Ramadhan kurang pas tanpa kue-kue tradisional. Di Kampung ini, kue sudah menjadi bagian penting hidup penduduknya, bahkan gantungan nafkah. Tengok cerita mengenai Kampung Kue di Kota Surabaya ini.

Tengoklah ‘Kampung Kue’ yang ada di Rungkut Lhor Gang 2 RT04/RW05 Kecamatan Rungkut Surabaya ini. Sebanyak 50 persen para ibu di kampung ini sudah bisa mengandalkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan jualan kue.
Aktivitas para penjual kue ini mulai tampak usai Subuh. “Setelah subuh, ibu-ibu penjual kue di sini sudah sibuk menyiapkan pesanan dari para rengkek (penjual jajanan eceran keliling, red) maupun pesanan lain dari luar kota seperti Sidoarjo, dan kota-kota di sekitar Surabaya,” kata Wakil Ketua Perkumpulan Kampung Kue, Sumiatun.
Jadi, jam 05.30 praktis semua pesanan kue di berbagai rumah penjual kue yang ada di kampung itu sudah diambil oleh para pemesan. Maka, tak perlu heran bila memasuki kampung ini pada pagi hari sekitar jam 8, kesan ‘Kampung Kue ‘ benar-benar tidak tampak.
Turun Temurun
Sejak kapan warga kampung ini mengandalkan hidup dari jualan kue? Wanita yang akrab dipanggil Ibu Pri ini menuturkan sebetulnya sudah lama warga di kampung tersebut turun temurun mempunyai keahlian membuat jajanan pasar. Namun kampung mereka mulai dikenal sebagai kampung kue sejak empat tahun belakangan ini.
“Sebelumnya, setiap kali datang mengikuti pelatihan di berbagai tempat, kami mengatasnamakan dari ‘Kampung Kue’,” kata wanita berkacamata ini.
Seiring berjalannya waktu, nama Kampung Kue yang diusung mereka mulai diperhatikan orang. Banyak yang ingin tahu seperti apa kualitas kue buatan mereka.
“Pada awalnya kami tidak percaya diri untuk menjual kue kami ke ‘pasar’ luas. Kami hanya membuat
kalau ada pesanan saja.Tapi suatu hari kami ditanya sama Bu Irul. Apa nggak mau kuenya dipasarkan lebih luas? Saya jawab, apa kue saya laku,” kata wanita ini.
Sekadar diketahui, wanita yang disebut Mbak Irul adalah sang penggagas ‘Kampung Kue’. Irul yang juga dikenal sebagai salah satu Pengurus Serikat Perempuan Pekerja Rumahan Indonesia meminta ibu-ibu yang punya keterampilan membuat kue untuk berani mencoba memasarkan produknya lebih luas lagi. Sebab, tanpa dicoba mereka tidak pernah tahu peluang yang mereka miliki. Dan benar, langkah awal mereka untuk menjual jananan di pasar terdekat di lingkungan tempat tinggal mereka, yakni Pasar Soponyono mendapat respon bagus.
“Kue terangbulan mini yang saya titipkan ke pasar sebanyak 50 biji habis terjual. Dari sana muncul kepercayaan diri saya bahwa kue saya ternyata laku di pasaran. Hal yang sama juga dialami ibu-ibu yang lain. Kami akhirnya tidak ragu lagi untuk membuat kue sesuai keahlian kami masing-masing dan kami pasarkan tidak lagi ke pasar tapi ke instansi atau pengecer keliling,” paparnya.
Bahkan, kata Ibu Pri yang juga spesialis membuat kue coklat ini, produk kue coklatnya sudah dijual sampai ke Bali dan Philipina. Wanita ini memang satu-satunya spesialis pembuat kue coklat di Kampung Kue. Selain kue coklat, dia juga menguasai membuat kue basah terangbulan mini, kue lumpur fla, bikang mawar, dan jajanan pasar lain.
Sekadar gambaran, di kampung kue ini selain pada umumnya bisa membuat kue basah atau jajanan pasar, ada beberapa di antaranya yang dikenal spesialis membuat kue/jajanan tertentu. Misalnya, Ibu Pri dikenal sebagai spesialis terangbulan mini, Fitrotoel Choesniah pandai membuat kebab, dan Mbak Irul dikenal spesialis membikin sosis solo.
Sang Penggagas?
Berkembangnya Kampung Kue hingga dikenal seperti sekarang memang tidak lepas dari jasa Choirul Mahpuduah yang akrab dipanggil Mbak/Bu Irul. Dialah yang merupakan penggagas sekaligus Ketua Perkumpulan Kampung Kue.
Irul sendiri merintis kampung kue itu sejak tahun 2009. Awalnya para ibu ini tidak terkoordinasi. Jumlahnya pun belum banyak, yakni masih 20 orang. Mereka juga cenderung masih bekerja sendiri-sendiri. Bila mereka menerima pesanan kue yang tidak dikuasai akan ditolak. Namun setelah ada Kampung Kue, kegiatan mereka lebih terorganisasi, tidak ada pesanan yang tidak mereka terima.
Kini dari 20 pembuat kue telah berkembang menjadi lebih dari 60 pembuat kue. Artinya sepertiga kaum ibunya dari 200 Kepala Keluarga yang ada di sana adalah pembuat kue. Peningkatan secara ekonomi terlihat jelas, pihak pemerintah daerah pun mengakui ada peningkatan signifikan dari warganya yang tinggal di Rungkut Lhor Gang 2 RT04/RW05.
Kendala Modal
Meski sebagian kaum wanita di Kampung Kue mampu memberdayakan perekonomian mereka dari jualan kue basah atau kering, mereka masih belum mampu mengembangkan usahanya secara maksimal.
Ibu Pri mengungkapkan banyak instansi dari pemerintah maupun lembaga swasta yang menengok dan mensurvei Kampung Kue ini. Namun hingga kini belum ada pihak yang mengulurkan dana hibah atau kucuran kredit dengan bunga ringan yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan usaha.
Padahal, dengan predikat Kampung Kue yang dikenal seperti sekarang, mereka yakin bisa meningkatkan produktivitas kue mereka lebih besar dari sekarang. “Tapi karena terhambat dari pemodalan, kami tidak bisa memaksimalkan lagi,” ungkapnya.
Seperti dirinya misalnya, pada hari Valentine atau menerima pesanan dia bisa menjual kue coklat kemasan miliknya 5-6 dos (1 dos berisi 6 toples) dengan harga per dos Rp 150 ribu. Namun menjelang lebaran seperti sekarang dia bisa menjual sampai 200 set. “Sebetulnya bisa lebih dari itu, tapi karena modal terbatas ya nggak bisa,” ungkapnya.
Bicara soal keuntungan, Bu Pri mengatakan keuntungan dari kue basah dia bisa meraup Rp 75 ribu per hari. Pada bulan Ramadan keuntungannya bisa naik sampai 30 persen per hari. Dia mengaku untuk mengembangkan bisnis, penjual kue seperti dirinya minimal butuh kucuran modal Rp 2 juta. “Kalau bicara idealnya sih mestinya butuh Rp8 juta-Rp 10 juta. Itu baru bahan lho,” ungkapnya.
Bendahara Koperasi Perkumpulan Kampung Kue, Fitrotoel Choesniah mengungkapkan, koperasi yang baru berdiri tahun 2010 saat ini baru bisa melayani anggotanya 4 orang per bulan dengan nilai pinjaman maksimal Rp 2 juta dan jasa (bunga) 6 persen per tahun.
Wanita yang akrab dipanggil Mbak Pipit sendiri punya keahlian membuat tortila (kulit kebab). Lewat keahliannya, dia tak hanya melayani para distributor kebab tapi juga pemilik franchise kebab.
Merasa produknya sudah mendapat pengakuan pasar, Pipit dan keluarganya bahkan sudah berencana untuk mengibarkan bendera franchise kebab sendiri. “Tapi ya kendalanya memang modal,” ungkapnya.
Melihat potensi bisnis para ibu dari Kampung Kue rasanya memang sayang bila peluang mereka untuk mengepakkan bisnis lebih luas lagi harus terhambat gara-gara keterbatasan modal. Siapa tahu dengan kucuran modal disertai bunga ringan bisa ‘menyulap’ Kampung Kue’ menjadi ‘Pabrik Kue’.

