Jangan anggap remeh pelepah pisang. Jika diolah sepenuh hati, bisa jadi bisnis, bahkan diajukan untuk menantang pasar bebas.
Seonggok pelepah pisang bagi sebagian banyak orang boleh jadi tak lebih sebagai limbah. Tetapi, di tangan Supartini, pelepah pisang dapat diubah menjadi barang kerajinan yang bukan saja unik, tapi juga bernilai ekonomis tinggi.
Memasuki ruang tamu kediaman wanita yang akrab disapa Tien Soebandiri di Jl Ciliwung Surabaya ini, kita akan terkesima. Bagaimana tidak? Berbagai bahan kerajinan dari bahan pelepah menghiasi dinding, meja, dan rak yang ada di ruangan tersebut. Ada boneka, rangkaian bunga kering, lukisan, bros dan pernak-pernik hiasan lainnya.

Sebagian besar menggunakan bahan baku pelepah pisang, Namun ada juga dari bahan lain, seperti kulit jagung (kelobot, red), daun kering, atau kertas semen. Bahkan Tien bisa menyulap bahan kepompong kering, kulit domba dan kulit ular menjadi aksesoris menarik.
Membuat aneka kerajinan tangan memang sudah menjadi hobi wanita kelahiran Jogjakarta 14 Maret 1945 ini. Selain didorong bakat, Tien rajin mengikuti berbagai kursus ketrampilan.
“Kalau suami saya sedang tugas ke luar negeri maka saya ikut kursus. Yang pernah saya ikuti kursus tata rias pengantin, merangkai bunga kering, dan sebagainya. Bahkan saya sampai ikut kelas penguji lho,” papar Tien saat berbincang dengan MySharing.
Dari berbagai kursus yang diikutinya, dia kemudian mempraktikkan barang-barang tak berharga tersebut menjadi kerajinan cantik dan menarik.
”Pada dasarnya saya suka berkreasi dengan kerajinan dari bahan apa pun. Kalau kelobot atau kulit jagung dan daun kering sudah sering, saya iseng coba pelepah pisang waktu itu,” kata wanita dengan empat cucu ini.
Idenya sederhana, menjadikan pelepah pisang sebagai produk kerajinan khas lokal yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. ”Suami saya kalau ke luar negeri sering beli kerajinan khas negara tersebut. Kebanyakan berupa boneka. Saya terinspirasi dari situ, menjadikan pelepah pisang sebagai boneka yang mudah ditenteng wisatawan,” kata wanita berusia 69 tahun ini.
Menurut ibu empat anak ini, ide membuat kerajinan berbahan pelepah pisang, sebenarnya hanya sekadar coba-coba. Sebelumnya, ia membuat boneka dari kulit jagung yang sudah dikeringkan. Ide ini disampaikan kepada Nanik, salah seorang mantan murid yang kini jadi rekan kerjanya.
“Ketika sama-sama kami praktikkan, hasilnya ternyata memang bagus. Sejak itu, kami mengembangkan kerajinan ini,” papar Tien.
Awalnya, ia hanya bermodal satu gedebok pisang yang sudah dikeringkan untuk diuji coba. Bahannya, kawat sebagai kerangka, lem dan benang untuk rambut. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm, kerangkanya dari botol. Baju boneka bisa di-mix pelepah pisang kering, kelobot, kepompong, dan daun kering. Untuk rambutnya, bisa terbuat dari serabut jambe atau potongan tali karung. Lebih lanjut Tien mengungkapkan, sebenarnya membuat boneka pelepah pisang prosesnya sederhana. Namun, dalam pengerjaannya dibutuhkan keterampilan untuk menghasilkan boneka yang bagus. Yang jelas harus telaten. Kalau tidak, hasilnya kelihatan kasar.
”Saya bikin 2–4 boneka sebagai contoh. Setelah direspons, barulah bikin dalam jumlah banyak. Dulu, produk saya banyak dibeli konsumen dari luar seperti Jepang dan negara-negara di Eropa, tapi tidak ekspor langsung melainkan lewat buyer dari Jakarta yang mengirimkan ke sana,” ujar Tien.
Sampai Luar Negeri

Dikenalnya produk Tien handicraft ini sampai ke ‘luar’ tak lepas dari kiprah mantan Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan Bunga Buatan (Aspringta) Surabaya periode 1996-2000 dan 2000-2004 ini yang rajin menggelar pameran saat mendampingi suaminya, Prof. Dr. Soebandiri, SpPD, KHOM berkunjung ke berbagai negara. Tempat yang pernah dituju antara lain Bangkok, Malaysia, Jepang, Yunani, Mesir, Belanda, Italia dan Spanyol.
“Jangan salah, saya sering mengadakan pameran atas prakarsa sendiri dibantu teman-teman dari tim saya. Jadi bukan dibiayai pemerintah. Saat suami tengah melaksanakan tugasnya, maka saya dan teman-teman ikut pameran yang kebetulan diadakan di negara tersebut,” paparnya. Sekadar diketahui nama Tien merujuk pada inisial dia dan anggota timnya, yakni Supartini (T), Ida (I), Edi (E) dan Nanik (N).
Bagaimana sambutan pasar luar? “Sering laris, tapi pernah juga produk kami hanya menjadi tontonan masyarakat sana. Mereka terkagum-kagum karena bahan yang kami gunakan berasal dari bahan limbah alam,” jelas wanita yang pernah meraih “Pemenang Penghargaan Karya Kerajinan Terbaik Kategori Cindera Mata Pameran Handycraft 2005” ini.
Meski kadang pulang dengan tangan hampa, bukan berarti dia dan timnya merasa kecewa. Bagi Tien, penghargaan orang tidak harus diwujudkan dengan membeli barang kerajinannya.
“Bagi saya, pujian dari pengunjung pameran itu juga bentuk penghargaan,” ucap Tien yang mengaku tidak pernah mendata pasti omzet bisnis nya per bulan.
Alasannya, keputusannya untuk terjun ke dunia handicraft tidak semata-mata didasari oleh materi. “Saya lebih pada menyalurkan hobi,” ucapnya merendah.
Itu sebabnya, dia juga tidak ngoyo untuk terus memproduksi kerajinan dari bahan olahan ini. “Kalau ada order atau mau mengikuti pameran, kami baru menyiapkan barangnya. Tidak semuanya dibuat seketika itu, karena kami masih punya stok cukup untuk dipamerkan,” imbuhnya.
Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka limbah ini untuk dijadikan sebagai suvenir. Untuk kebutuhan gedebok pisang, ia pesan langsung dari Jogyakarta, Mojokerto, dan Sidoarjo.
Untuk boneka yang kecil-kecil setinggi 20 cm, harganya berkisar Rp 50.000–Rp70.000, sedangkan yang berukuran besar antara Rp 100.000–Rp 150.000. Ada juga bros dari kulit ular, yang dipatok kisaran Rp 10 ribu-Rp 150 ribu.
Tien mengaku saat ini order yang diterima Tien Handicraft tak sederas awal tahun 2000 an. Meskipun demikian dia dan timnya bertekad tak berhenti berkreasi.
Tien berharap upayanya yang terus mengembangkan beragam kerajinan tangan dari bahan alam bukan hanya bisa menyelamatkan lingkungan tetapi juga dapat membuat masyarakat Indonesia mau menghargai karya bangsa sendiri. Semangat itu penting mengingat tahun depan bangsa ini menghadapi persaingan “pasar bebas”.

