go Digital dan Go Global Melalui Ajang Expo
Dikisahkan Ronald, Riyanto menemukan sebuah bom di Gereja Eben Haezersaat yang saat itu sedang menyelenggarakan Misa Natal. Karena keinginannnya untuk meyelematkan umat nasrani yang sedang melakukan ibadah, Riyanto pun rela mempertaruhkan nyawanya. “Riyanto meninggal, setelah bom yang ada dalam dekapannya meledak saat hendak dijauhkan dari lingkungan gereja,” kata Ronald.
Menurut Ronald, fakta inilah, dimana umat Islam rela mengorbankan nyawanya demi berlangsungnya ibadah umat Nasrani, yang dianggap aneh dan tidak masuk akal oleh masyarakat dunia. Bagi Ronald, keanehan ini mengantarkan kesimpulan bahwa inilah Indonesia!.” Kok bisa Riyanto yang beragama Muslim menjaga gereja hingga mengorbankan nyawanya untuk umat Nasrani? Kok bisa?…bisa dan inilah Indonesia!,” ungkap Ronald penuh emosional dengan logat bahasa Indonesia yang lancar.
Menurut Ronald, keberanian Riyanto mempertaruhkan nyawanya tidak lepas dari ideologi yang berkembang dalam tubuh Banser NU. Menurutnya, banser mampu menstransformasi diri menjadi laskar Islam yang berideologi moderat. Banser menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) beserta pilarnya yakni Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika) dan pagam keagamaan Ahlu Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) sebagai identitas organisasi.
Lebih lanjut Ronald menuturkan, dengan identitas ke-Indonesiaan dan ke-ASWAJA-an, membuat Banser dan pengikutnya mampu mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang damai dan toleran, termasuk menjaga dan melindungi umat agama lain. Seperti Riyanto yang menjaga umat Nasrani dari gangguan-gangguan kelompok radikal. “Identitas ke-Islaman inilah yang saya maknai sebagai A Peaceful Jihad,” tegasnya.
Bedah buku yang dihadiri oleh Ketua Komisi Dakwah MUI, KH. Cholil Nafis, Sekjen DPP FBI, Sobri Lubis dan Kasatkornas Banser NU, Alfa Isnaeni ini, ditutup oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemeterian Agama (Kemenag) Abd. Rahman Mas’ud.
Mas’ud berharap kerjasama antara Badan Litbang dan Diklat Kemenag dapat menjadi bid’ah baru bagi kedua lembaga yang tetap dapat dilakukan pada lain kesempatan. Mas’ud juga mendorong agar umat Islam tidak alergi terhadap pandangan akademis asing terhadap umat Muslmi di Indonesia. “ Itulah mengapa kami sengaja menghadirkan Profesor Ronald Lukens Bull yang berbagi pandangan tentang kehidupan Islam dengan para tokoh agama dan ormas Islam,” ujarnya.

