
Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Tabungan Negara (BTN) tetap akan dipisahkan dari induknya. Inilah salah satu hasil dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan bank yang identik dengan pembiayaan perumahan tersebut.
Dari RUPST tersebut, jajaran direksi BTN bertambah empat wajah baru. Seiring dengan pergantian direksi tersebut, kebijakan manajemen BTN akan tetap sama, yaitu baru akan melakukan spin off BTN Syariah di 2015.
Direktur Utama BTN, Maryono, mengatakan kendati ada perubahan jajaran direksi, Spin Off BTN Syariah tidak akan berubah. “Kami belum berencana untuk spin off unit syariah di tahun ini, nanti di 2015,” katanya usai RUPST, Selasa (25/2).
Ia menambahkan untuk saat ini BTN akan terus fokus pada pengembangan bisnis KPR yang menjadi andalan BTN. Saat ini pembiayaan KPR BTN sudah menjangkau ke seluruh Indonesia. Wilayah yang menjadi emerging markets KPR adalah Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera.
Direktur BTN, Irman Zahiruddin, mengatakan BTN pun akan tetap mendukung program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang diinisiasi oleh Kementerian Perumahan Rakyat.”Untuk FLPP ini BTN ingin tetap mendominasi dengan market share di atas 90 persen,” ujar Irman.
Pada RUPST BTN menunjuk empat direksi baru, yaitu Hulmansyah, Sri Purwanto, Rico Budidarmo, dan Imam Nugroho Soeko. Empat orang tersebut melengkapi jajaran direksi BTN yang sudah ada, yaitu Irman Zahiruddin, Maryono dan Mansyur Nasution. Sampai akhir Desember 2013, aset UUS BTN mencapai Rp 9,57 triliun, pembiayaan tercatat Rp 8,08 triliun, dan dana pihak ketiga sebesar Rp 6,59 triliun. BTN juga mencetak peningkatan laba sebesar 46,8 persen atau sebesar Rp 126 miliar.
Spin Off BTN Syariah telah menjadi wacana setidaknya selama tiga tahun terakhir. Hal ini tak terlepas dari kapasitas BTN Syariah yang memang sebenarnya mumpuni untuk dipisahkan dari induknya.

