Melepas subsidi BBM dan membiarkan harga-harga terus naik setelahnya dinilai bertentangan dengan ajaran Islam.

Hal senada dikatakan Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI Muhyiddin Jubaidi. Ia mempertanyakan, ,mengapa disaat minyak mentah dunia turun dari 110 dolar AS perbarel menjadi 80 dolar AS perbarel, Jokowi malah menaikkan BBM.”Adanya negara itu kan untuk membantu rakyatnya. Wajar kalau rakyat diberikan subsidi, apalagi di Indonesia mayoritas umat Muslim,” kata Muhyiddin kepada MySharing. Baca juga: Buat Apa Ada Negara Kalau Rakyat Menderita
Menurutnya, rakyat Indonesia yang miskin berhak mendapatkan subsidi dari negara. Jangankan di Indonesia, di negara eropa seperti Belanda, rakyat miskin itu mendapatkan jaminan sosial. Sehingga kalau kita menilik, bahwa kebijakan menaikan BBM itu, di satu sisi adalah menguntungkan pengusaha energi terutama pombensin-pombensin asing. “Mereka senang, harga pertamax sudah hampir sama dengan BBM subsidi,” kata Muhyiddin.
- BCA Syariah, BEI dan Henan Sekuritas Berkolaborasi untuk Edukasi Keuangan Syariah Bagi Mahasiswa PNJ
- CIMB Niaga Tingkatkan Pengalaman Nasabah di Bandung melalui Digital Branch Pasirkaliki
- ANTAM dan Bank Muamalat Jalin Kerja Sama Strategis Perkuat Ekosistem Emas Nasional
- CIMB Niaga Perkuat Budaya Kepedulian melalui Employee Volunteering Day 2026
Lebih jauh ia menuturkan, kalau Jokowi berdalih dana subsidi BBM akan dialihkan untuk pengembangan maritim dan swasembada pangan, itu hanya pencitraan. Mengapa? Karena ini masalah kebocoran penyelundupan migas oleh pihak-pihak tertentu dan Jokowi tidak mau terkena imbasnya. Inilah letak pencitraan yang sudah jelas terlihat. “Apakah adil menaikkan BBM tetapi tidak berani memberantas mafia migas yang merugikan negara puluhan triliun rupiah? Padahal, ketika kampanye dulu, Jokowi kerap mengatakan akan memberantas segala macam mafia, termasuk mafia migas,” pungkasnya.
Pakar ekonomi syariah – Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS, yang juga Ketua Umum Baznas, sangat tidak setuju dengan pelepasan subsidi BBM karena tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Baca juga: Subsidi Untuk Rakyat Adalah Tugas Utama Negara
“Sekarang yang diperlukan adalah, bagaimana Pemerintah itu harus berpikir keras, agar tak ada korupsi di dalam Negara ini. Semua kebijakan Negara harus ditujukan untuk kepentingan rakyat. Agar rakyat bisa menikmati pendidikan, dan juga rakyat bisa menikmati pekerjaan. Jadi walaupun misalnya, dengan mempertahankan subsidi, APBN harus merugi, tapi kalau masyarakatnya bisa menikmati, apa salahnya? Kalau misalnya tidak dicabut subsidi, lalu APBN menjadi tidak stabil, tapi masyarakat luas bisa menikmati, menurut saya tidak apa-apa! Karena stressing Pemerintah atau Negara ini haruslah pada kepentingan rakyat banyak, bukan pada angka-angka di APBN!” kata Didin kepada MySharing. Baca juga: Kepentingan Rakyat Harus Didahulukan, Bukan APBN

