sentimen bisnis asia bangkut
Hongkong. Foto: Business Insider

Sentimen Bisnis Asia Menguat

[sc name="adsensepostbottom"]

51% korporasi di Asia optimis ekonomi akan membaik pada 2015. Penyebabnya perbaikan ekonomi Paman Sam dan turunnya harga minyak.

sentimen bisnis asia bangkut
Hongkong. Foto: Business Insider

Sentimen bisnis di antara perusahaan-perusahaan top Asia naik lagi pada Kuartal IV/ 2014. Kenaikan hingga ke posisi kedua tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Survey Thomson Reuters dan sekolah bisnis internasional ternama berbasis di Amerika Serikat (AS), INSEAD menunjukkan naiknya kembali gairah ini dibantu oleh menguatnya ekonomi AS dan turunnya harga minyak dunia.

Thomson Reuters/INSEAD Asian Business Sentiment Index (RACSI) meningkat ke 72 pada Kuartal IV ini dari 66 di kuartal sebelumnya. Dari seluruh indikator, 50 di antaranya menunjukkan proyeksi positif untuk tahun depan.

Perusahaan-perusahaan di India yang paling banyak mendorong peningkatan indeks RACSI ini. Perusahaan-perusahaan di India mencatat skor tertinggi hingga 100 seiring dengan program Perdana Menteri, Narendra Modi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negeri itu dengan lebih cepat.

Korporasi di China, terlihat masih agak khawatir dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi negerinya. Kekhawatiran ini menghasilkan skor maksimum 50 dalam penghitungan indeks RACSI, sedikit di bawah korporasi Jepang yang mendapat skor 56.

Tingkat pengangguran di Amerika Serikat (AS) turun pada November lalu, memberika sinyal bahwa ekonomi terbesar di dunia ini sedang bangkit kembali. Sebagaimana diketahui, AS menjadi negara tujuan ekspor utama bagi banyak korporasi Asia.

“Kepemimpinan ekonomi AS memengaruhi ekspektasi di seluruh dunia. Dan, AS menjadi semakin kuat saat ini,” kata Antonio Fatas, Profesor Ekonomi dari Sekolah Bisnis INSEAD sebagaimana dilaporkan Reuters. Fatas menambahkan, Asia adalah wilayah yang tidak banyak direcoki oleh urusan politiknya sendiri, melainkan wilayah yang tumbuh bersama apa-apa yang terjadi di dunia. Artinya, dibanding kawasan lain, seperti Timur Tengah dan Eropa Timur, kawasan Asia lebih stabil dan karenanya lebih terintegrasi dengan perkembangan ekonomi global.

Iklim ekonomi yang membaik di AS, ditambah penurunan harga minyak dunia mendorong ekonomi Asia terutama ketika itu terkait dengan kebutuhan impor minyak mentahnya. Inilah yang menurut Sang Profesor mendorong sentimen bisnis korporasi Asia.

Meski begitu, Fatas memperingatkan, ketidakpastian tetap membayang, tidak hanya korporasi di China yang masih “duduk dan menunggu” untuk melihat indikator-indikator pertumbuhan ekonomi dunia, juga sebenarnya korporasi di seluruh Asia.

Ketidakpastian ekonomi global masih menjadi perhatian besar yang memengaruhi sentimen bisnis korporasi di Asia, selama Kuartal IV ini. Terutama, terkait jatuhnya mata uang banyak negara Asia terhadap Dolar AS yang meningkatkan biaya dan risiko lainnya seperti perubahan kebijakan.

Indonesia dan Malaysia Tidak Menjawab
Korporasi Singapura mendapat skor 50. Korporasi singapura masih optimis dengan 80% memandang secara netral dan melaporkan stabilitas perusahaannya yang antara lain ditandai dengan tidak berubahnya jumlah normal tenaga kerjanya.

Thailand mendapat skor 81, turun dari Kuartal sebelumnya di 90. Sekitar setengah dari delapan responden melaporkan masih mendapat permintaan pasar yang stabil. Ketidakpastian politik yang empat terjadi di negeri gajah putih itu dan volatilitas harga minyak menjadi kekhawatiran utama mereka saat ini dibandingkan dengan ketidakpastian ekonomis ecara global.

Korporasi di Indonesia dan Malaysia, yang masing-masing mendapatkan skor 75 dan 67 pada Kuartal III lalu tidak menjawab pada survey sentimen bisnis terakhir untuk tahun ini.

Survey oleh Thomson Reuters bekerjasama dengan sekolah bisnis internasional INSEAD ini dilakukan pada 1-13/12. Dari 116 perusahaan yang menjawab survey, 51% menunjukkan proyeksi positif, sedangkan 42% menyatakan netral, dan hanya 7% yang memandang pesimis kondisi ekonomi global dalam jangka waktu dekat ini.