bank syariah
Ilustrasi gerai bank syariah. Foto: Bank Syariah Bukopin

Tabungan Bank Syariah Tumbuh Lebih Tinggi

[sc name="adsensepostbottom"]

Menilik data Statistik Perbankan Indonesia, April 2014. Antara Januari 2013 hingga Januari 2014, pertumbuhan tabungan bank syariah tumbuh lebih besar daripada bank konvensional. Perbankan syariah menumbuhkan 27% tabungannya sementara konvensional hanya 10%. Di sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) bank syariah tumbuh 23% sedangkan bank konvensional tumbuh 12%.

Sebelumnya, pada Dialog Ekonomi Syariah ‘Optimisme di Tengah Ketidakpastian Global’ di Hotel Sofyan, Jakarta, Kamis (6/3/2014), Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Edy Setiadi mengatakan, rekening bank syariah bertumbuh 40% pada 2013 dengan penyumbang terbesar dari produk Tabungan yang mencapai 12,7 juta rekening. “Penetrasi rekening tabungan ada 12,7 juta, itu tumbuh 17% dari 10,8 juta. Sedang rekening pembiayaan 3 jutaan, naik 40%, jadi total 16 juta. Tapi tetap nominal tersebut kecil,” kata Edy.

dpk
Perbandingan Tabungan dan DPK pada Bank Syariah dan Bank Konvensional. Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, April 2014 (diolah).

Majalah Sharing pernah membahas secara khusus mengenai preferensi menabung masyarakat terhadap bank syariah dengan terlebih dahulu melakukan metode Focus Group Discussion (FGD). Namun lebih spesifik ke kaum minoritas Tionghoa. Menjadi menarik, karena perbankan syariah citranya lekat sebagai bank khusus kaum Muslim pada edisi 72 (Desember 2012).

Preferensi berbank syariah, bagi kaum minoritas Tionghoa tidaklah berbeda dengan masyarakat pada umunnya. Kurang lebih begitu hasil dari FGD dengan praktisi dan pengamat bank syariah Tanah Air. Dus, cara memasarkan produk bank syariah, misalnya tabungan juga sebenarnya memiliki strtagei yang khas. Direktur BNI Syariah, Imam T. Saptono, salah satu peserta FGD menilai, setidaknya bank syariah harus bisa menstratifikasi layer nasabah sehingga dapat membantu strategi pemasarannya. Menurutnya ada tiga layer nasabah: customer of the employee, customer of the product, dan customer of the bank. “Kalau customer of the employee, kayaknya sama di mana mana. Kalau kita bisa masuk masuk ke komunitas seperti kita diskusikan ini, mau dia bank hantu blau pun, pasti engaged. Kalau sudah menjadi customer of the product, maka apapun, asalkan produk syariah, nasabah akan ambil. Lalu ending-nya adalah customer of the bank, misalnya nasabah maunya BNI Syariah saja”. Nah, untuk mengangkat sampai ke strata customer of the product saja, diperlukan Mandatory Requirement terpenuhi dulu, baru kemudian Necessity Requirement, fitur untuk mengangkatnya menjadi customer of the product,  baru terbuka jalan untuk menjadi customer of the bank”, kata Imam menjelaskan.

Salah Satu Direktur Bank Mega Syariah Indonesia saat itu, Ani Murdiati sepakat dengan Imam T. Saptono mengenai tiga layer nasabah ini. Tiga layer ini juga bisa dioptimalkan dalam menyasar segmen Non Muslim keturunan Tionghoa. Ilustrasinya, jika sudah sampai ke customer of the product,  nasabah akan mudah masuk meskipun tidak ditawarkan oleh pemasar bank. Namun dari semua itu, yang terpenting dalam analisanya adalah penerimaan masyarakat Indonesia terhadap bank syariah dan bagaimana mengoptimalkan tiga layer tersebut untuk membangun pemahamannya.

“Saat ini menjadi pe-er kita bersama bagaimana membuat masyarakat bisa menerima keberadaan bank syariah dan tidak tergantung kepada customer of the employee tadi. Apalagi jika sudah masuk ke customer of the bank, berarti penerimaan terhadap bank syariah sudah tercapai penuh di Indonesia.

Bicara penerimaan, kesyariahan sebuah bank syariah juga menjadi tolok ukur. Bank Syariah Mandiri (BSM) adalah salah bank syariah terbesar di Indonesia yang sukses berpenetrasi bisnis di daerah-daerah Non Muslim. Direktur Utama BSM, Yuslam Fauzi dalam kesempatan terpisah untuk laporan di edisi tersebut, menjelaskan, bahwa kesyariahan yang BSM kembangkan adalah  yang bukan parokial, dan juga  bukan partikular. “Syariah yang kami kembangkan adalah hal-hal yang semua orang pasti suka, misalnya pelayanan  yang baik, dan seterusnya. Namun bukan hanya itu, kita juga menerapkan governance yang baik,  dengan tidak ada menerima-nerima amplop, atau gratifikasi.  Kita sangat ketat menjaga hal-hal semacam ini, sehingga BSM bisa disukai oleh semua kalangan,” kata Yuslam menjelaskan.

Ada beberapa artikel lain di edisi tersebut terkait topik tabungan bank syariah secara umum dan memasarkan bank syariah ke kaum minoritas secara khusus. Anda dapat mengunduh majalah sharing edisi 72, Desember 2012 untuk membaca artikel lengkapnya di bawah ini:

[sociallocker id=”1980″] Download Bank Syariah Menyasar Pasar Tionghoa[/sociallocker]

Artikel ini adalah jawaban atas pertanyaan saudara Satriya Knappe En Slimme (Satriya Ismujati) di Fan Page Majalah Sharing di Facebook.