Akhir pekan lalu Sekolah Pemimpin Hidayatullah menggelar pelatihan jurnalistik Islam bagi santrinya.

Dalam acara tersebut, pimpinan Hidayatullah Media, Mahladi, mendorong para santri yang masih remaja untuk benar-benar mencintai kegiatan menulis. “Berperang dengan senjata pena memiliki dampak yang luar biasa terhadap perubahan.Kalau kita perang dengan senjata, satu peluru hanya bisa membunuh satu kepala. Tetapi dengan pena, kita bisa mempengaruhi jutaan otak manusia,” ungkapnya, dalam siaran pers yang diterima mysharing, Jumat (8/5). Baca: Wirausahawan Perlu Keterampilan Menulis
Ia pun menekankan akan pentingnya jurnalis Muslim mengerti tata cara dan etika dalam menulis.Islam tidak mengajarkan umatnya berkata kasar, apalagi menulis dengan tidak lembut dan tidak berdasar. “Jurnalis Muslim harus benar-benar mampu bertanggung jawab dengan isi tulisannya. Bahkan, secara etika mesti disadari bahwa etika jurnalis Muslim jauh lebih berat dibanding etika jurnalis umum. Jurnalis Muslim tidak boleh mengangkat berita bernada ghibah atau fitnah,” tegas Mahladi.
- Fauzi Arfan Resmi Terpilih sebagai Ketua Umum AASI 2026–2029
- Milad ke-34, Bank Muamalat Perkuat Sinergi Filantropi: Renovasi Masjid-Musala di Wilayah Bencana Sumatera
- Milad ke-34, Bank Muamalat Teguhkan Komitmen Tumbuh Bersama dan Memberi Manfaat
- BCA Syariah Gelar Aksi Donor Darah dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Sementara, pimpinan Majalah Mulia, Imam Nawawi menekankan pentingnya generasi muda menikmati kegiatan menulis. “Kalau ada ungkapan bahwa menulis itu sulit, bangun saja persepsi dalam diri bahwa menulis itu lezat, enak dan nikmat, sehingga ketika hendak menulis, bukan beban yang pertama muncul dalam diri kita, tetapi ketertarikan yang tinggi,” katanya. Baca Juga: Kiat Menulis Karya Ilmiah Ekonomi Syariah

