Rupiah akan menguat kalau mata uang emerging market-nya melemah.

Sehingga, lanjut dia, saat ini timbul kekhawatiran bank di China enggan menyalurkan kredit. Jika ekonominya semakin landai, investor mengkhawatirkan pemerintah China akan kembali melemahkan (devaluasi) mata uangnya.
Hal ini, menurut dia, akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia, salah satunya dari sisi mata uang rupiah. Destry menghitung, penuruan satu persen ekonomi China akan berdampak 0,34 persen terhadap Indonesia. “Rupiah akan tertahan penguatannya, kalau mata uang emerging market melemah. Sedangkan rupiah terapresiasi sendiri, tentu akan kehilangan competitiveness-nya,” kata Destry, pada seminar Prudential : Ulasan Pasar 2015 dan Market Outlook 2016 di Hotel Shangrila, Jakarta, Senin (14/3).
- Bank Mega Syariah Rayakan Harpelnas 2026 Berikan Layanan Medical Check-Up Gratis untuk Nasabah
- Bank Muamalat Indonesia Menutup Rangkaian Kegiatan HUT RI ke-81 dengan Meriah
- CIMB Niaga Hadirkan Beragam Apresiasi untuk Nasabah di Hari Pelanggan Nasional 2026
- Bank Muamalat Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Tempatkan Nasabah sebagai Pusat Inovasi
Destry juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang masih lambat dapat mendorong penguatan rupiah dan mata uang negara-negara yang pasarnya tengah berkembang (emerging market).
“Pelaku pasar memperkirakan bank central AS (Federal Reserve/The Fed) hanya akan menaikan suku bunga acuan Fed Rate sebanyak satu kali hingga dua kali menjadi 0,75 persen tahun 2016 ini,” papar Destry.

