Akhir pekan lalu Sekolah Pemimpin Hidayatullah menggelar pelatihan jurnalistik Islam bagi santrinya.

Dalam acara tersebut, pimpinan Hidayatullah Media, Mahladi, mendorong para santri yang masih remaja untuk benar-benar mencintai kegiatan menulis. “Berperang dengan senjata pena memiliki dampak yang luar biasa terhadap perubahan.Kalau kita perang dengan senjata, satu peluru hanya bisa membunuh satu kepala. Tetapi dengan pena, kita bisa mempengaruhi jutaan otak manusia,” ungkapnya, dalam siaran pers yang diterima mysharing, Jumat (8/5). Baca: Wirausahawan Perlu Keterampilan Menulis
Ia pun menekankan akan pentingnya jurnalis Muslim mengerti tata cara dan etika dalam menulis.Islam tidak mengajarkan umatnya berkata kasar, apalagi menulis dengan tidak lembut dan tidak berdasar. “Jurnalis Muslim harus benar-benar mampu bertanggung jawab dengan isi tulisannya. Bahkan, secara etika mesti disadari bahwa etika jurnalis Muslim jauh lebih berat dibanding etika jurnalis umum. Jurnalis Muslim tidak boleh mengangkat berita bernada ghibah atau fitnah,” tegas Mahladi.
- CIMB Niaga Launching Preferred BOSS di Wealth Xpo 2026, Solusi Terintegrasi Pengusaha Mengembangkan Bisnis dan Kelola Kekayaan
- Sinergi Bank Muamalat dan RS PMI Bogor Perkuat Keuangan Syariah dan Gerakan Sosial
- Jumlah Peserta DPLK Syariah Muamalat Terus Meningkat
- CIMB Niaga Luncurkan OCTO Arena di Jakarta, Perluas Pengalaman Lifestyle Padel Nasabah dan Masyarakat
Sementara, pimpinan Majalah Mulia, Imam Nawawi menekankan pentingnya generasi muda menikmati kegiatan menulis. “Kalau ada ungkapan bahwa menulis itu sulit, bangun saja persepsi dalam diri bahwa menulis itu lezat, enak dan nikmat, sehingga ketika hendak menulis, bukan beban yang pertama muncul dalam diri kita, tetapi ketertarikan yang tinggi,” katanya. Baca Juga: Kiat Menulis Karya Ilmiah Ekonomi Syariah

