Para tunanetra dari berbagai profesi itu sangat antusias menyetorkan hafalan Al-Qur’an. Mereka mengaku banyak manfaat dari menghafal Al-Qur’an.

Keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menghafal Al-Qur’an. Inilah yang ditunjukkan oleh 125 tunanetra di Masjid Al Barakah, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jawa Barat, pada Sabtu pekan lalu.
Mereka yang tidak mampu melihat ini berbondong-bondong menyetor hafalan Al-Qur’an. Mereka adalah berasal dari tiga rumah tahfidz naungan Daarul Quran yaitu tahfidz Nurul Qolbi Bogor, Kreo dan Cinere.
Penangungjawab Program Rumah Tahfidz PPPA, Muhammad Nasihin, mengatakan, kaum tunanetra penghafal Al-Qur’an ini berasal dari berbagai latar profesi, seperti tukang pijat, pedagang kerupuk keliling dan sebagainya. Di sela kegiatannya mereka menghafal Al-Qur’an. Setiap hari dalam satu pekan, mereka berkumpul di rumah tahfidz untuk menyetor hafalan Al-Qur’an dan memperbaiki bacaan. “Alhamdulilah program rumah tahfidz khusus tunanetra sudah berjalan lebih dari dua tahun. Subhanallah, semangat mereka menghafal Al-Qur’an sangat besar,” kata Muhammad Nasihin, seperti dikutif dari Daarul Quran, Selasa (19/5).
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
- Pembiayaan Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Melonjak 11 Kali Lipat
- Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas, Dorong Akses Investasi Emas via Flexi Gold
Menurutnya, ujian tahfidz ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana tingkat bacaan dan hafalan para santri di rumah tahfidz.
Sementara itu, Ibrahim (55 tahun) salah satu santri di rumah tahfidz Nurul Qolbi, mengaku dirinya sudah dua tahun masuk ke rumah tahfidz. Pria tunanetra yang berprofesi sebagai tukang pijat ini termotivasi belajar dan menghafal Al-Qur’an agar bacaannya baik saat menjadi imam shalat. “Saya memotivasi diri, bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kewajiban. Setiap hari saya selalu menyempatkan untuk menghafal Al-Qur’an. Alhamdulilah sejak di rumah tahfidz ada yang membimbing bacaan dan hafalan saya,” tegasnya.
Bagi Ibrahim, menjadi tunanetra bukanlah halangan untuk menghafal Al-Qur’an. Ia mengaku banyak sekali keuntungan yang didapat dari menghafal Al-Qur’an.

