Rupiah akan menguat kalau mata uang emerging market-nya melemah.

Sehingga, lanjut dia, saat ini timbul kekhawatiran bank di China enggan menyalurkan kredit. Jika ekonominya semakin landai, investor mengkhawatirkan pemerintah China akan kembali melemahkan (devaluasi) mata uangnya.
Hal ini, menurut dia, akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia, salah satunya dari sisi mata uang rupiah. Destry menghitung, penuruan satu persen ekonomi China akan berdampak 0,34 persen terhadap Indonesia. “Rupiah akan tertahan penguatannya, kalau mata uang emerging market melemah. Sedangkan rupiah terapresiasi sendiri, tentu akan kehilangan competitiveness-nya,” kata Destry, pada seminar Prudential : Ulasan Pasar 2015 dan Market Outlook 2016 di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (14/3).
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Destry juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang masih lambat dapat mendorong penguatan rupiah dan mata uang negara-negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market).
“Pelaku pasar memperkirakan bank central AS (Federal Reserve/The Fed) hanya akan menaikan suku bunga acuan Fed Rate sebanyak satu kali hingga dua kali menjadi 0,75 persen tahun 2016 ini,” papar Destry.

