Para tunanetra dari berbagai profesi itu sangat antusias menyetorkan hafalan Al-Qur’an. Mereka mengaku banyak manfaat dari menghafal Al-Qur’an.

Keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menghafal Al-Qur’an. Inilah yang ditunjukkan oleh 125 tunanetra di Masjid Al Barakah, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Jawa Barat, pada Sabtu pekan lalu.
Mereka yang tidak mampu melihat ini berbondong-bondong menyetor hafalan Al-Qur’an. Mereka adalah berasal dari tiga rumah tahfidz naungan Daarul Quran yaitu tahfidz Nurul Qolbi Bogor, Kreo dan Cinere.
Penangungjawab Program Rumah Tahfidz PPPA, Muhammad Nasihin, mengatakan, kaum tunanetra penghafal Al-Qur’an ini berasal dari berbagai latar profesi, seperti tukang pijat, pedagang kerupuk keliling dan sebagainya. Di sela kegiatannya mereka menghafal Al-Qur’an. Setiap hari dalam satu pekan, mereka berkumpul di rumah tahfidz untuk menyetor hafalan Al-Qur’an dan memperbaiki bacaan. “Alhamdulilah program rumah tahfidz khusus tunanetra sudah berjalan lebih dari dua tahun. Subhanallah, semangat mereka menghafal Al-Qur’an sangat besar,” kata Muhammad Nasihin, seperti dikutif dari Daarul Quran, Selasa (19/5).
- CIMB Niaga Laporkan Perolehan Keuangan Sembilan Bulan Pertama 2026
- BSI Luncurkan BEWIZE Gold, Cash Management Pertama dari Bank Bullion dengan Layanan Emas Institusi
- Perkuat Ekosistem Haji, Bank Muamalat Gandeng Harakah Majelis Taklim Edukasi Perencanaan Keuangan Syariah
- Prudential Syariah Luncurkan Asuransi Jiwa PRUCare 360 Syariah
Menurutnya, ujian tahfidz ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana tingkat bacaan dan hafalan para santri di rumah tahfidz.
Sementara itu, Ibrahim (55 tahun) salah satu santri di rumah tahfidz Nurul Qolbi, mengaku dirinya sudah dua tahun masuk ke rumah tahfidz. Pria tunanetra yang berprofesi sebagai tukang pijat ini termotivasi belajar dan menghafal Al-Qur’an agar bacaannya baik saat menjadi imam shalat. “Saya memotivasi diri, bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kewajiban. Setiap hari saya selalu menyempatkan untuk menghafal Al-Qur’an. Alhamdulilah sejak di rumah tahfidz ada yang membimbing bacaan dan hafalan saya,” tegasnya.
Bagi Ibrahim, menjadi tunanetra bukanlah halangan untuk menghafal Al-Qur’an. Ia mengaku banyak sekali keuntungan yang didapat dari menghafal Al-Qur’an.

