(Ki-Kan) Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam, (CIBEST) IPB Irfan Syauqi Beik, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Yuli Pujihardi, dan CEO Muslimarket.com Pramadita Tasmaya.

Tangkap Peluang, Muslimarket Harus Tingkatkan Pemasaran

[sc name="adsensepostbottom"]

Meski ekonomi melemah, industri kreatif tetap tumbuh. Bahkan pada 2015 ini volume industri kreatif melejit menjadi Rp 900 triliun. Ini peluang bagi Muslimarket untuk bisa mengambil porsi lebih besar.

(Ki-Kan) Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam,   (CIBEST) IPB Irfan Syauqi Beik,   Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Yuli Pujihardi, dan CEO Muslimarket.com Pramadita Tasmaya.
(Ki-Kan) Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam, (CIBEST) IPB Irfan Syauqi Beik, Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Yuli Pujihardi, dan CEO Muslimarket.com Pramadita Tasmaya.

Direktur Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam (CIBEST) IPB Irfan Syauqi Beik memaparkan, dari analisis Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), volume industri kreatif nasional pada 2014 mencapai Rp 700 triliun dan pada 2015 saat ekonomi lemah seperti ini, potensinya bahkan melejet menjadi Rp 900 triliun.

”Indonesia dikenal sangat kreatif. Ini peluang, meski ekonomi melemah industri kreatif tetap tumbuh. Tinggal, bagaimana bisa dimanfaatkan atau tidak,” kata Irfan kepada MySharing, saat ditemui usai soft launching Muslimarket.com di Jakata, belum lama ini.

Menurutnya, Muslimarket bisa mengambil porsi besar ini. Muslimarket pun dituntut untuk punya porsi yang jelas. Dengan fokus pada segmen Muslim, Muslimarket harus mengakselerasi dan meningkatkan eskalasi pemasaran menjadi lebih besar. Ini menurutnya, teroposan Muslimarket yang pas di momen lebaran. Tinggal bagaimana nanti pengembangan sistem teknologi, pengiriman, ketepatan, pembayaran dan lainnya.

Irfan menilai, Muslimarket harus siap saat terjadi peningkatan transaksi dan menjamin ketersediaan barang yang cukup sehingga tidak terjadi kekurangan pasokan. “Kekurangan pasokan akan berpengaruh pada reputasi dan kalau jatuh akan berat untuk bangkit lagi,” tukasnya.

CEO Muslimarket.com Pramadita Tasmaya menuturkan, Muslimarket muncul dilatarbelakangi besarnya populasi Muslim Indonesia dan sekitar 30-50 persennya adalah kelas menengah, tapi tidak ada laman jual beli dari dan untuk Muslim. Muslimarket harus menjadi barometer pasar daring Muslim nasional dan regional. “Selain membuat entitas daring, kami ingin juga memberdayakan. Bisnis yang tidak hanya berorientasi laba, tapi juga berkah bagi semua,” kata pria yang disapa Riel ini.

Riel melihat bahwa penetrasi jual beli daring masing satu persen, padahal potensinya diprediksi bisa mencapai 24 miliar dolar Amerika Serikat (AS) pada 2016.

Menurutnya, pengusaha Muslim, terutama fashion banyak memasarkan produknya melalui media sosial. Itu cukup berhasil, tapi terpencar dan sendiri-sendiri. Muslimarket, ingin menjadi wadah besar dimana semua orang bisa menjual dan membeli barang apa saja yang halal dan sesuai syariat Islam. “Ada perubahan pola pikir. Kelas menengah Muslim rindu banyak hal yang syariah. Di kanal ini, kerinduan itu coba dipenuhi dengan pasokan barang-barang yang bagus dan keren,” ujarnya.