(Ki-ka) : Irwan Ahmett (seniman), Danny Wicaksono (kurator), Kepala Bekraf Triawan Munaf, dan Deputi Bidang Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simanjutak, pada di dia.lo.gue Kemang, Jakarta, Kamis (1/9).foto:MySharing.

Tahun 2019, Ekonomi Kreatif Targetkan Sumbang Kontribusi 12 Persen

[sc name="adsensepostbottom"]

Untuk mencapai target konstribusi tersebut, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengembangkan sektor seni rupa, desain produk dan arsitektur.

Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf menyatakan, bahwa desain, produk arsitektur, dan sekaligus seni rupa adalah bagian dari suksektor ekonomi kreatif.

Keikutsertaan Indonesia melalui dukungan penuh pemerintah, dalam hal ini Bekraf, merupakan implementasi nyata pemerintah terhadap keseriusan dalam mengembangkan ekonomi kreatif nasional.

“Dalam setahun terakhir ekonomi kreatif telah menyumbang Rp 642 triliun dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. “Saat ini, baru ada tiga sub sektor yang memberikan konstribusi besar, yaitu kuliner 32,4 persen, fesyen 27,9 persen, dan kerajinan 14,88 persen,” papar Triawan di Jakarta, pekan lalu.

Menurutnya, untuk mencapai target konstribusi ekonomi kreatif terhadap PDB sebesar 12 persen pada 2019, maka subsektor lain harus dikembangkan termasuk di dalamnya seni rupa, desain produk, dan arsitektur.

Sebagai upaya dari program promosi dan publikasi produk ekonomi kreatif Indonesia di luar negeri, Bekraf memfasilitasi penuh para seniman, arsitek, dan desainer yang terpilih untuk mengikuti London Design Biennale (LDB) 2016 di Somerset House, Inggris yang diselenggarakan pada 7-27 September tahun ini.

“Diharapkan  dapat meningkatkan citra dan potensi ranah seni di Indonesia, sekaligus meningkatkan kesadaran dan apresiasi serta bakat individu dalam rangka menciptakan lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengekploitasi daya kreasi dan daya cipta,” pungkas Triawan.