Suara Jepang di Panggung Belanda

[sc name="adsensepostbottom"]
Berfoto bersama (kiri-kanan) pemimpin Teater Garasi, Yudi Ahmad Tajuddin dan Duta Besar Belanda Foto: Dokumen Erasmus Huis, Tjeerd de Zwaan
Berfoto bersama (kiri-kanan) pemimpin Teater Garasi, Yudi Ahmad Tajuddin dan Duta Besar Belanda, Tjeerd de Zwaan, sebelum pementasan Sehabis Suara #1 oleh Teater Garasi, Rabu 22 Maret 2014.
Foto: Dokumen Erasmus Huis

Suara Jepang di panggung Belanda, ruang teater Erasmus Huis, Kuningan, Jakarta Selatan, diucap oleh aktris Tomomi Yokosuka, Rabu 26 Maret 2014. Bagian dari pementasan Teater Garasi bertajuk “Sehabis Suara #1”, karya sutradara dan pemimpin teater tersebut, Yudi Ahmad Tajudin.

Tomomi duduk di belakang meja saat itu, di beberapa menit awal pentas dimulai. Dihadapannya, duduk sesosok lelaki Indonesia hanya memakai kemeja, tanpa bawahan celana luar, membelakangi penonton. Tidak ada terjemahan bahasa Indonesia dari yang diucap Tomomi, hingga pementasan berakhir, setelah 30 menit.

Adegan-adegan awal menunjukkan sosok-sosok yang berpakaian tidak lengkap: lelaki memakai atasan saja, lelaki memakai bawahan saja, dan perempuan yang hanya berpakaian dalam. Peralihan pakaian terjadi setelah tiga orang tadi duduk di meja bersama Tomomi, makan tomat bersama. Selama di meja bersama, keempat sosok tersebut tampak akur. Sebelumnya, ketika satu per satu menghadap Tomomi, tiga orang tersebut cenderung menunduk. Dua lelaki kemudian berpakaian lengkap, dengan atasan dan bawahan, namun yang perempuan tetap dengan pakaian yang sejak awal.

Setelah duduk bersama, kemudian berpencar, setiap sosok tampak menari dengan lebih bersemangat, dan membuat suara. Yang menarik, adegan saat tiap sosok wajahnya mendekati perangkat speaker, mereka menampilkan ekspresi seperti terpapar angin yang sangat kencang.

Properti panggung yang dominan adalah set meja dengan kursi, tempat Tomomi menjadi tuannya, dan set bingkai-bingkai jendela tinggi seperti sekat dengan satu berpintu yang bolak-balik dibuka tutup oleh para pemainnya.

Terbaca dari penampilan keseluruhan, Teater Garasi ingin menampilkan problem filsafat komunikasi, yakni masyarakat sekarang yang semakin terhubung, sehingga sulit lagi membedakan mana yang asli, dan mana yang asing. Sebelum tahun 1998, ada media komunikasi yang dihambat, namun setelahnya media tersebut dibuka sehingga muncul masalah kejernihannya.

Yudi mengatakan, proyek tersebut secara keseluruhan bertajuk  Sehabis Suara, yang dimulai sejak Juli 2013. Penampilan di Erasmus tersebut adalah perdana untuk tajuk dengan #1 tersebut, yang merupakan karya mandiri. Jika ada seri #2 dan seterusnya, pun tidak berarti sekuel. Sementara belum diketahuinya, akan sampai seri ke berapa. Inspirasi tema Sehabis Suara didapat dari puisi karya Sapardi Djoko Damono, bertajuk “Sehabis Suara Gemuruh”.

Naskah yang disuarakan disela-sela penampilan dicuplik dari dari “13 Objects” oleh Howard Barker dan “Macbeth” oleh William Shakespeare.

Dalam sinopsisnya diterakan, “Sebuah pentas tari-teater berdasar refleksi dan investigasi terhadap erupsi suara selama periode setelah tahun 1998, dan tentang tensi di dalam dan di luar yang membentuk situasi tersebut. Penampilan ini bagian pertama dari proyek berjalan Teater Garasi yang mencoba untuk melacak dan menampilkan bagaimana sebuah suara atau narasi menyela, mengganggu, dan mempertajam subjek (individu atau social) dalam sebuah dunia yang semakin terhubung. Dalam derajat tertentu, kemurnian subjek dan masyarakat, terbangun di sekitar suara/ narasi, dan dengan cara suara dan narasi, karena suara itu mendalam dan berjarak, secara jasmaniah dan tidak, membuatnya menubuh dan menjadi social dengan cara beresonansi. Sebanyak apapun, suara/ narasi bisa menyampaikan kepada kita bagaimana tubuh dan social pada umumnya terbangun, mengganggu, dan terganggu. Di sisi lain, pergerakan social didominasi oleh sejarah dan kisah, dan narasi berangkat menuju jiwa penafsirah kebudayaan dan imajinasi, wacana public, dan identitas bersama.“

Pertunjukkan tersebut digelar setelah seremoni penyerahan anugerah Prince Claus Award tahun 2013 untuk seniman Indonesia yang secara simbolis diserahkan oleh Duta Besar Belanda Tjeerd de Zwaan kepada Yudi, dan sambutan-sambutan di panggung yang sama. Anugerah tersebut menyertakan nominal uang senilai 25.000 Euro.