Sulam pita menjadi tumpuan Ibu ini untuk melepaskan diri dari lilitan riba bank konvensional. Ini kisah salah satu UKM pemenang Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) dari Surabaya.

Menyulam pita menjadi barang kerajinan, bagi Siti Faiza bukan sekadar menyalurkan hobi. Ketrampilan tangan yang satu ini juga menjadi modal baginya untuk bangkit dari kesulitan. Pertama, ketika dia harus menghadapi kenyataan pahit, anaknya menyerah pada Sang Takdir pada 2013 setelah menderita kanker getah bening. Kedua, akibat harus mengeluarkan banyak biaya untuk mengobati sang buah hati, utangnya di salah satu bank swasta semakin membengkak.
Tak ada pilihan lain bagi ibu empat anak ini selain harus melanjutkan hidup. Setelah kepedihannya kehilangan seorang anak mulai terobati seiring berjalannya waktu, Faiza harus segera menyelesaikan pe er (pekerjaan rumah:red) nya yang lain, yakni membayar cicilan ke bank swasta tempat dia mengajukan pinjaman.
Faiza benar-benar tak menyangka, niatnya untuk mengembangkan usaha dengan memanfaatkan kucuran kredit dari bank swasta konvensional justeru menjadi ‘mimpi buruk’ berkepanjangan. Bagaimana tidak? Dia lalu mengisahkan, demi mengembangkan usahanya, wanita berjilbab ini mengajukan pinjaman ke bank sekitar Rp 225 juta. Pemilik kerajinan sulam pita bermerek Vizaaro ini sebetulnya sudah mengangsur sekitar Rp 100 juta lebih. Tapi angsuran pembayaran diakui mulai tersendat setelah anaknya menderita kanker getah bening.
Semua pembayaran angsuran saya yang sudah mencapai Rp 100 juta lebih itu dianggap hangus. Sebaliknya, jumlah utang saya dikembalikan ke nilai awal, dan saya diminta nyicil selama 15 tahun,” kata Faiza dengan mata berlinang.
“Setiap hari saya harus membeli obat untuk anak saya sebesar Rp 2 juta, belum termasuk bayar dokternya. Pengobatan itu berlangsung selama lima bulan. Saya hanya orang kecil, dengan biaya pengobatan sebesar itu darimana saya dapat uang? Mau nggak mau keuntungan dari usaha Vizaaro yang terpakai. Akhirnya pembayaran utang tersendat. Namun rupanya pihak bank tak mau tahu kesulitan saya. Semua pembayaran angsuran saya yang sudah mencapai Rp 100 juta lebih itu dianggap hangus. Sebaliknya, jumlah utang saya dikembalikan ke nilai awal, dan saya diminta nyicil selama 15 tahun,” kata Faiza dengan mata berlinang.
Faiza tak kuasa melawan keputusan bank swasta yang sepihak tersebut. Meski dirasakan sewenang-wenang, mau tidak mau wanita kelahiran 26 Agustus 1960 ini dengan berat hati mengangsur.
“Itu sebabnya sistem penjualan produk saya ubah. Dulu saya mengedepankan menjual produk dengan merek saya sendiri yakni Vizaaro. Namun, dengan beban utang sebesar itu saya harus realistis. Saya lebih mengedepankan terima pesanan. Yang penting tiap hari ada order yang masuk. Para mitra membawa produknya sendiri, seperti mukena, jilbab, baju dan sebagainya. Setelah mendapat sentuhan sulam pita saya, mereka menjual kembali dengan menggunakan merek mereka,” paparnya.
Tak masalah bagi Faiza, jika produk-produk yang berhiaskan sulaman pita dari karyanya memakai merek mereka sendiri. Bagi dia yang terpenting usahanya terus berjalan. Karena dia harus menghidupi karyawannya yang berjumlah 12 orang, belum lagi dia harus membayar kewajibannya kepada bank.
Mulai dari 1987
Kiprah Faiza menggeluti keterampilan sulam pita dimulai sejak 1987. Perjalanannya untuk membesarkan Vizaaro juga tidak mudah. Dengan modal awal Rp 500 ribu dan satu unit mesin jahit, Faiza ke Jembatan Merah Plaza Surabaya untuk menawarkan hasil karyanya berupa kerudung dengan hiasan sulam pita. Namun sampai lelah, tak ada satu pemilik toko pakaian muslim yang menunjukkan rasa tertarik.
Ketika hampir putus asa dengan usahanya, Faiza tiba-tiba ada yang memanggil. Ternyata salah satu pemilik toko yang sempat dia tawari ada yang memberinya kesempatan. “Dia mencoba memajang karya saya, ternyata laku,” katanya. Semenjak itu usahanya berjalan bahkan terus berkembang.
Pada 2008, dia mengikuti event Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA). Tak mudah bagi Faiza untuk merebut posisi juara. Maklum saja, karena levelnya nasional tingkat persaingannya cukup ketat. Semua peserta melalui berbagai tahapan seleksi yaitu administratif, survei tempat usaha, dan wawancara.
Program ini merupakan komitmen Citi Group dalam memberikan apresiasi kepada para wirausahawan mikro yang kreatif, memiliki kepedulian sosial, dan berdaya juang tinggi.
Jumlah peserta yang mengikuti seleksi awal mencapai 2.500 orang. Dari jumlah itu disaring menjadi 500 peserta. Dari jumlah ini masih dirampingkan lagi menjadi 250 peserta hingga akhirnya ‘diperas’ tinggal 10 peserta. Tak dinyana, dari 10 besar itu ada nama Faiza. Istri dari Nur Prayitno ini meraih posisi Juara III.
“Waktu itu Ibu Dewi Motik terheran-heran melihat karya saya. Dia memuji produk saya bagus tapi kok tidak mahal,” ungkapnya.
Apa kelebihan produk sulam pita miliknya? Selain lebih rapi, dia menjamin produk-produk handmade-nya bisa bertahan sampai tiga tahun.
“Saya pernah melihat di salah satu toko busana terkenal di Sidoarjo yang produk sulam pitanya tidak rapi dan kotor tapi harganya lebih mahal dari punya saya,” cetus wanita yang berprinsip maju bersama karyawan ini.
Pada tahun yang sama, usahanya berkembang pesat. Dengan jumlah karyawan 25 orang, Vizaaro mampu meraup pendapatan bersih Rp 15 juta-Rp 20 juta per bulan. Dalam menjalankan usahanya, Faiza selalu mendidik para karyawannya agar terus mengembangkan keterampilan. Selama bekerja di tempat itu, dia ingin karyawannya benar-benar mengasah kemampuan dan keterampilan yang ada, mulai dari bordir, menjahit, dan sulam pita.
“Karena saya ingin suatu saat nanti mereka bisa membuka usaha sendiri melalui keterampilan yang dia kuasai,” kata Faiza yang mengaku berhasil ‘melepas’ lima karyawannya yang kini juga membuka usaha serupa.
Sepeninggal anaknya yang terkena kanker, usaha bordir, konveksi dan sulam pita milik Faiza ini sempat tersendat-sendat. Bukan karena tidak ada order masuk, tetapi lebih disebabkan menghadapi keterbatasan dana. Akibatnya, pendapatan merosot tinggal Rp 5 juta per bulan.
Namun bukan Faiza bila menyerah pada keadaan. Selangkah demi selangkah dia mencoba untuk bangkit dengan segala keterbatasan yang dia miliki. Dan senyum Faiza kembali merekah, karena rezeki kembali mengalir.
“Selama Ramadan dan Lebaran kemarin pendapatan saya kembali ke angka Rp 15 juta,” katanya dengan penuh syukur.
Memang tak ada hal yang sia-sia bagi orang yang jauh-jauh membuang rasa putus asa. Kini, melalui usaha bordir, konveksi dan sulam pitanya, Faiza optimistis mampu mewujudkan cita-citanya yang sempat tersendat.

