Shamsi Ali

Shamsi Ali : Dialog antar Agama Jangan Hanya pada Level Pemimpin

[sc name="adsensepostbottom"]

Perbedaan akidah tidak membuat kita terpecah belah, tapi bisa bersama-sama membangun dunia.

Imam Masjid Al-Hikmah New York,  Shamsi Ali berbagi kisah awal pertemuan dengan seorang rabi Yahudi di sebuah acara televisi di Amerika Serikat (AS). “Kami bersalaman, tapi rabi tersebut menghindari bertatap muka dengan saya,” kata Shamsi dalam diskusi bertajuk “Kehidupan Beragama di AS”, di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat @america, Jakarta, Rabu pekan lalu.

Namun beberapa bulan kemudian, lanjut Shamsi, rabi tersebut mengajaknya bicara. Saat pertemuan, rabi itu mengaku benci pada Muslim. Tapi setelah mendengar penjelasan Shamsi di televisi dan berbagai kesempatan, rabi pun berubah pandangan terhadap Muslim.

Shamsi mengaku dirinya dan rabi menjadi terbuka untuk bicara banyak hal, termasuk klarifikasi soal jihad dan konsep keterpilihan dalam ajaran Yahudi. “Dari sana kami berpikir, apa yang bisa dilakukan bersama. Maka, muncullah konferensi imam dan rabi. Awalnya pertemuan sangat kaku, tapi akhirnya bias melunak,” ungkap Shamsi disambut takbir Allahu Akbar jamaah.

Shamsi menjelaskan, untuk menghilangkan dugaan dan kecurigaan satu agama dengan yang lain perlu dibiasakan dialog. Namun, dialog yang digelar jangan hanya sebatas konferensi tapi juga program bersama yang melibatkan para pemeluk agama.

Menurut Shamsi, dialog agama ini diperlukan tidak hanya dari sisi sosial, karena mayoritas dan minoritas, tapi dunia memang menghendaki demikian. Kehidupan global sekarang sudah demikian dekat, kelompok manusia mempunyai inter-dependensi, tidak ada yang bisa berdiri sendiri dan harus kerja sama satu sama lain. “Dialog antar umat beragama ini penting agar ada kesepahaman. Perbedaan akidah tidak membuat kita terpecah belah, tapi bisa bersama-sama membangun dunia,” tegas Shamsi.

Shamsi pun menilai,  bahwa aksi 4 November dan 2 Desember 2016 dalam tajuk “Aksi Super Damai Bela Islam,” harus menjadi kebangggan umat Islam. Karena dengan massa sebanyak itu, umat Islam bisa menyampaikan aspirasi dengan demokrasi dan damai.

Aksi itu, menurut Shamsi, bukan kebencian pada satu kelompok tertentu, namun momen itu harus diperjuangkan oleh pemimpin umat Islam untuk bersama-sama menentramkan keadaan yang sedang terjadi. “Saya berharap, dialog antar agama ini kemudian juga jangan hanya pada level pemimpin agama, tapi dibawa ke level akar rumput. Makanya masyarakat atau umat harus dilibatkan,” imbuh Shamsi.

Kembali Shamsi mengingatkan, bahwa dialog antar agama itu bukan bicara agama, tapi tanggung jawab nilai agama. Misalnya, Shamsi mencontohkan, umat Islam dan Kristiani bersama-sama melakukan sebuah program sosial untuk masyarakat. Jadi, dialog itu tidak hanya dilakukan di gedung, tapi juga di masyarakat sehingga ini menjadi hal yang biasa dalam upaya membangun kebersamaan kerukunan hidup.

 

.