Tawaf mengajarkan Syahrial arti kesabaraan dan keiklasan setulusnya.
Syahrial, Ketua Koperasi Syariah Amanah Muttaqien Pekayon berkisah perjalanan umrah ke tanah suci pada tujuh tahun lalu. Kala itu, dia menunaikan ibadah umrah di bumi Mekkah bersama teman kantornya.
Syahrial bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk jadi tamu Allah SWT, suatu pengalaman pertama menginjakkan kaki di rumah-Nya. ”Perasaan saya berbaur bahagia, sedih dan terharu serta tak henti-hentinya mengucapkan syukur di depan kabah,” ujar Syahrial kepada MySharing saat ditemui usai peresmian 212 Mart Pekayon, Bekasi Selatan, Kamis (25/5).
Perjalanan umrah Syahrial bermula dari Madinah, dan seterusnya ke Mekkah. Ketika berada di Madinah, Syahrial merasa sangat dekat dengan baginda Rasulullah saw. Mutawif yang mengiringi perjalanan umrah jamaah umrah menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah saw dan para sahabatnya.
”Madinah mengajarkan saya arti cinta pada Rasulullah saw. Baginda Rasulullah selalu memupuk kasih sayang dan cinta kepada sahabatnya dalam memperjuangkan Islam,” ujar Syahrial.
Berlanjut ke Mekkah, dengan perasaan berdebar untuk mengunjungi rumah Allah SWT, Syahrial pun tak henti-hentinya bersalawat dan zikir. Singgah bermiqat di Bir Ali untuk menautkan niat umrah. Selepas itu, lalu ke hotel tempat menginap untuk membersihkan diri.
Kemudian dia bersiap lagi untuk melakukan tawaf di Masjidil Haram. Menuju Masjidil Haram, kata Syahrial, agak jauh dari hotel tempatnya menginap. ”Maklum, saya pakai travel paket murah. Jadi hotel tempat nginap agak jauh dari Masjidil Haram. Masjidil Haram jaraknya agak jauh dengan jalanan agak menanjak. Tapi nggak apa-apa banyak ibadahnya,” ujarnya.
Pertama kali melihat Masjidil Haram, masjid terbesar di dunia, Syahrial pun terus bertakbir. ”Allahu Akbar, Alhamdulillah dengan izin-Nya, saya bisa sampai di Bumi Mekkah. Hati saya meruntuh sedih baur gembira kagum melihat rumah Allah SWT, kabah berada di depan mata saya,” ujar Syahrial, yang juga telah berhaji pada 2013.
Syahrial bersama jamaah lainnya menjalankan tawaf dengan balutan doa-doa bermunajat mengharapkan Allah SWT mengampunkan semua dosa-dosa yang telah diperbuatnya.
Setelah tawaf, Syahrial mengerjakan saie di antara Safa dan Marwah, dan diakhiri dengan tahallul. Syahrial pun mengucap syukur, ibadah umrah pertama kali bagi dirinya dapat dilaksanakan dengan khusus. ”Alhamdulilah lega hati saya melengkapi semua rukun umrah, saat itu,” ujar Syahrial.
Syahrial berkisah lagi, bahwa banyak tempat-tempat ziarah yang telah disinggahinya sepanjang berada di Madinah dan Mekkah. Salah satunya berdoa di Raudhah, salah satu taman-taman surga.
”Doa khusus untuk pribadi saya, keluaraga saya dan umat Muslim Indonesia supaya ada perubahan-perubahan,” kata Syahrial.
Berada di Bumi Mekkah, kata Syariah, ibarat manusia kerdil berlomba-lomba ingin memberikan ibadah terbaik untuk Allah SWT. Berhimpit-himpit dalam jutaan manusia saat tawaf mengajari arti kesabaran dan keiklasan setulusnya.
Terpenting, kata Syahrial, jangan pernah berkata-kata yang tidak baik dalam hati maupun terucap langsung ketika di Mekkah, nanti Allah SWT akan berlaku. Ini juga pesan dari banyak jamaah yang telah menginjakkan kaki di Mekkah.
Berkata tidak baik, pernah dilakukan teman rombongan umrah Syahrial. Kala itu, kata Syahrial, dari bandara terus mampi ke suatu tempat yang lokasinya didapati jorok dan bau.
”Dia bilang, kok bau banget sih. Pas nginap di hotel, sepanjang malam dia kebauan. Jadi hendaknya kita selalu menjaga hati dengan niat ibadah yang tulus dan iklas, jangan berkata tidak baik,” pungkas Syahrial.


