Scarf Painting

Scarf-Scarf Painting ala Nazia

[sc name="adsensepostbottom"]

Karya lukisan yang digambar dalam berbagai media semakin mendapat tempat di pasar. Produksinya yang cenderung dibuat dalam jumlah terbatas, membuat scarf painting terkesan eksklusif.

Scarf PaintingTak salah, jika meski dibandrol dengan harga relatif mahal, tetap diburu oleh konsumen setianya. Salah satunya, scarf-scarf cantik made in Nazia fabricpainting dari Surabaya ini.

Scarf, di tangan wanita yang satu ini tak sekadar menjadi pelengkap penampilan semata. Lebih dari itu juga memberi kesan dinamis dan ceria bagi pemakainya. Maklum saja, motif item fashion tersebut banyak bermain dengan warna terang, nyorak tanpa meninggalkan kesan elegan si pemakai. Dan yang penting, goresan pada motif merupakan hasil goresan tangan Tjiplies Pudji Lestari.

Scarf Painting, itulah produk Tjiplies yang dipamerkan dalam event Jatim Fair yang berlangsung di Grand City Surabaya, mulai 9 Oktober hingga 19 Oktober mendatang. Tjilies dengan bendera ‘Nazia Fabric Painting’ ikut memarakkan program tahunan yang digelar Pemprov Jatim tersebut bersama sejumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dari berbagai daerah di propinsi pimpinan Soekarwo itu. Karya-karya lukisan Tjiplies tak hanya terhampar pada lembaran kain scarf, ada juga busana khusus wanita.

“Bisnis ini sudah saya tekuni sejak 13 tahun yang lalu. Awalnya saya hanya melukis pada gaun. Namun selama empat tahun belakangan ini saya mulai mengembangkan ke objek scarf,” kata wanita yang menjadikan nama anaknya, ‘Nazia’ sebagai bendera usaha.

Wanita jebolan Fakultas Arsitektur Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) ini menceritakan awalnya membuat produk fashion painting. Waktu kecil dia melihat selendang ibunya bermotif lukisan. Dia langsung tertarik dan penasaran mencari cara bagaimana menggambar selendang dengan teknik melukis tersebut. Maklum saja, sejak kecil Tjiplies memang hobi menggambar. Pilihannya untuk masuk Arsitek juga tak lepas dari hobinya yang satu itu.

Dari situ dia tahu bahwa melukis pada hamparan kain tak sekadar menggambar dan memolesi dengan warna, melainkan juga menggunakan teknik tertentu. Setelah mempelajari tekniknya secara otodidak dia pun mulai memberanikan diri melukis pada gaun.

“Awal-awalnya saya lebih banyak bermain dengan warna yang soft. Teman-teman kemudian mengkritik untuk lebih berani menggunakan warna yang ‘jreng’, karena ketika dipakai juga lebih bagus dan memberi kesan cerah pada pemakainya. Akhirnya, sekarang ini saya lebih variasi menggunakan warna. Tapi khusus untuk scarf, saya lebih banyak bermain dengan warna yang terang dan kontras,” paparnya.

Dikatakan oleh Tjiplis, meski tampaknya sederhana, melukis pada lembaran kain tidak mudah. Selain harus pandai mengharmoniskan antara warna baju dengan gambar, teknik dan pewarnaan yang digunakan pun membutuhkan pengetahuan tersendiri.

“Kalau kita salah memilih jenis cat pewarna dan teknik pengerjaannya berbeda, sudah pasti akan berpengaruh pada hasil,” ungkap wanita yang ramah ini.

Demikian juga dengan pemilihan jenis kain, harus cermat. Melukis pada kain sutra, katun atau sifon, membutuhkan teknik dan pewarna yang berbeda.Scarf Painting

Produk Terbatas
Mengingat prosesnya cukup rumit, tak heran jika produk kain painting buatan Tjiplies ini tak bisa dibuat massal. Setiap lembaran kain membutuhkan ketekunan tersendiri untuk digambar dan diwarnai. Apalagi Tjiplies ternyata tipikal perfeksionis.

“Saya dalam membuat karya lebih sering ganti motif. Saya tidak suka motif yang sama dipakai terlalu sering,” ungkap wanita ini seraya menambahkan bahwa produknya tersebut di Indonesia hanya dia yang punya.

Apalagi produk miliknya tergolong diminati kalangan menengah atas, dan cenderung berdasarkan pesanan. “Ibu-ibu pejabat atau pengusaha biasanya menentukan gambar dan warna yang mereka inginkan. Saya tinggal menterjemahkan kemauan mereka. Begitu cocok dengan konsep gambarnya, baru saya pindah ke lembaran kain yang mereka inginkan,” imbuh Tjiplies.

Di luar pesanan, Tjiplies juga menghasilkan karya painting yang sesuai dengan inspirasinya. Dalam sebulan, dia hanya memproduksi 5-6 lembar scarf, di luar pesanan (custom). Dengan produk yang terbatas itu, tak heran bila harganya pun tak bisa dibilang murah. Untuk per lembar scarf ukuran standar, Tjiplies pasang bandrol kisaran Rp 700 ribu-Rp 800 ribu, ukuran 70 cm x 2 meter Rp 1 juta, sedangkan ukuran 1×2 meter bisa sampai Rp 2,5 juta.

“Segmen pasar dari produk saya memang kelas menengah atas,” tandasnya. Untuk pesanan, biasanya pelanggan tak hanya menentukan dari jenis lukisan (abstrak, kontemporer atau bunga-bunga), tapi juga warna yang digunakan.

Mengapa produknya mahal? Tjiplis punya alasan kuat. Pertama, motif pada gambar-gambar yang ada pada kain tersebut merupakan hasil goresan tangan (lukisan), bukan sekadar gambar tempelan Dia juga menjamin produk-produk fashion painting made in Nazia tergolong ekslusive alias tidak pasaran. Selain itu, zat pewarna yang digunakan bukan sembarang pewarna.

“Untuk mendapatkan pewarna itu saya harus impor, di Indonesia belum ada. Pernah di Jakarta ada yang menjual pewarna ini, tapi harganya lumayan mahal, tiga kali lipat dibanding harga yang saya datangkan dari impor. Saya tidak mau, apalagi pewarna itu merupakan stok lama karena tidak ada konsumen yang beli,” paparnya menceritakan petualangannya berburu pewarna fashionnya di negeri sendiri.

Untungnya, jaringan pertemanan Tjiplies di ‘luar’ cukup luas. Setiap kali ada temannya yang melanglang buana, dia tak lupa titip untuk dibelikan zat pewarna kain untuk lukisannya. Dan itu pun tidak bisa banyak, hanya beberapa botol. Sekadar tahu saja, aturan perjalanan melalui udara memang melarang barang bawaan dari zat cair.

Dia sebetulnya dapat informasi sudah ada zat pewarna lukisan yang dikemas dalam bentuk pasta. Produk tersebut ‘keluaran’ Selandia Baru. Namun hingga kini dia belum bisa membeli produk tersebut karena harganya juga relatif mahal.

Tjiplies berani menjamin meski karya lukisannya yang ada pada gaun ataupun scarf tak mudah memudar. Bahkan dengan perawatan yang tepat, warna yang menempel pada kain bisa awet sampai tahunan.

“Asal memperhatikan teknik perawatannya,” kata Tjiplies mengingatkan. Dalam hal ini, setiap kali ada konsumen atau pelanggan yang membeli produknya, dia tak lupa selalu menyertakan tips untuk merawat scarf atau gaun made in ‘Nazia’.

Seperti apa? Pertama, saat menjemur tidak boleh langsung kontak dengan sinar matahari. Kedua, waktu mencuci tidak boleh menggunakan detergen, ketiga tidak boleh diseterika secara langsung, tidak boleh kontak langsung dengan cairan parfum/pewangi.