Ekonom Senior Indef, Bustanul Arifin (Kemeja Batik, kedua dri kiri) pada seminar Tengah Tahun Indef 2017 bertajuk "Mengurai Solusi Ketimpangan" di IPMI International School, Jakarta, Rabu (19/7). foto:MySharing.

Sektor Pertanian Bisa Atasi Ketimpangan Ekonomi

[sc name="adsensepostbottom"]

Solusinya dengan cara pembangunan pertanian secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Ekonom Senior Institute for Development of Econom (Indef), Bustabul Arifin menuturkan, bahwa ketimpangan ekonomi di Indoensia yang semakin buruk bisa diatasi melalui pemanfaatan sektor pernian. “Berdasarkan penelitian saya, ketimpangan di Indonesia semakin memburuk sejak otonomi daerah,” ucap Bustanul dalam seminar bertajuk “Mengurai Solusi Ketimpangan” di IPMI International School, Jakarta, Rabu (19/7)..

Dalam penelitiannya itu, Bustanul mengindentifikasi masalah ketimpangan menjadi beberapa bagian. Yakni, pertama, adalah ketimpangan terjadi karena sektor pertanian yang semestinya bisa menyerap tenaga kerja tidak berjalan dengan semestinya. “Pertanian ini merupakan mata pencarian utama warga desa. Nah, sayangnya ketimpangan cukup tinggi terdapat di desa-desa,” ujar Bustanul.

Kedua, yaitu, masalah pemerataan kepemilikan aset yang lebih banyak dikuasi perusahaan. Buruknya, kata Bustanul, sumber daya,  infrastruktur,dan kurangnya dukungan pemerintah yang tidak produktif di sektor pertanian.

Sepertinya halnya, tambah dia, harga beras di pasar Indonesia meningkat tajam. Ini dikarenakan tingginya biaya produksi sehingga petani lokal tidak mampu bersaing dengan beras impor yang terus ditingkatkan oleh pemerintah, setiap tahunnya.

Masalahnya, ungkap Bustanul, terjadi di hulu, sumber daya manusia (SDM) tidak jauh berbeda dengan negara tetangga. Tapi, biaya tanam yang menjadi masalah, yakni dua kali lipat, upah buruh tinggi. Dan, Indonesia tidak mampu bersaing.

“Sekarang ini mahal mencari orang untuk memanen padi. Makanya beras Thailand masuk ke Indonesia. Buruh tani kita menjerit. Buruh tani kita juga hanya lebih maju dari India,” tukas Bustanul

Lalu apa solusinya? Bustanul menuturkan, solusinya dengan cara pembangunan pertanian secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Ini memang dibutuhkan keberpihakan pemerintah dalam hal pemesanan, pendistribusi, patokan harga, penanaman benih hingga panen.

“Saya usul reformasi agraria secara menyeluruh. Ya dalam pelaksanaaanya petani harus didampingi. Beri mereka jalan yang mudah ke pasar, pembelian bibit, dan distribusí. Semua harus dibantu tidak boleh dilepas begitu saja,” ungkap Bustanul.

Adapun solusi kedua, kata Bustanul, adalah industrialisasi pedesaan dengan kreatifitas. Karena pembangunan pedesaan harus dengan metode kemitraan, di mana usaha besar dan kecil saling membantu untuk menciptakan peluang lapangan pekerjaan.

[bctt tweet=”Perlu reformasi agraria secara menyeluruh!” username=”my_sharing”]

Selain itu, desa juga harus didorong untuk lebih memanfaatkan teknologi informasi (IT), seperti media social untuk jemput bola. Dengan begitu, jurang kemiskinan di desa dengan kota dapat diminimalisasi.