Sumpah Pemuda, Tonggak Sejarah Penting Indonesia

[sc name="adsensepostbottom"]

Kongres Sumpah Pemuda yang berlangsung 87 tahun silam menjadi salah satu tonggak sejarah penting menuju kemerdekaan Indonesia.

image
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, mengatakan tonggak sejarah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 tidak bisa dipisahkan dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. “Proses untuk menjadi negara Indonesia merdeka, salah satu tonggak pentingnya adalah Sumpah Pemuda,” kata Fadli dalam peringatan Kongres Sumpah Pemuda di Museum Sumpah Pemuda, Rabu (28/10).

Salah satu sudut di Museum Sumpah Pemuda. Foto: Museum Sumpah Pemuda

Menurutnya, walau masih dapat diperdebatkan menurut sejarah, kata Indonesia digunakan pertama kali oleh Perhimpunan Indonesia. Kemudian, WR Supratman menulis Indonesia Raya di Majalah Sin Po dan menyanyikannya di sini (Gedung Sumpah Pemuda) untuk pertama kali,” ujar Fadli.

Ia menambahkan tonggak sejarah Sumpah Pemuda merupakan hal penting. Pasalnya, dari peristiwa tersebut muncul inisiatif dari beberapa organisasi untuk bersatu merebut kemerdekaan, sehingga akhirnya sampai pada peristiwa proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Ia pun menyayangkan kekurangan yang terjadi sekarang ini persatuan nasional tidak dimaknai secara baru. “Kita melihat tantangan identitas sebagai bangsa yang besar, karena sejarah yang membentuk identitas. Kalau tidak ada masa lalu tidak mungkin ada hari ini dan kalau tidak ada hari ini tidak ada masa depan karena itu kita berutang pada tokoh-tokoh,” jelas Fadli.

Sementara, Seniman Taufik Ismail menyatakan apresiasinya terhadap Sumpah Pemuda sebagai peristiwa yang mempersatukan bangsa. Padahal, lanjut Taufik, saat itu Jawa merupakan suku mayoritas dan memiliki karya sastra dan bahasa yang berusia tua. Namun, suku Jawa kala itu tidak menekan agar bahasa Jawa digunakan sebagai bahasa persatuan. “Ada 583 pohon bahasa di Indonesia tapi pada 28 Oktober 1928 semuanya bersatu dalam bahasa Indonesia. Ini hadiah dari Allah SWT yang luar biasa,” cetus Taufik.

Menurutnya, hal seperti ini tidak terjadi dimanapun di seluruh dunia. Semangat demokrasi barat yang menghitung jumlah mayoritas tidak dipakai pada waktu itu. “Padahal, bisa saja yang mayoritas hadir pada waktu itu, yaitu suku Jawa yang bahasanya paling banyak dipakai dan ditulis, menekan. Tapi, itu tidak terjadi. Alhamdulillah,” kata Taufik penuh syukur. Indonesia yang memiliki 17 ribu pulau, 659 suku bangsa dan 583 pohon bahasa pun menerima satu Indonesia dan sudah lebih dari delapan dekade ini menerima Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.