Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang fokus terhadap pendidikan dan pembinaan 24 jam, baik formal ataupun informal. Bahkan, dewasa ini pesantren tidak hanya identik dengan rutinitas ibadah, tetapi juga dapat bersaing dalam sains dengan sekolah formal lain.

Namun di saat yang sama juga harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan ummat pada zamannya, sehingga akan lebih siap jika suatu ketika dilepas perjalanannya. “Seperti saat Lirboyo melahirkan pesantren-pesantren anak cucunya seperti Tebu Ireng dan Krapyak, itu menjadi sebuah basis yang patut dijaga untuk harus terus melahirkan kader-kader ulama,” kata Bachtiar, dalam siaran pers yang diterima mysharing, Rabu (2/12).
Dengan adanya regenerasi, lanjut Bachtiar, para dai dan ulama pun bisa terus mensyiarkan agama. “Semakin banyaknya guru menyampaikan dakwah, tentu juga akan mengurangi distorsi pengertian dari dinamika terkait Islam yang terjadi di masyarakat,” katanya. Baca: MUI akan Sertifikat Da’i
- Bank Mega Syariah Rayakan Harpelnas 2026 Berikan Layanan Medical Check-Up Gratis untuk Nasabah
- Bank Muamalat Indonesia Menutup Rangkaian Kegiatan HUT RI ke-81 dengan Meriah
- CIMB Niaga Hadirkan Beragam Apresiasi untuk Nasabah di Hari Pelanggan Nasional 2026
- Bank Muamalat Rayakan Hari Pelanggan Nasional 2026, Tempatkan Nasabah sebagai Pusat Inovasi
Ia menyontohkan seperti bergulirnya perbincangan tentang Syiah, ISIS, Wahabi dan lain-lainnya, yang menjadi trending topic sekarang ini. “Di situlah peran ulama dan orang-orang pesantren dibutuhkan untuk meluruskan dan menundukkan persoalan ini. Karena jika tidak teratasi, itu berpotensi untuk menimbulkan perpecahan yang sangat sadis,” ujar Bachtiar.

