Suni dan Syiah adalah saudara. Pembedanya, Syiah percaya imamiah bagian dari Ushuluddin, Suni soal imamiah sebagai nonsprinsipil (furu).

Setelah mengunjungi Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Grand Syeikh Al-Azhar Ahmad at-Thayyeb menyambangi Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jalan Proklamasi No. 55, Jakarta Pusat, Senin (22/2).
Dalam kunjungannya, Syeikh Al-Azhar Ahmad at-Thayyib mengatakan bahwa umat Islam yang berakidah Ahlussunah bersaudara dengan umat Islam Syiah. Dan perbedaan pendapat yang muncul seharusnya tidak menjadi benih pertikaian. “Suni dan Syiah adalah suadara, hentikan konflik,” kata Syeik, dalam pidatonya di kantor MUI Pusat, Jakarta, Senin (22/2), seperti dalam rilis yang diterima MySharing, Selasa (23/2).
[bctt tweet=”Suni dan Syiah adalah suadara, hentikan konflik!”]
Menurut Grand Syeikh Ath-Thayyeb, Islam mempunyai definisi yang jelas yaitu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad Saw adalah utusan Allah, menegakkan salat, berpuasa, berzakat, dan beribadah haji bagi yang mampu. “Mereka yang melaksanakan lima hal pokok ini maka dia Muslim. Kecuali mereka yang mendustakan,” tegasnya.
Dalam pandangan Grand Syeikh, bahwa Syiah beragama namun mereka adalah saudara. Mereka tetap Muslim, sehingga kita tidak bisa serta merta menghakimi mereka keluar Islam hanya karena satu perkara.
”Sebagian kecil menganggap mencaci maki sabahat berarti keluar dari Islam, tetapi bagi Kami Al-Azhar tidak. Cacian terhadap sahabat bentuk kesesatan, maksiat, dan berdosa, tapi tidak serta merta keluar dari Islam. Kita tidak bisa kafirkan mereka,” tegas Grand Syeik.
Menurutnya, kalau kalau kita membaca kitab-kitab Syiah klasik, mayoritas mereka menghormati para sabahat Rasulallah. Suni dan Syiah adalah sama-sama sayap Islam. Ketika, kita bicarakan Syiah yang moderat, ada Imamiyah, Zaidiyyah, yang memiliki kedekatan dengan Suni. Tetapi ada sekte menyimpang dan sesat yang mengangkat isu tasyayyu’ yang mengakui risalah selain untuk Nabi Muhammad SAW. “Mereka itu menyalahi apa yang konstan dalam agama dan bisa dinyatakan keluar Islam,” kata Syeikh Al-Azhar.
Namun demikian, Grand Syeikh menilai, sesungguhnya tidak ada masalah prinsip yang menyebabkan kaum Syiah keluar dari Islam. Bahkan, banyak ajaran Syiah yang dekat dengan pemahaman Suni. Perbedaan antara Sunni dan Syiah dalam pandangan Syeikh Thayyeb hanya pada masalah imamiah. Syiah percaya imamiah bagian dari Ushuluddin, Suni soal imamiah sebagai masalah nonsprinsipil (furu).
Menurut dia, perbedaan pendapat yang muncul seharusnya tidak menjadi benih pertikaian. Terpenting, kita tidak boleh menganggap orang lain salah, dan mengklaim pendapat kita adalah paling benar.
Untuk itulah, pentingnya rekonsiliasi antarulama Islam agar tercipta kesejukkan di tengah-tengah kegamanagn umat. “Saya percaya selama ulama tidak bersatu terlebih dahulu, maka tidak ada harapan untuk menghentikan konflik Syiah-Suni,” tegas Grand Syeikh.

